Mengoptimalkan Transformasi Digital via Transaksi Elektronik

Start-up saatnya berhenti memikirkan sekedar traction, apalagi burn rate. Pikirkan cara meraih laba sejak awal. Maka, pikirkan sistem pembayaran 

Usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) akhir-akhir ini sudah tersadarkan dari delusi yang sempat mengendap dalam benak selama bertahun-tahun. Banyak yang mendirikan start-up dengan tujuan mendapatkan pendanaan, lalu mencari pendanaan lagi dan lagi, dengan menumpukan kinerja traction, burn rate, dkk. Laba seakan terlupa, atau minimal, tidak dipikirkan dalam beberapa tahun pertama karena sangat mengejar pertumbuhan.  

Maka, model bisnis start-up menjadi bahan pertanyaan banyak pengusaha khususnya yang masih konservatif. Sangat banyak dari mereka yang tidak habis pikir dengan cara kerja start-up yang seakan-akan tidak memikirkan laba dan pemodal ventura yang seakan lebih mengejar nilai saham dan bukan laba 

Namun kasus Uber yang mengurangi luasan pasar secara signifikan, disusul kasus nilai perusahaan WeWork yang anjlok drastis dalam hitungan bulan, ditambah laporan kerugian pemodal ventura SoftBank yang mencapai skala triliunan rupiah, membuat para pelaku start-up dan pemodal ventura lain mengambil sikap jauh lebih berhati-hati. Kini, start-up yang sudah memiliki laba atau sudah memiliki potensi laba yang kuat, terlihat jauh lebih seksi 

Tak pelak, kualitas transaksi, dan bukan sekedar kuantitas, segera menjadi perhatian utama. Semakin terlihat potensi laba dalam laporan keuangan, start-up segera terlihat semakin seksi.  

Meningkatkan kualitas transaksi: Cashless  

Ada banyak cara meningkatkan kualitas transaksi dan yang paling utama adalah menjalankan transaksi nontunai. Terkait transaksi nontunai, start-up dapat bekerja sama dengan berbagai layanan teknologi keuangan sebagai gerbang pembayaran jika tidak atau belum memiliki sistem pembayaran internal.  

Kemudian, dengan tetap berhulu ke pemahaman konsumen, secara garis besar ada tiga hal yang perlu diketahui: 

  • Seberapa baik inklusi keuangan yang dimiliki konsumen 
  • Bagaimana cara mereka bertransaksi 
  • Jika mereka melakukan transaksi elektronik, ketahui jenis transaksi elektronik apakah yang biasa dilakukan, dan masih banyak lagi 

Kembali ke transaksi nontunai. Bagaimana pun bagi start-up, meninggalkan transaksi tunai dan beralih ke non-tunai adalah kewajiban. Menjadikan konsumen sebagai bagian dari cashless society adalah keharusan 

Indonesian Mobile Phone Users – pic source qzdotcom

Dengan menjadikan konsumen sebagai bagian dari cashless society, secara otomatis start-up sudah meningkatkan kualitas transaksi karena transaksi elektronik membuat segalanya tercatat detail. Karenanya, potensi kebocoran pendapatan tereduksi optimal. Berarti, start-up sudah bisa melangkah lebih dekat ke raihan laba.  

Langkah selanjutnya adalah mengetahui seberapa baik inklusi keuangan yang dimiliki konsumen. Berbasis Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif, inklusi keuangan adalah kondisi yang mana setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing 

Jika konsumen tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan fisik, misal bank, tetapi memiliki ponsel pintar, berarti start-up memiliki kesempatan yang sangat baik untuk memecahkan masalah transaksi yang mungkin dimiliki konsumen. Jika konsumen belum memiliki pemahaman transaksi digital yang baik, start-up memiliki kewajiban memberi edukasi kepada konsumen tersebut. 

Ketahui pula bagaimana cara konsumen bertransaksi. Jika konsumen sangat terbiasa bertransaksi secara tunai, berarti start-up perlu menciptakan kebutuhan dari konsumen untuk melakukan transaksi nontunai. Kebutuhan tersebut dapat dilakukan secara satu demi satu atau sinergis. Sebagai contoh, perusahaan memberikan edukasi kepada konsumen mengenai berbagai manfaat transaksi nontunai dan memberikan insentif jika konsumen mau menggunakan transaksi nontunai. Insentif dapat berupa diskon jika menggunakan sistem pembayaran yang disediakan perusahaan. Tindakan ini lazim disebutbakar duit”.  

Ingat, pastikan juga start-up terlibat dalam pembentukan ekosistem yang membuat konsumen mengalihkan kebiasaan transaksi tunai ke transaksi nontunai dengan perantaraan start-up. Ajak banyak mitra terlibat atau libatkan diri dengan pemain lain yang sudah memiliki jaringan lebih kuat, namun memiliki titik lemah yang dapat diberikan solusinya oleh start-up 

Rias Pengantin Wanita Jawa – sumber Pixabay – agoengadyrirawan76

Terakhir, khusus bagi konsumen yang sudah melek teknologi keuangan dan transaksi nontunai, coba ketahui bentuk transaksi elektronik yang biasa dilakukan. Sebagai contoh, seorang konsumen mengetahui dan pernah menggunakan transaksi elektronik dengan perantaraan Anjungan Tunai Mandiri, kartu debit, kartu kredit, e-cash, dan e-money dalam bentuk kartu. Hal tersebut sesungguhnya sangat baik karena konsumen tersebut sudah menjadi bagian aktif dari cashless society.  

Berarti langkah yang perlu dilakukan adalah memastikan start-up mampu menyediakan varian transaksi elektronik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi, semisal konsumen sedang tidak berkeinginan menggunakan kartu debit namun ingin menggunakan e-cash karena insentif poin, start-up mampu menyediakan sistem pembayaran yang dimaksud 

Sebagai tambahan, sediakan juga fasilitas pinjam daring jika memungkinkan. Pastikan bekerja sama dengan penyedia jasa pinjaman daring yang sudah terdaftar dan dilegalisasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pastikan juga penyedia jasa tersebut memiliki reputasi cukup baik sehingga start-up tidak terkena getah tindakan-tindakan negatif yang pernah dilakukan penyedia jasa tersebut.  

Depok, 2 Desember 2019

(Andika Priyandana) 

 Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s