Refleksi 2021 dengan Membaca Kata Konsumen

Hampir dua tahun terakhir, peningkatan jumlah konsumen yang aktif di media sosial meningkat luar biasa pesat. Maka, mari membaca konsumen di media sosial.

Kata jangkar di atas mungkin terkesan standar, namun kenyataannya, masih sangat banyak perusahaan (bahkan perusahaan besar!) tidak mendayagunakan big data suara konsumen yang ada di media sosial. Padahal tangkapan data yang luar biasa besar dan dari berbagai wilayah dapat memberikan masukan informasi yang lebih akurat daripada riset dengan responden 1000 – 1500.

Mengingat betapa beragamnya media sosial di internet, artikel ini fokus pada Twitter sebagai sarana penambangan big data suara konsumen. Twitter sebagai pelantar microblogging real-time, memiliki batasan ketat yang ditempatkan pada setiap kiriman, yang dikenal dengan tweet. Awalnya, pengguna hanya dapat menggunakan 140 karakter, lalu digandakan menjadi 280 pada tahun 2017. Tahun berlalu dan Twitter terus mengembangkan basis penggunanya hingga mencapai lebih dari 300 juta pengguna aktif bulanan.

Twitter – Daily Active User (mDAU)

Pada 2021, Twitter menambahkan percepatan monthly Daily Active User (mDAU) pada tingkat yang lebih cepat daripada tiga tahun terakhir dan melihat potensi pertumbuhan tahun-ke-tahun yang lebih tinggi, meskipun terindikasi sebagian karena pandemi. Dalam konteks Indonesia, Jakarta pernah menjadi kota paling cerewet di dunia dan Indonesia masuk dalam 10 pasar terbesar pengguna Twitter di dunia. Data-statistik kunci berikut juga perlu kita ketahui:

  • Twitter menghasilkan pendapatan $3,7 miliar pada tahun 2020, meningkat 8,8 persen dari tahun ke tahun,
  • 86 persen pendapatan Twitter berasal dari iklan pada tahun 2020,
  • Twitter membukukan kerugian bersih sebesar $1,1 miliar pada tahun 2020, yang merupakan kerugian tahunan pertama perusahaan sejak 2017,
  • Twitter memiliki 186 juta pengguna aktif harian.

Menggunakan Twitter untuk menambang data obrolan konsumen

Pariwisata Yogyakarta

Sekarang, mari kita menggunakan Twitter untuk keperluan menambang data suara konsumen. Sebagai contoh, misalkan kita adalah pengusaha wisata yang bertempat tinggal di wilayah Yogyakarta, tentu kita perlu mengetahui suara konsumen mengenai pariwisata Yogyakarta. Menggunakan Drone Emprit Academic dan rentang waktu 1 Januari 2021 s.d. 31 Oktober 2021, ternyata terjaring hanya 3.608 cuitan yang menyebutkan kata kunci “Yogya”, “Jogja”, “Yogyakarta”, dan “Jogjakarta” yang menyertakan kosakata “pariwisata”. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa sektor pariwisata Jogjakarta selama rentang waktu tersebut mengalami kontraksi yang sangat kuat dan mungkin karena pandemi C19.

Kemudian, kita dapat membaca cuitan-cuitan berpengaruh (mendapatkan ReTweet (RT) tinggi) untuk mengetahui gambaran persepsi pengguna Twitter mengenai pariwisata Jogja. Berikut adalah tiga di antaranya:

“Kita adaptasi saja. Jangan menakut-nakuti. Rakyat Jogja laper mengko (kelaparan nanti),” Lha mbok kemarin libur lebaran di lockdown, pariwisata ditekan dulu. RT RW bisa mengontrol penularan dari dalam, lha dari luar bagaimana. Keluarga kami sudah jadi korban, Ngarso Dalem! https://t.co/CwtNO14f4n (TUKANG RUJAK MAS HERJUN (@denbaguse_prabs) pada  18/Jun/2021 20:36 WIB. Jumlah RT 297)

Sudah saatnya orang Jogja tidak berharap lagi pada Pariwisata Massal apalagi UNESCO, kembali bertani, berkreatifitas kerajinan perkakas, jaga alam bangun kembali Kota Pendidikan yang manusiawi. Sepuluh tahun cukup merubah prioritas pembangunan daerah: berubah atau punah ! 🙏😇 https://t.co/JSR2AKLt5d (krisnadi setyawan (@krisna17revolt) pada 7/Feb/2021 11:48 WIB. Jumlah RT 191). 

Ini bisa jadi satu cara utk survive, bahkan thrive, dari pelaku pariwisata. Kalau Indonesia susah diterima di negara2 lain, ya pasar domestik harus dimaksimalkan. Jangan hanya Bali. Work From Jogja, Work From Toba, Work From Labuan Bajo, dll. 🙂 https://t.co/REbgUSmyba (Henry Manampiring (@newsplatter) pada 7/Sep/2021 06:33 WIB. Jumlah RT 89). 

Dari tangkapan data tersebut, berbasis konteks kita mengetahui bahwa pariwisata Jogja masih cukup tertekan dengan faktor penyebab kompleks, antara lain pandemi C19 dan peraturan pemerintah mengenai PPKM, khususnya saat Joga masuk zona merah.

Makanan

Sekarang, mari kita mencoba mengecek kata kunci selain yang berhubungan dengan Pariwisata Jogja, yaitu makanan. Kata kunci yang digunakan adalah “makanan” dengan rentang waktu ambilan data selama 1 Oktober 2021 s.d. 31 Oktober 2021. Masih memakai Drone Emprit Academic, diperoleh 267.369 cuitan yang menyebutkan kata kunci “makanan”. Temuan data sebesar ini dapat dikatakan wajar mengingat makanan adalah kebutuhan dasar manusia.

Berikut adalah tiga contoh cuitan dengan RT tinggi:

Self healing terbaik jatuh kepada rebahan, jalan-jalan, dan makan-makanan enak (yaelahfis (@giniamatsii) pada  25/Oct/2021 18:49 WIB. Jumlah RT 13.893). 

Terlepas dari kapitalisme, makanan sisa yg dibuang ini menarik untuk dibahas. Beberapa melakukannya karena alasan regulasi food safety (makanan yg sudah beberapa jam didisplay tidak boleh digunakan kembali karena sudah terlalu banyak bakteri yg berkembang) (tiarbah (@tiarbah)  pada  6/Oct/2021 19:09 WIB. Jumlah RT 3.377). 

2 minggu lalu sudah antar makanan pake sepeda, sekarang buka jasa curhat . Siap datang kerumahmu 😁✌https://t.co/UJbr92vufE (zarfajar (@FajarAlviaan) pada 20/Oct/2021 01:50 WIB. Jumlah RT 2.958). 

Selain membaca kata konsumen melalui cuitan-cuitan berpengaruh, kita juga bisa membaca isu-isu yang mengemuka berkenaan dengan kata kunci “makanan” melalui kata-kata yang sering dicuitkan. Hasil olahan data dapat dilihat pada word cloud.

Word cloud “makanan”. Sumber: Olahan data Drone Emprit Academic

Melalui bacaan data tersebut, kita bisa mengetahui apa saja perwujudan isi pikiran konsumen mengenai produk-produk tertentu, yang kemudian kita bisa membuat kampanye berbasis isu yang menjadi perhatian utama segmen konsumen yang kita tuju. Jadi, kekuatan kampanye marketing yang dilakukan menjadi lebih tajam.

(Andika Priyandana)

Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Januari 2022

Pos ini dipublikasikan di Tidak Dikategorikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s