Pembelajaran Daring: Apa Kata Warganet?

Sejak pandemic COVID-19, belajar di rumah menggunakan mediasi internet menjadi keharusan. Bagaimana obrolan medsos terhadap hal tersebut?

Sebagai seorang pengajar, tentu menjadi kewajiban kita untuk mengetahui tanggapan anak didik mengenai ilmu yang sudah kita sampaikan dan sudah seberapa jauh anak didik mampu memahaminya. Dalam situasi pandemi, secara umum sudah kita ketahui bersama bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak akan sama efektif dengan kegiatan tatap muka.

Namun, kita tidak dapat sekedar berasumsi abstrak mengenai ketidak efektifan yang terjadi melalui KBM daring. Jadi, saya bekerja sama dengan social media monitoring tool Drone Emprit Academic (DEA) yang disediakan Universitas Islam Indonesia untuk menganalisis emosi dan persepsi publik terhadap pembelajaran dari sejak 1 Juni 2020 s.d. 30 Juni 2020 dengan sampel para pengguna Twitter yang menggunakan kata kunci “kuliah”, “belajar”, “#Belajardirumah”, dan “#belajardarirumah” serta menggunakan saringan kata kunci “online” dan “rumah”. Jadi, tarikan data yang diperoleh diharapkan benar-benar berhubungan dengan pembelajaran daring.

Untuk analisis pembelajaran daring, saya mencoba memberikan data tervalidasi selengkap mungkin yang saya harap memiliki manfaat secara umum bagi guru dan dosen di Indonesia. Data-data yang saya masukkan dalam tulisan ini adalah:

  • Persebaran kata kunci,
  • Tagar populer,
  • Sentimen,
  • Emosi,
  • Empat status dengan ReTweet tertinggi.

Persebaran kata kunci

Peta Buzzer Pembelajaran Daring – sumber data diolah

Tarikan data selama Juni 2020 berhasil menarik 43.366 cuitan yang terkumpul di wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Tengah. Kemudian sebagaimana kita perhatikan pada Peta Buzzer, dapat dikatakan tidak ada cuitan terjaring dari wilayah Indonesia Timur yang memberikan indikasi awal bahwa akses internet yang dimiliki anak didik di wilayah tersebut tidak sebaik di Indonesia Barat dan Indonesia Tengah, khususnya di Pulau Jawa.

Tangkapan persebaran kata kunci berikutnya adalah Sabtu dan Minggu menjadi dua hari terendah aktivitas cuitan, sedangkan Rabu adalah hari teraktif melakukan cuitan. Jam teraktif cuitan mengenai KBM daring dimulai jam 06.00 dan mencapai puncak pada pukul 11.00 yang kemudian menurun perlahan namun tetap terlihat aktif hingga pukul 23.00.

Tagar populer

Tagar Populer Pembelajaran Daring – sumber data diolah

Sebagian di antara tagar-tagar populer adalah #TopNews, #UniversitasPancenNdlogok, #dirumahaja, #GunungDjatiMenggugat, #bacahorror, #threadhorror, dan #MendikbudDicariMahasiswa. Ada tagar-tagar yang saya belum pahami maksudnya dan belum berniat menelusurinya lebih jauh, misal #UniversitasPancenNdlogok.

Ada yang tahu maksudnya?

Sentimen

Sentimen Pembelajaran Daring – sumber data diolah

DEA berhasil mendeteksi sentimen yang muncul dari sebagian besar cuitan. Sentimen negatif (65 persen) terlihat sangat mendominasi cuitan-cuitan mengenai pembelajaran daring. Sedangkan cuitan positif sebanyak lebih kecil secara signifikan (31 persen). Sentimen-sentimen negatif tersebut dapat terlihat dan terwakili dalam empat cuitan yang mendapatkan ReTweet tertinggi.

Emosi

Emosi Pembelajaran Daring – sumber data diolah

DEA menggunakan Plutchik’s Wheel of Emotions untuk keperluan klasifikasi emosi. Data menunjukkan bahwa anger (amarah) dan (dis)trust (tidak percaya) mendominasi cuitan pembelajaran daring. Contoh cuitan amarah adalah sebagai berikut:

Bener2 beban bgt matematika teknik uts kemaren gue dapet 100 grgr itu gue ngerti materinya pas masih diajarin di kelas.. nah materi setelah uts tuh gak ngerti apa apa.. bener bener blank.. kl sampe dapet jeblok kan anjir bgt ya yatuhan:( kuliah online membuat gue positif goblok:) (@almokyungie, 18/Jun/2020)

Bangsat ga terima banget gue ah anjeng gini gini katanya mau kuliah online lagi smt depan (@martablackk, 28/Jun/2020)

Contoh cuitan (dis)trust adalah sebagai berikut:

Jelas jauh beda dengan yang baru mau belajar, tapi otaknya udah nyabang dgn pikiran semacem: (1) besok bisa makan ga ya? (2) besok ke sekolah/kampus ga ada ongkos, naik apa? (3) masalah kluarga. (4) kondisi rumah ga memadai, dan masalah lain yg bikin ga fokus.(@AnnisaEva, 7/Jun/2020)

Judulnya BELAJAR DARI RUMAH tapi tayangannya jam 21.30 WIB atau 22.30 waktu Timor Barat atau 23.30 waktu Ambon dan Papua. Anakanak Indonesia Timur mana yg mau belajar sampe jam begitu? Mbok ya bikin program utk semua umur ya sensitif dong @TVRINasional (@dickysenda, 18/Jun/2020)

Empat status dengan ReTweet (RT) tertinggi

Saya mengambil empat status dengan RT tertinggi sebagai data karena RT tinggi menunjukkan besaran pengaruh yang dimiliki pesan tersebut. Pengaruh dalam konteks ini memiliki tingkatan lebih tinggi daripada popularitas. Empat cuitan dengan RT tertinggi adalah sebagai berikut:

kuliah online satu setengah semester negatif covid positif stupid (@azmistuff,15/Jun/2020, 36.790 all-time RT)

Girls, jangan kawin dengan lelaki malas buat kerja rumah. And guys, please lah belajar buat kerja rumah. Menyapu, basuh baju, kemas rumah dll. (@KhairulAbror1, 25/Jun/2020, 28.642 all-time RT)

[cm] lagi kuliah online trus nemu akun mahasiswa yg komen kayagini, menurut kalian gimana? https://t.co/pZSxBFTRMe (@collegemenfess, 24/Jun/2020, 7.518 all-time RT)

Gambar yang menyertai status @collegemenfess

Anjing, kuliah online bukannya nilai makin bagus, malah makin bangsat. Kuota abis, ilmu ga dapet, tugas numpuk, begadang tiap hari tp nilai kek setan. (@amandajprr, 22/Jun/2020, 10.866 all-time RT)

Penutup

Kejadian pandemi COVID-19 adalah kejadian luar biasa yang tentu sangat sulit ditangani oleh siapa pun menteri, aparatur negara, guru, dosen, dan semua pemangku kepentingan yang terlihat. Semua terkena imbasnya dan murid-murid baik di pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi terlihat menunjukkan sentimen negatif dengan KBM daring.

Jika ditanya bagaimana cara menangani kejadian ini, saya menjawab belum tahu. Saya baru bisa memberikan bantuan dalam bentuk pengumpulan data-data yang dapat digunakan untuk perumusan masalah, perumusan kebijakan, hingga tindakan para guru dan dosen secara spesifik.

Semoga data yang saya jabarkan dapat membantu memahami betapa peliknya masalah KBM daring di Indonesia.

Semarang, 21 Juli 2020

Andika Priyandana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s