Menghidupkan Gaya Hidup Hijau

Pemanasan global, polusi, toksikologi lingkungan, dan masih banyak lagi masalah lingkungan lain telah menimbulkan segmen konsumen pecinta gaya hidup hijau bagai sekte.

Adakah keluarga, teman, rekan, atau sahabat di sekeliling kita yang cenderung kaku urusan menghindari penggunaan botol-botol plastik sekali pakai dan memilih sering membawa botol yang bisa diisi ulang? Atau mungkin mengetahui seseorang dengan sikap sangat menghindari penggunaan sedotan plastik dan memilih sedotan logam yang bisa dipakai ulang atau bahkan sedotan bambu? Contoh lainnya, memilih rutin memakai transportasi publik dengan alasan mengurangi keterlibatan dalam pencemaran udara?

Jika ada yang pernah bertemu dengan individu-individu dengan sikap dan profil seperti yang telah disampaikan di atas, ada indikasi bahwa kita telah bertemu dengan orang-orang yang menjalani gaya hidup hijau.

Menggunakan pemahaman secara bebas, gaya hidup hijau adalah gaya hidup yang mengutamakan jargon “cinta alam”. Cinta alam terwujud dalam sikap dan tindakan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan masalah terhadap lingkungan. Memilih menjauhi produk plastik sekali pakai karena ingin mengurangi sampah plastik. Memilih naik transportasi publik karena ingin mengurangi pencemaran udara. Memilih jadi vegetarian karena tidak mau mengonsumsi produk hasil penggembalaan berlebihan. Dalam skala ekstrim, memilih hidup jauh dari wilayah urban dan sedapat mungkin menjadikan rumah menggunakan berbagai sumber daya terbarukan dan dapat didaur ulang.

Dalam perspektif marketing, segmen konsumen dengan gaya hidup hijau sudah ada sejak lama di Indonesia, namun besaran pasar relatif terbatas dan cenderung stagnan. Keterbatasan dan stagnasi tersebut dapat dipahami karena kebijakan pemerintah belum mendukung konservasi lingkungan hidup dan memberikan insentif terhadap gaya hidup hijau secara komprehensif.

Namun data-data terbaru masalah lingkungan di Indonesia seharusnya membuat pemerintah mawas diri dan tidak lagi cenderung abai. Berbasis data Hansen, University of Maryland 2000 – 2017, laju penggundulan hutan sepanjang 2015 – 2017 mencapai 650.000 hektar. Lalu, pembangunan PLTU berbahan bakar batubara, khususnya di Pulau Jawa, sudah membuat buruk kualitas udara Indonesia. Masih ada pula kasus sampah plastik yang memasukkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

Tak dapat dipungkiri, Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi seperti saat ini antara lain karena kontribusi signifikan industri tambang dan listrik murah hasil pembakaran batu bara. Namun, jika penyokong pertumbuhan ekonomi tetap dari sumber sama, kelak keluaran yang muncul bakal menjadi bumerang.

Bentuk bumerang tersebut adalah lambatnya kenaikan kualitas Indeks Pembangunan Manusia, kerusakan sumber daya hayati yang dapat berdampak buruk kepada industri pariwisata, boikot pasar negara maju karena menemukan bukti bahwa produk Indonesia tidak ramah lingkungan, dan masih banyak lagi.

Jika Presiden Joko Widodo yang baru saja terpilih kembali sebagai Presiden Indonesia periode 2019 – 2024 benar-benar serius membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka isu lingkungan wajib menjadi prioritas. Meski isu tersebut tidak ditekankan saat debat capres dan pidato kemenangan, penekanan isu tersebut perlu terwujud saat kabinet 2019 – 2024 mulai bekerja.

Segmen konsumen pecinta produk ramah lingkungan 

Gadis muda Indonesia – sumber Pixabay – aiilolo

Terlepas dari perhatian pemerintah terhadap isu lingkungan, pelanggan Indonesia pecinta produk ramah lingkungan adalah konsumen yang memerhatikan data-data masalah kerusakan lingkungan. Mereka perhatian, mereka peduli, dan karenanya, mereka memilih produk-produk dan gaya hidup hijau sebagai manifestasi kepedulian mereka.

Dari perspektif produsen, keberadaan mereka tidak dapat diremehkan. Segmen konsumen pecinta produk ramah lingkungan dan pelaku gaya hidup hijau tetap eksis di Indonesia meski Indonesia belum memiliki kebijakan keras, tegas, dan komprehensif terhadap isu lingkungan seperti layaknya negara-negara Eropa Barat. Apalagi, kemungkinan pertambahan jumlah konsumen yang menjalankan gaya hidup hijau semakin potensial antara lain karena beberapa hal berikut:

  1. Pemerintah semakin menggalakkan industri pariwisata,
  2. Semakin banyak perda yang mendukung pengurangan produk plastik, khususnya produk plastik sekali pakai,
  3. Telah ditanda tanganinya Perpres Mobil Listrik,
  4. Adanya gerakan-gerakan masyarakat yang berhasil menekan pemerintah, khususnya pemerintah daerah, untuk lebih memerhatikan produk ramah lingkungan dengan pemberian payung hukum.

Maka, karena basis pasar tetap kuat dalam skala belasan bahkan puluhan tahun dan ditambah indikasi pertambahan jumlah konsumen, sudah saatnya kebutuhan dan keinginan para pelaku gaya hidup hijau ini dipenuhi. Berikan kepada mereka produk-produk yang memang memenuhi harapan mereka dan jika bisa, melebihi ekspektasi.

Berikan informasi sejak tahap awal paparan informasi kepada calon konsumen bahwa mereka dapat semakin menghidupkan gaya hidup hijau yang mereka jalankan melalui produk-produk yang sudah disediakan untuk mereka. Berikan pula pembuktian bahwa produk yang ditawarkan memang mendukung gaya hidup hijau, misal dengan menunjukkan Penghargaan Proper Emas dari pemerintah, meberikan narasi perjalanan produk dari hulu hingga ke tangan konsumen, maupun ajakan kepada pelanggan untuk terlibat langsung dalam desain produk yang mendukung gaya hidup hijau.

Yang terpenting, pelanggan dengan gaya hidup hijau secara umum adalah golongan terdidik, dari golongan menengah dan atas, serta menginginkan jaminan dalam konsumsi produk. Saat mereka sudah mendapatkan jaminan dari suatu produk, sulit bagi mereka berpindah ke produk lain kecuali jika produk lama mencederai janji atau produk pesaing memberikan jaminan yang lebih baik. Jadi, konsumen dengan gaya hidup hijau dapat meningkatkan signifikansi usia produk yang berkelanjutan.

Depok, 14 Agustus 2019

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s