Saran Dagang Daring 2020

Apa yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam perdagangan daring di 2020.

Internet Users in Indonesia – Southeast Asia Internet Economy 2019 by Google + Temasek + Bain

Dari perspektif ekonomi makro, pertumbuhan sektor tersier Indonesia ada di atas rerata pertuumbuhan ekonomi nasional. Lalu, meski subsektor perdagangan (4,75%) ada di bawah rata-rata nasional, tetapi subsektor informasi komunikasi (9,15%) ada di atas rata-rata nasional. Meski terlihat tidak berhubungan secara langsung, namun karena keduanya di bawah payung sektor tersier, maka mengindikasikan ada pertumbuhan positif pada turunan subsektor perdagangan.

Menilik ekonomi internet Indonesia, ternyata nilainya sudah mencapai $40 miliar per 2019. Angka tersebut tumbuh lebih dari empat kali lipat dibandingkan dengan 2015 dengan rerata pertumbuhan 49% per tahun. Dengan tren pertumbuhan dan angka tersebut, Indonesia mengokohkan dirinya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi internet terbesar dan tercepat di Asia Tenggara dan ada dalam rel menuju $130 miliar per 2025.

Secara spesifik, perdagangan daring dan jasa transportasi daring menjadi motor utama penggerak ekonomi tersebut. Adanya persaingan ketat antara pemain Indonesia dengan pemain-pemain lainnya di Asia Tenggara justru semakin memacu pertumbuhan dan percepatan adopsi teknologi (Southeast Asia Internet Economy 2019 by Google, Temasek, and Bain).

Tak ayal, banyak investor yang ingin menanamkan uangnya dalam ekonomi internet Indonesia dan meski jumlah transaksi menurun, nilainya semakin besar. Tahun 2019, rekor investasi 2018 kembali tercapai dengan gelontoran dana kepada Traveloka, Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak. Grab sebagai pemain non-Indonesia pun tertarik berinvestasi di Indonesia dengan skema tahun jamak.

Data tersebut menunjukkan hal yang sebaiknya kita hindari dalam konteks perdagangan daring di Indonesia: Kita tidak perlu menciptakan produk perdagangan daring yang baru karena sumber daya yang diperlukan jelas terlalu besar. Tak hanya sumber daya finansial, tetapi juga sumber daya manusia, termasuk waktu bakal sangat menyita.

Jadi, daripada menciptakan ombak baru, sebaiknya menumpang ombak yang sudah ada dengan berinvestasi atau mendayagunakan para pemain yang sudah ada sebagai pelantar perdagangan daring.

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam perdagangan daring Indonesia 2020

Bapak dan ayam jago – Doddy Sudibia

Dalam konteks perdagangan daring, data menyatakan bahwa konsumen Indonesia sensitif harga dan bersedia menghabiskan waktu melakukan penelusuran, perbandingan, dan penyaringan demi mendapatkan produk sama dengan harga termurah. Mereka juga bersedia menunggu waktu promosi daring untuk berbelanja.

Jadi untuk konteks barang-barang massal dan perusahaan hanya bertindak sebagai penyalur, ada baiknya perusahaan melakukan rekayasa marketing yang optimal dengan meletakkan waktu-waktu belanja daring yang tepat dan bersama-sama dengan pemain lainnya. Harbolnas sudah menjadi contoh yang sangat baik. Apalagi berbasis data Google Trends, penelusuran-penelusuran terkait voucher, kupon, dan promosi pada momen-momen tersebut selalu meningkat lebih dari dua kali lipat secara konsisten selama empat tahun terakhir. Angka yang sama juga berlaku dalam hal volume penjualan.

Gadis Indonesia dalam busana daerah – Doddy Sudibia

Agar festival belanja tersebut semakin menarik, para produsen dan penyalur sebaiknya bekerja sama dengan pelantar loka pasar ternama untuk menjadikan waktu belanja daring dalam bentuk hiburan, permainan, atau tayangan video langsung sebagai bentuk promosi. Tokopedia dan Bukalapak adalah dua contoh loka pasar yang sudah menunjukkan contoh tersebut dengan sangat baik.

Para loka pasar tersebut juga memiliki kemampuan lebih dari sekedar memunculkan permintaan. Dengan data internal berupa barang-barang yang banyak dicari konsume, loka pasar dapat memberikan informasi pasokan produk yang tepat agar para produsen dan penyalur dapat bekerja secara lebih mangkus dan sangkil.

Setelah mengetahui produk-produk apa saja yang banyak dicari konsumen, sediakan pula jaringan logistik yang mumpuni. Promosi “free ongkir” tidak selamanya bisa dilakukan karena sangat memakan biaya. Apalagi dalam konteks negara Indonesia dengan rasio biaya logistik yang masih tinggi terhadap nilai akhir produk, terlepas dari berbagai usaha perbaikan yang sudah dilakukan pemerintah dan peringkat kualitas logistik yang semakin membaik dari tahun ke tahun.

Perbaikan jaringan logistik  berarti kesempatan bisnis. Pembangunan jaringan logistik nasional yang baik sudah lama menjadi tujuan utama yang ingin diraih para pemain perdagangan daring Indonesia. Tentu saja hasil akhir yang ingin diraih adalah biaya antar yang semakin kecil, waktu antar yang semakin cepat, dan keamanan barang yang diantar hingga tujuan.

Atas berbagai usaha perbaikan logistik yang sudah dilakukan, jangan heran jika volume perdagangan brick-and-mortar akan semakin tergerus perdagangan daring dari waktu ke waktu. Perilaku konsumen telah dan sudah berubah secara fundamental saat berbelanja. Jika dulu membeli barang elektronik, misal laptop, harus dilakukan dengan datang ke toko, kini sudah bisa dilakukan dan sudah ada yang membeli hanya melalui situs. Pembelian barang-barang terkesan remeh seperti produk FMCG pun sudah dilakukan dengan perantaraan pelantar belanja daring. Maka, Average Order Value (AOV) dapat terus menurun dan di saat sama kuantitas order terus meningkat.

Namun ingat bahwa hingga kini, para pelaku perdagangan daring masih dalam usaha untuk meraih status “balik modal”. Jika sebelumnya hal tersebut belum menjadi prioritas, 2020 jelas menjadi tahun prioritas mulai mengejar “balik modal”. Maka pengenaan biaya atau pemindahan biaya yang melibatkan para pemain bisnis perdagangan daring bakal semakin terasa intens. Misal pemain jasa parsel yang harus menanggung “gratis ongkir” atau biaya untuk layanan premium yang semakin tinggi.

Depok, 5 Januari 2020

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Februari 2020

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s