Bisnis Bersama COVID-19

Kini, kita hidup di tengah pandemi Covid-19. Setahun ke depan, kita masih sangat mungkin hidup bersama Covid-19. Maka, beradaptasilah atau mati.

Wabah virus corona yang dimulai di Wuhan, Cina, dan pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember 2019, akhirnya telah mengguncang dunia dalam banyak aspek. Per 12 Februari 2020, World Health Organization secara resmi menamai penyakit tersebut COVID-19, singkatan dari Corona Virus Disease of 2019. Sedangkan varian virus corona penyebab COVID-19 dinamakan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) karena virus tersebut menyerang sistem pernapasan. Kemudian, WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, karena kasus COVID-19 telah ada di 114 negara dan 4.291 orang telah kehilangan nyawa (World Health Organization, 2020).

Indonesia tidak luput dari serangan SARS-CoV-2. Pemerintah Indonesia mengakui kasus coronavirus pada hari Senin, 2 Maret 2020. Presiden Joko “Jokowi” Widodo didampingi oleh Menteri Kesehatan Agus Terawan Putranto mengonfirmasi dua kasus baru coronavirus di Indonesia. Dua subjek pertama telah dites positif untuk SARS-CoV-2 setelah berhubungan dengan warga Jepang yang sudah terinfeksi yang berasal dari Malaysia. Waktu terus berjalan cepat dan pada tanggal 31 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ia telah meresmikan peraturan pemerintah yang digambarkan sebagai “Pembatasan Sosial Berskala Besar” dan keputusan presiden tentang “Status Darurat Kesehatan Masyarakat” untuk membatasi penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Kita adalah bagian dari dunia dan dunia secara revolusioner memasuki titik keseimbangan baru akibat serangan SARS-CoV-2. Dalam konteks ekonomi, bisnis, dan marketing, berbagai kegiatan yang sudah dilakukan selama ini dengan cepat tersingkirkan, bisa untuk sementara dan bisa pula untuk selamanya. Mana saja yang sementara dan selamanya tersingkir, kita belum mengetahui. Saat ini bagi sebagian perusahaan, kelangsungan hidup jangka pendek adalah satu-satunya agenda. Yang lain mengintip melalui kabut ketidakpastian, berpikir tentang bagaimana memosisikan diri setelah krisis berlalu dan semuanya kembali normal, atau lebih tepatnya ke titik keseimbangan baru.

Pertanyaannya adalah, “Seperti apa titik keseimbangan baru?”

Sementara tidak ada yang bisa mengatakan berapa lama krisis kemanusiaan akan berlangsung. Vaksin pun tidak bisa dibuat mendadak dan tidak bisa diproduksi massal terburu-buru. Kalau pun bisa dipercepat dan sudah sangat dipercepat, vaksin tidak bisa serta merta mengakhiri pandemi. Apa yang kita temukan dalam dunia bersama COVID-19 tidak akan terlihat seperti normal beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, kita dilarang sekedar berpangku tangan. Kita harus tetap bergerak dan beradaptasi berbasis data yang kita miliki, meski mungkin sangat terbatas. Untuk keperluan artikel ini, pembahasan mengenai ekonomi, bisnis, dan marketing akan fokus pada keadaan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan hal-hal yang perlu kita kerjakan dengan merujuk pada PSBB.

Bagaimana konsumen memandang Pembatasan Sosial Berskala Besar

Mendapatkan data terkini mengenai cara masyarakat dan dalam perspektif pebisnis dan pemasar adalah konsumen, bukan hal mudah. Drone Emprit Academic (dea.uii.ac.id) membantu saya mendapatkan data terkini mengenai pandangan masyarakat terhadap pandemi COVID-19, atau lebih spesifik lagi terhadap PSBB, untuk keperluan penulisan artikel ini.

Melalui pelantar Drone Emprit Academic, saya menarik data pembicaraan pengguna Twitter di Indonesia mengenai PSBB sejak tanggal 30 Maret 2020 sampai dengan 5 Mei 2020. Tanggal tersebut diambil karena terdapat kejadian-kejadian penting terkait PSBB. Sebagian di antaranya adalah pengumuman Presiden Joko Widodo pada 31 Maret 2020 tentang PSBB, persetujuan Menteri Kesehatan Agus Terawan Putranto pada 6 April 2020 untuk melaksanakan PSBB di Jakarta, implementasi PSBB di Jakarta pada 10 April 2020 dan implementasi PSBB di Bogor, Depok, dan Bekasi pada 15 April 2020.

Dari hasil tarikan data pembicaraan Twitter di daerah Indonesia oleh Drone Emprit Academic per tanggal 30 Maret – 5 Mei untuk kata kunci “pembatasan sosial berskala besar” dan “PSBB”, terdapat 237.897 total mention Twitter yang berasal dari penduduk Indonesia dan aktor berpengaruh, termasuk Presiden Indonesia, kementerian, perusahaan, media, jurnalis, gubernur, aktivis , akademisi, dan senator dari Aceh hingga Papua. Khusus untuk tujuan penulisan artikel, dataset “pembatasan sosial berskala besar” dan “PSBB” dianalisis dan dibagi menjadi Sentimen dan Word Cloud.

Sentimen masyarakat

Sentimen Twitter Pembatasan Sosial Berskala Besar

Tren Sentimen Twitter Pembatasan Sosial Berskala Besar

Sebelum kita membahas sentimen secara spesifik, mari kita perhatikan dulu Top 10 tagar terkait “pembatasan sosial berskala besar” dan “psbb”. Top 10 tagar adalah #PSBB with 4.959 mention, #COVID19 dengan 2.634 mention, #dirumahaja dengan 2.099 mention, #DapurUmumTNIPolri dengan 1.579 mention, #PSBBJakarta with 1.057 mention, #PemdaLemahPSBBGagal dengan 611 mention, #kumparanNews dengan 569 mention, #Jakarta dengan 508 mention, #infoBDG dengan 466 mention, dan #BersamaPolriBantuWarga dengan 455 mention.

Dari tagar-tagar tersebut, ada yang menyumbangkan ke sentimen positif (50 persen), negatif (44 persen), dan netral (6 persen). Sentimen positif masih mendominasi atas sentimen keseluruhan meski tipis di atas sentimen negatif sebesar enam persen. Bahkan ada kemungkinan sentimen negatif akan mendominasi dalam beberapa hari ke depan jika situasi dan kondisi saat ini tidak ada perusahaan karena sentimen negatif sudah mendominasi sejak 27 April seperti terlihat dalam Sentiment’s trends in all media types.

Word cloud

Word Cloud Positif Pembatasan Sosial Berskala Besar

Word Cloud Negatif Pembatasan Sosial Berskala Besar

Berbasis tangkapan data Word Cloud, terdapat sentimen positif masyarakat terhadap institusi pemerintah dan figur politik, antara lain Presiden (Joko Widodo), Mahfud (Menkopolhukam), LBP (Menko Kemaritiman dan Investasi), DPR RI, dan Kementerian BUMN. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk memitigasi pandemi COVID-19, yaitu PSBB, juga mendapatkan sentimen positif. Namun dalam Word Cloud sentimen negatif, ada beberapa kata kunci yang sebelumnya mendapatkan sentimen positif. Salah satunya Mahfud (Menkopolhukam). Hal ini menunjukkan bahwa Mahfud (Menkopolhukam) mendapatkan sentimen positif sekaligus sentimen negatif dari masyarakat.

Hal-hal yang perlu dipahami para pebisnis dan marketer

Jaga jarak. Dengan pemberlakuan PSBB, berarti “jaga jarak” resmi mendapatkan payung hukum dari pemerintah pusat. Dalam kondisi demikian, pelantar digital wajib digunakan, mau tidak mau, suka tidak suka. Kini, sangat mayoritas bentuk komunikasi dilakukan secara virtual. Bahkan bekerja pun banyak yang dilakukan secara jarak jauh meski tetap ada yang harus hadir di lapangan langsung, tetapi tetap dengan kebijakan jaga jarak.

Dari kata-kata kunci yang berkaitan dengan “pembatasan sosial berskala besar” dan “psbb”, terdapat kekesalan karena mobilitas manusia terhambat. Namun, mobilitas barang tetap berjalan. Apalagi dengan kata kunci “karantina”, “diperpanjang”, dan “aplikasi” dalam Word Cloud positif mengindikasikan bahwa masyarakat terindikasi memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi selama karantina dan kebutuhan tersebut terindikasi dapat dipenuhi dengan perantaraan aplikasi. Berarti bisnis-bisnis terkait rantai pasok tetap berjalan, bahkan wajib.

Daya tahan dan efisiensi. Di luar isu bisnis yang tetap bertahan di era pandemi COVID-19, kita perlu memikirkan peningkatan daya tahan dan efisiensi dalam menjalankan perusahaan. Sudah ada bisnis-bisnis dengan omzet turun hingga 100 persen, misal restoran dan maskapai penerbangan. Meski PSBB kelak melonggar, kita tetap harus memikirkan cara beroperasi dengan langkah-langkah baru. Contoh yang sudah terjadi adalah adanya hotel-hotel di Jakarta membuka layanan antar makanan dan beriklan melalui kanal-kanal digital.

Bangkitnya ekonomi nirsentuh. Dlam konteks pandemi COVID-19, meski pendapatan menurun, perdagangan elektronik, telemedicine, dan otomasi dapat terus bertahan dan dapat melenting (McKinsey & Company, 2020). Perdagangan elektronik sejak beberapa tahun terakhir secara perlahan namun pasti semakin menggerus omzet ritel brick-and-mortar. Sedangkan untuk industri kesehatan, khususnya rumah sakit, telemedicine terlihat sangat mengambil tempat di era PSBB.

Keterlibatan pemerintah. Keterlibatan pemerintah, khususnya kala krisis, sangat diperlukan oleh para pemangku kepentingan. Dari tarikan data Twitter, masyarakat Indonesia masih menunjukkan sentimen positif melebihi sentimen negatif terhadap pemerintah. Momentum ini harus diberdayakan sebaik mungkin. Pun. kita sebagai pengusaha dan pemasar harus bisa beradaptasi dengan kontrol pemerintah yang semakin kuat. Berarti, ada kemungkinan perusahaan-perusahaan yang mungkin sebagian sahamnya diambil alih pemerintah melalui BUMN atau turunannya atau menggunakan fasilitas-fasilitas pinjaman yang diprakarsai pemerintah.

Turunnya biaya ke titik keseimbangan baru. PHK sudah terjadi secara massal. Krisis finansial sudah memasuki gerbang. Saat ini, terjadi kelebihan pasokan, antara lain bahan mentah dan bahan baku makanan akibat banyak industri restoran yang tutup atau mengalami penurunan omzet secara drastis. Berarti, ada biaya-biaya yang ikut turun karena hukum permintaan dan penawaran berlaku. Biaya tersebut salah satunya gaji pegawai. Namun dalam kondisi minim pendapatan, hal tersebut terasa minim manfaat.

Manfaat kala krisis kemanusiaan. Dalam krisis selalu ada kesempatan. Jika sebelumnya kita malas mencari kesempatan baru, malas mengembangkan produk baru, atau mencari ide-ide baru, kini kita harus melakukannya meski optimisme sedang di titik nadir. Sebagai contoh, kini kita dipaksa terbiasa dengan cara berkomunikasi via video call. Bagi yang sebelumnya tidak pernah menggunakan fasilitas video call via WA, Zoom, atau Skype, kini wajib belajar menggunakannya. Maka, carilah dan temukan manfaat di tengah krisis kalau tidak mau mati cepat.

Depok, 11 Mei 2020

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s