TikTok Menghentak Dunia (dan Lima Statistik yang Wajib Anda Ketahui)

Meski Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook nyinyir, TikTok tetap melaju.

“Until recently, the internet in almost every country outside China has been defined by American platforms with strong free expression values. There’s no guarantee these values will win out,” Zuckerberg said in a speech last month at Georgetown University. “While our services, like WhatsApp, are used by protesters and activists everywhere due to strong encryption and privacy protections, on TikTok, the Chinese app growing quickly around the world, mentions of these protests are censored, even in the US.”

Mark Zuckerberg, terlepas dari minat yang mendalam dengan negeri China, budaya, dan SDM yang dimiliki, tidak menutupi ketidaksukaannya kepada TikTok. Sikap tersebut antara lain ditunjukkan dengan pernyataan bahwa produk-produk yang dikelola Facebook, misal WhatsApp, menjamin kebebasan berekspresi. Sedangkan TikTok sebagai produk dari RRC, justru membungkam kebebasan berekspresi, khususnya kepada pemerintah. Namun meski demikian, TikTok tetap meraih pertumbuhan jumlah pengguna di seluruh dunia secara luar biasa.

Jika ada yang masih bingung dengan produk TikTok dan kenapa Mark Zuckerberg jengkel dengan TikTok, mungkin dapat mengurangi rasa bingung dengan mengingat kasus Bowo Alpenliebe yang sempat viral pada tahun 2018. Bowo Alpenliebe alias Prabowo Mondardo adalah remaja yang meraih popularitas di usia 13 tahun karena berbagai video TikTok yang dibuatnya. Berkat getok tular, Bowo mendapat undangan menjadi bintang tamu di sejumlah acara televisi tanah air, terlibat dalam sinetron, FTV, hingga mendapat kesempatan berkolaborasi dengan Young Lex dan Anya Geraldine.

Pasca Bowo naik daun, makin banyak Generasi Z Indonesia menggunakan TikTok dan menjadikannya sebagai bagian dari subbudaya populer Indonesia. Makin banyak pula artis Indonesia yang menggunakan TikTok untuk membuat konten-konten video pendek nan kreatif, kadang terkesan alay, namun nyandu.

TikTok akhirnya menjadi salah satu media sosial dengan pertumbuhan tercepat di dunia, sukses meraih popularitas global, dan menjadi alternatif pelantar berbagi video dengan musik, tusir, dan fitur-fitur lainnya.

Sejarah singkat TikTok

TikTok adalah aplikasi iOS and Android berupa kreasi video 15 detik yang dikembangkan ByteDance dan berbasis di Beijing, RRC. Dimulai dengan nama Douyin pada September 2016 di RRC, ByteDance segera merambah pasar luar RRC per 2017 dengan nama TikTok yang menggunakan piranti lunak sama, tetapi jaringan berbeda untuk memenuhi regulasi batasan sensor RRC.

Dalam dua tahun, TikTok menjadi perusahaan pesaing dalam konteks jumlah unduhan, jumlah pengguna, dan keterlekatan konsumen dengan Facebook, Snapchat, YouTube, dan Netflix. TikTok sudah diunduh lebih dari satu miliar kali di 150 negara dalam 75 bahasa. TikTok berhasil menonjol dalam lautan kompetisi karena layanan yang lebih dari sekedar pelantar hiburan, tetapi juga menjadi pelantar gaya hidup. Lebih jauh lagi, TikTok sangat simpel dalam hal penggunaan, memungkinkan semua pengguna dapat menjadi produsen konten dengan cepat, dan karenanya menarik begitu banyak pengembang konten di banyak negara.

Zhang Yiming sebagai pendiri ByteDance menunjukkan kemampuan meraih kesuksesan di luar pasar RRC dan tidak sekedar jago kandang yang terasosiasikan dengan “The Great Firewall”. Strategi Zhang Yiming melalui dua versi TikTok – satu untuk RRC yang lekat dengan sensor dan lainnya untuk negara-negara di luar RRC – dapat menjadi model baru untuk perusahaan konten digital yang ingin menjangkau global.

Atas raihan prestasi global, Facebook menghadapi tantangan serius skala internasional dari TikTok. Pada 2018, TikTok meraih ranking empat global aplikasi non-game paling banyak diunduh. TikTok diunduh sebanyak 663 juta dan hanya di belakang Facebook yang sebesar 711 juta dan berbagai aplikasi terkait seperti Messenger dan WhatsApp. Pada akhir 2018, Facebook merilis produk internal berupa pelantar pembuatan konten video pendek bertajuk Lasso yang dianggap menyaingi TikTok di pasar Amerika Serikat. Namun dalam empat bulan pertama pasca rilis, Lasso baru diunduh oleh 70.000 pengguna, sedangkan TikTok sudah diunduh sebanyak 40 juta pengguna.

Kini setelah kita mengetahui informasi awal TikTok dengan cukup baik, mari kita tilik lima statistik mengenai TikTok yang dapat menjadi ajang pembelajaran para marketer Indonesia.

Lima Statistik TikTok menghentak dunia

Pertama, TikTok memiliki pengguna aktif bulanan sebanyak 800 juta secara global.

Berbasis Datareportal (2020), TikTok memiliki 800 juta pengguna aktif bulanan secara global. Berarti, Tiktok memiliki raihan angka lebih baik daripada Snapchat, Pinterest, Twitter, dan LinkedIn. Sebagai catatan, 150 juta dari 500 juta berada di RRC dan umumnya pengguna Douyin atau TikTok untuk pasar domestik RRC. Meski demikian, tidak dapat dinafikan bahwa TikTok sudah menarik hati banyak generasi Z Asia di Indonesia, Malaysia, Thailand, Viet Nam, hingga Jepang.

Lebih mengagumkan, raihan pengguna aktif tersebut diperoleh TikTok di bawah tiga tahun, sedangkan Facebook membutuhkan hampir empat tahun, dan Instagram membutuhkan enam tahun.

Kedua, TikTok sudah diunduh lebih dari 1,5 miliar di Apple Store dan Google Play.

Berbasis data Sensor Tower (2019), TikTok adalah salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh secara global dan sukses melewati angka 1 miliar dan 1,5 miliar unduhan hanya dalam satu tahun 2019 di Google Play and Apple Store. Lebih spesifik, angka satu miliar diraih per Februari 2019 dan hanya membutuhkan sekitar tujuh bulan untuk menambah sekitar 500 juta unduhan.

Jika merujuk angka tersebut, berarti TikTok sudah menjadi aplikasi non-gaming ketiga paling populer per 2019, hanya di belakang WhatsApp sebanyak 707,4 juta dan Facebook Messenger sebanyak 636,2 juta instalasi. Angka tersebut sekaligus menunjukkan raihan di depan Facebook dan Instagram. Berarti hanya TikTok yang mampu menembus dominasi produk-produk Facebook.

Ketiga, TikTok digilai Generasi Z global

Menurut data Globalwebindex (2019), TikTok merajai benak konsumen Generasi Z global karena sekitar 41 persen pengguna TikTok berumur 16 s.d. 24 tahun.

Hal yang lebih menarik, banyak individu di atas usia tersebut tidak mengetahui, atau mengetahui keberadaan TikTok namun tidak tertarik memakai TikTok justru menunjukkan ketajaman TikTok dalam hal segmentasi dan target konsumen.

Sedari awal, ByteDance memang menyasarkonsumen usia remaja sebagai audiens. Maka ByteDance berusaha memahami kebutuhan dan keinginan konsumen Generasi Z jauh lebih baik daripada para kompetitor. Karena target usia yang sangat spesifik, TikTok memahami perilaku dan pilihan media sosial yang memang dicari Generasi Z, yaitu kebutuhan aktualisasi diri secara kreatif, misal dengan bernyanyi, menari, atau sekedar ngebanyol.

Keempat, 52 menit per hari digunakan untuk bermain TikTok

Business of Apps (2019) menemukan bahwa pengguna TikTok menghabiskan waktu sekitar 52 menit per hari. Berarti, pengguna TikTok menghabiskan waktu tersebut baik untuk melihat video-video pendek yang ada atau membuat video pendek mereka sendiri. Saat dibandingkan dengan media sosial lainnya, pengguna Instagram menghabiskan waktu sekitar 53 menut per hari dan Facebook masih memimpin dengan konsumsi waktu harian konsumen sebesar 58,5 menit per hari.

Dalam konteks pemasaran, data tersebut sangat penting karena semakin banyak waktu yang dihabiskan konsumen dalam suatu aplikasi, semakin besar jendela waktu yang ada untuk menampilkan iklan.

Kelima, TikTok melaju global

Apptrace (2019) menyatakan bahwa TikTok tersedia di 155 negara dan dalam 75 bahasa yang berarti mencakup sebagian besar penduduk global.

Hal yang lebih menarik, pencapaian tersebut diraih TikTok dalam jangka waktu yang sangat pendek di berbagai penjuru dunia meski dengan nama berbeda-beda, yaitu Douyin di RRC, Musical.ly dan TikTok di luar RRC. TikTok meraih popularitas sangat baik di kalangan konsumen Asia. TikTok diunduh sebanyak 20 juta lebih di India dan 10 juta lebih di Thailand.

Jangkauan TikTok di 155 negara juga menunjukkan hal menarik bagi marketer, yaitu probabilitas tinggi menjangkau audiens Generasi Z di negara-negara pengguna TikTok.

Depok. 6 Februari 2020

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s