Menyelami Aplikasi Jejaring Sosial dengan Chat Audio

Suara manusia selalu menjadi perantara menarik berosialisasi, apa pun mediumnya. Clubhouse sudah membuktikannya yang segera disusul Twitter Spaces, Spoon, dll.

Asian girl with cellphone – pic source: http://www.stocksy.com/81897

Berbagai bagian dari tubuh manusia, termasuk apa yang dihasilkan seperti suara, selalu menjadi hal menarik bagi sesama manusia dan bisa menjadi sarana bersosialisasi. Suara bisa menjadi alat bersosialisasi, bahkan membuat jejaring sosial di ranah internet.

Ya, jejaring sosial di ranah internet tidak melulu Facebook, Twitter, dan Instagram. Clubhouse menunjukkannya dengan fitur yang lebih minimal dan hanya berbasis suara manusia untuk membentuk pengalaman pelanggan. Hanya suara dan tanpa kamera sehingga yang berbicara tidak perlu memusingkan kontak mata, busana yang dikenakan, atau sedang berada di mana.

Popularitas kilat Clubhouse salah satunya adalah waktu peluncuran yang sangat tepat, yaitu Maret 2020 saat warga dunia baru saja “dirumahkan” akibat pandemi COVID-19. Dimulai dengan pengguna yang hanya berbasis undangan eksklusif, Clubhouse dengan segera membesar dan menarik pendanaan modal ventura. Alpha Exploration Co., perusahaan di belakang Clubhouse, mendapatkan USD 12 juta dari Andreessen Horowitz setelah dua bulan meluncur. Sekian waktu kemudian, Clubhouse bernilai USD 100 juta meski baru memiliki 1500 pengguna (yang berasal dari lingkaran elit).

Waktu terus berjalan dan banyak orang yang diam di rumah untuk belajar, sekolah, dan bekerja, sehingga Clubhouse menjadi salah satu jalan bagi mereka yang mencari alternatif bersosialisasi selain Facebook atau Twitter. Per April 2021, Clubhouse sudah bernilai USD 4 milyar dan saat artikel ini ditulis, September 2021, Clubhouse sudah menjadi salah satu aplikasi terpopuler di dunia, sudah melebarkan pelantar dari semula hanya di iOS dan sekarang Android, dan kompetitor yang dibekingi nama-nama besar seperti LinkedIn, Spotify, Reddit, Twitter, dan Facebook, segera bermunculan.

Spotify Greenroom

Pada bulan Maret 2021, Spotify mengumumkan telah mengakuisisi perusahaan di balik aplikasi audio yang berfokus pada olahraga, Locker Room, untuk membantu mempercepat masuk ke pasar audio langsung. Tak lama pasca akuisisi, Spotify meluncurkan Spotify Greenroom, kemungkinan saingan Clubhouse, yang memungkinkan pengguna Spotify di seluruh dunia untuk bergabung atau menyelenggarakan ruang audio langsung, dan secara opsional mengubah percakapan itu menjadi podcast.

Aplikasi Spotify Greenroom pada dasarnya adalah pembaruan aplikasi Locker Room. Untuk bergabung dengan Spotify Greenroom, pengguna Spotify dapat masuk dengan informasi akun Spotify mereka saat ini. Setelah masuk, para pengguna menjalani pengalaman orientasi yang dirancang untuk menghubungkan mereka dengan minat yang sesuai. Hingga kini, Spotify Greenroom masih dapat dikategorikan dalam tahap uji coba. Namun Spotify jelas menjalani uji coba ini dengan sangat serius dengan perspektif jangka panjang.

Twitter Spaces

Pada Maret 2021, Twitter Spaces masih dalam versi beta, dengan perbedaan fitur antara pengguna Android dan pengguna iOS memiliki akses ke lebih banyak fitur saat ini. Seiring berkembangnya versi beta, fitur-fitur antara Android dan iOS semakin sama, antara lain baik pengguna iOS dan Android memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan ruang mereka sendiri, dengan pembatasan jumlah orang yang dapat berbicara, termasuk tuan rumah, per “Space”.

Twitter Space bersifat publik, artinya siapa pun dapat bergabung sebagai Pendengar tanpa batasan jumlah, dan bukan hanya pengikut Twitter. Kita dapat mengirim undangan ke Space dengan membagikan tautan, baik itu di tweet, pesan langsung, atau di pelantar pesan lainnya. Tuan rumah memutuskan siapa yang akan berbicara dan kapan dalam “Space”, sehingga tidak menjadi bebas untuk semua.

Instagram Live Rooms

Facebook sepertinya menanggapi keberadaan Clubhouse dengan sangat serius dan karenanya, membuat kloning Clubhouse tidak hanya di Facebook, tetapi juga Instagram. Dalam Instagram Live Rooms, terdapat beberapa fitur tambahan yang meniru aplikasi audio. Meski dasar-dasar Instagram Live tidak berubah, tampilan dan fiturnya menjadi lebih sosial sehingga memungkinkan pembuat konten berinteraksi dan berkolaborasi dengan para pengikut.

Lalu, daripada dibatasi untuk melakukan siaran langsung hanya dengan satu orang lain dalam satu “Room”, Live Room memungkinkan kita meningkatkan jumlah tersebut menjadi tiga orang lainnya. Fitur kiriman blog mendorong pengguna untuk “memulai acara bincang-bincang, menyelenggarakan jam session, atau berkreasi bersama dengan artis lain, mengadakan tanya jawab, atau tutorial yang lebih menarik dengan pengikut, atau hanya bergaul dengan lebih banyak teman.”

Instagram Live Rooms juga memiliki aspek monetisasi, dengan Live viewers dapat membeli lencana untuk menjadi pemandu (host), sementara fitur interaktif lainnya adalah live Shopping dan live Fundraisers yang memberikan lebih banyak peluang untuk merek dan bisnis.

Penutup

Masih ada nama-nama kompetitor lainnya selain yang sudah disebutkan di atas. Kira-kira, berapa lama Clubhouse dapat bertahan menghadapi gempuran para pesaingnya tersebut? Kemudian dalam konteks pasar Indonesia, aplikasi manakah yang bakal menguasai pasar? Apakah tetap Clubhouse atau bakal muncul aplikasi lain yang menggantikan kepemimpinan Clubhouse?

Biarkan waktu yang menjawab.

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Oktober 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s