Venture Capital dalam Industri 4.0 di Indonesia

Apa saja yang harus dimiliki dan mampu dikerjakan para pemodal ventura agar mampu menciptakan unicorn baru di Indonesia serta mengembangkan ekonomi digital? 

Bersama Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures; Foto: Lilyanti

Go-jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak, hampir bisa dipastikan semua warganet Indonesia mengenal nama-nama tersebut dan ada kemungkinan pernah menggunakan jasa mereka, khususnya warganet yang tinggal di wilayah urban di Pulau Jawa. Khusus Go-jek dengan data terbaru per akhir kuartal I 2019, Go-jek sudah ditasbihkan sebagai decacorn (valuasi US$ 10 miliar) pertama dari Indonesia.

Bersama Andi S Boediman (Managing Partner Ideosource)

Selain kemampuan luar biasa nama-nama di atas dalam memahami segmen konsumen yang mereka pilih, ada juga peran signifikan para pemodal ventura yang membuat empat start-up tersebut mampu memiliki valuasi sangat tinggi dalam waktu kurang dari satu dekade. Atas campur tangan para pemodal bentura pula, valuasi yang mereka miliki bahkan mampu mengalahkan nama-nama lama, termasuk yang dimiliki pemerintah dan berjejaring internasional.

Bersama Steven Vanada (Vice President CyberAgent Ventures)

Lantas, apa saja modal yang dimiliki oleh para pemodal ventura sehingga mereka mampu menciptakan perusahaan-perusahaan pemula yang menjadi unicorn? Tentu modal yang mereka miliki tidak sekedar modal finansial, tetapi juga modal non-finansial seperti akses teknologi, akses talenta, hingga akses politik.

Peran pemodal ventura dalam revolusi industri

Revolusi industri 4.0 sudah rutin didengungkan pemerintah dan para pemangku kepentingan. Melalui revolusi industri 4.0 pula, kita melihat perubahan paradigm dari ekonomi berbasis komoditas ke ekonomi berbasis budaya/properti intelektual dan ekonomi berbagi. Revolusi industri 4.0 yang sudah berlangsung ini bukan tanpa masalah. Studi McKinsey (2016) menyatakan bahwa 52,6 juta pekerjaan di Indonesia berpotensi digantikan oleh otomatisasi. Dalam studi McKinsey 2016 pula, dinyatakan akan ada 3,7 juta pekerjaan baru dari sector digital dalam tujuh tahun ke depan di Indonesia.

Dari prediksi tersebut, kita sudah bisa melihat bahwa teknologi otomasi sudah menjadi tantangan yang jauh lebih mengerikan daripada sekedar isu serbuan tenaga kerja asing berjumlah jutaan. Mengerikan karena kemajuan teknologi adalah hal yang sebenarnya lebih signifikan menggantikan peran manusia dan kemajuan tersebut hampir mustahil dibendung.

Dari data CSIS 2018, kita mendapatkan gambaran bidang-bidang baru yang lahir dari industri 4.0, misal robot otomasi, komputasi awan, internet segala, keamanan siber, hingga integrasi sistem. Keberadaan teknologi-teknologi industri 4.0 mampu menyingkirkan pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Maka, para pihak yang memiliki profesi yang bersifat rutin dan berulang harus berhati-hati karena sangat mungkin digantikan oleh mesin dalam industri 4.0. Salah satu pekerjaan yang dimaksud adalah sopir yang mana saat ini sudah muncul teknologi kemudi mandiri yang memungkinkan mobil mampu berkendara tanpa sopir.

Sudah bisa kita lihat bahwa dalam industri 4.0, para individu yang mampu bertahan dan terus melaju adalah individu yang mampu melihat bahwa mesin sesungguhnya menguatkan dan menguntungkan para pekerja, sehingga para individu tersebut meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, empati, dan kreativitas.

Dari pemaparan yang sudah disampaikan, industri 4.0 memang menghilangkan sebagian pekerjaan namun sekaligus membuka peluang baru di bidang yang belum pernah ada sebelumnya. Berbasis data yang sudah ada dan berjalan di Indonesia, saat ini telah ada digitalisasi loka pasar, digitalisasi pariwisata, digitalisasi pendidikan, dan digitalisasi pasar kerja. Agar akselerasi digitalisasi berjalan optimal, pemerintah Indonesia perlu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan keluaran sebagai berikut:

  1. Mendorong UMKM,
  2. Mendorong pertumbuhan ekonomi,
  3. Menciptakan SDM yang kompeten,
  4. Menciptakan lebih banyak peluang ekonomi.

Dengan segala keterbatasan yang ada beserta realitas dunia, tentu Pemerintah Indonesia memerlukan bantuan pemangku kepentingan terkat agar empat keluaran tersebut dapat berjalan maksimal. Salah satu pemangku kepentingan yang mampu membantu adalah para pemodal ventura.

Pemodal ventura yang baik adalah pemodal ventura yang mampu mengembangkan ekonomi digital di Indonesia. Turunan dari kemampuan pemodal ventura untuk pengembangan ekonomi digital di Indonesia antara lain:

  1. Memiliki akses terhadap sumber modal dalam skala masif,
  2. Memiliki pengetahuan ekonomi makro dan ekonomi mikro secara mendalam, baik global maupun lokal,
  3. Memiliki pengetahuan dan kemampuan deteksi perusahaan pemula yang berpotensi menjadi pemain ternama, bahkan menjadi level unicorn, di masa depan,
  4. Memiliki akses terhadap institusi-institusi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pendidikan untuk industri 4.0,
  5. Memiliki jejaring internasional yang memudahkan lalu lintas modal, pengetahuan, dan pengalaman berjalan cepat,
  6. Memiliki portofolio/rencana portofolio perusahaan pemula yang mampu saling mendukung dalam bentuk ekosistem digital.

Saat kita mencoba menjadikan kemampuan-kemampuan di atas dalam bentuk atribut pemodal ventura, dapat diperoleh hal-hal berikut:

  • Pembelajar cepat. Mampu mengolah informasi dalam skala besar dan dari berbagai topik dengan cepat,
  • Mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan,
  • Mampu mengolah ide-ide kompleks dan berbagai fenomena yang ada hingga ke akarnya,
  • Mampu berpikir dingin dan bersikap tenang dalam keadaan penuh tekanan dan turbulensi,
  • Visioner. Mampu melihat ke arah mana dunia melaju.

Apa yang sudah dijabarkan di atas memang terlihat simplistik dan jauh dari komprehensif karena dunia pemodal ventura adalah dunia yang kompleks. Meski demikian, penjabaran di atas sudah cukup menjelaskan hal-hal penting yang membuat pemodal ventura mampu bertahan dan meraih kesuksesan dalam konteks pengembangan ekonomi digital di Indonesia.

Jika kita merujuk ke tokoh-tokoh investor ternama di luar negeri, misal Michael Moritz, John Doerr, Marc Andreesen, Shana Fisher, dan Chris Sacca, kita mengetahui bahwa tokoh-tokoh tersebut telah membangun institusi yang mengembangkan sistem untuk mengidentifikasi dan mengembangkan faktor-faktor penunjang industri teknologi tinggi. Melihat portofolio mereka, terlihat adanya kemampuan mengidentifikasi, memanggil, melatih, dan mengelola para talenta hebat.

Yang juga patut diingat, para pemodal ventura harus memiliki kemampuan regenerasi. Berarti mereka harus bisa menciptakan pelantar atau sistem yang mengidentifikasi dan melatih generasi investor papan atas di masa depan.

Berbicara khusus mengenai kemampuan regenerasi, dapat dikatakan hal tersebut masih sulit dilakukan di Indonesia. Keterbatasan sumber daya dan talenta yang tersedia secara lokal mau tidak mau mewajibkan para pemodal ventura harus bekerja dengan pemikiran global untuk mendidik generasi investor masa depan. Apalagi, pemodal ventura memiliki tantangan yang berbeda-beda di setiap zaman.

Mengambil contoh dari Amerika Serikat, apakah Fred Wilson akan menjadi investor yang sama hebat jika dia tidak mengalami ledakan dotcom dan masalah pada Flatiron Partners? Apakah Bill Gurley mendapatkan pendampingan pendidikan yang unik selama bertahun-tahun dari mitra pendiri Benchmark? Apa saja masukan-masukan utama yang didapatkan Shana Fisher selama di IAC? Apakah Michael Moritz menemukan sosok pendiri perusahaan pemula yang ideal karena menulis mengenai Steve Jobs? Masih mengenai Michael Moritz, apa yang dia pelajari dari Don Valentine dan para pendahulunya di Sequoia Capital? Bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut mampu membentuk talenta yang ada menjadi investor hebat? Lalu, apakah dengan sekedar belajar dan menimba ilmu dari para pemodal ventura ternama Amerika Serikat mampu menjamin kesuksesan di Indonesia?

Pada akhirnya, hanya waktu dan percobaan berulang yang mampu menyatakan seperti apa pemodal ventura yang masuk kategori sukses dalam mengembangkan ekonomi digital di Indonesia. Para pemodal ventura yang baru pun terus bermunculan dengan berbagai kombinasi teknologi, jaringan, pendidikan, dan jenama. Sebagai penutup, mari kita berharap agar inovasi-inovasi yang ada memang cukup cerdas  untuk menemukan dan menciptakan pemodal ventura yang memberikan kontribusi hebat dalam industri 4.0 di Indonesia.

Jakarta, 14 April 2019

(Andika Priyandana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s