Melayani Konsumen Properti Gen Y dan Gen Z

Generasi langgas dan generasi Z, meski belum mendominasi kontribusi ekonomi, sudah mulai menggantikan generasi senior sebagai konsumen properti. 

Gadis Indonesia sedang bergaya – sumber Pixabay – Deny_myo

Mengenai generasi milenial atau generasi langgas, mungkin sudah banyak perusahaan properti yang memahami cara memasarkan produk, berkomunikasi, dan memberikan layanan pelanggan kepada mereka. Lagipula, kelahiran generasi milenial di awal dekade 80 relatif memudahkan para pengusaha properti yang terbiasa dengan cara berkomunikasi konvensional. Tidak sedikit di antara generasi Y yang masih terbiasa dengan membaca media cetak, melihat televisi, dan memerhatikan baliho meski dengan frekuensi dan fokus yang semakin berkurang sehingga rasio kepada penjualan terus menurun.

Namun hampir bisa dipastikan banyak pengusaha properti Indonesia belum memahami generasi Z Indonesia dengan baik. Generasi Z lahir antara 1995 s.d. 2012 dan mereka baru akan menjadi dewasa. Mereka belum memiliki kekuatan ekonomi signifikan, apalagi untuk membeli rumah dan/atau rusun, tetapi generasi Z mengambil porsi cukup signifikan terhadap populasi dunia, yaitu sekitar 23 juta. Generasi Z secara umum adalah segmen yang sangat tergantung kepada teknologi dengan rentang waktu perhatian pendek. Mungkin saat ini generasi Z, khususnya kelahiran dekade 90, baru menjadi konsumen properti dengan nilai kecil. Tetapi mereka jelas akan menggantikan generasi terdahulu dan pengusaha properti wajib memahami perilaku konsumsi properti mereka.

Generasi Y dan generasi Z terpaku pada layar

Generasi milenial adalah generasi yang ada dalam transisi dari media konvensional ke media digital. Sedangkan generasi Z adalah generasi pertama yang dibesarkan secara eksklusif oleh telepon pintar. Sebagai contoh adalah generasi Z di wilayah Jakarta. Sangat banyak di antara mereka yang sudah mengetahui telepon seluler, lalu berpindah ke telepon pintar, sejak kecil. Kemudian, mayoritas mengakui bahwa mereka jarang melihat televisi. Bahkan ada yang mengakui sudah tidak menonton televisi lagi dalam jangka waktu signifikan.

Generasi Y dan generasi Z relatif memiliki kesamaan, yaitu mereka sama-sama terbiasa dengan internet dan mata mereka terpaku pada layar sabak, PC, dan telepon pintar untuk mengakses dan menjelajahi internet. Di internet, generasi Y dan generasi Z berbagi pengalaman pribadi pada teman-teman dan juga publik. Mereka juga menggunakan internet untuk keperluan menelusuri informasi, baik untuk tujuan mengulik kehidupan pribadi seseorang maupun untuk tujuan konsumsi, misal mencari properti yang cocok untuk liburan.

Generasi Y dan generasi Z Indonesia juga mengalami era resesi ekonomi pada akhir dekade 90 dan perlambatan ekonomi sepanjang 2008 sehingga mereka lebih memahami cara menghemat uang dan menggunakan sebaik-baiknya, khususnya untuk penciptaan pengalaman. Inilah sebabnya faktor harga memiliki pengaruh signifikan bagi generasi Y dan generasi Z.

Generasi Y dan generasi Z Indonesia, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, sangat terbiasa dengan teknologi internet untuk keperluan penelusuran informasi. Karenanya, sebagai pengusaha properti, kita perlu mengetahui beberapa hal berikut untuk menjadikan generasi Y dan generasi Z Indonesia sebagai pelanggan properti:

Pertama, pahami cara generasi Y dan generasi Z memperoleh pemasukan. Generasi Y dan generasi Z Indonesia semakin memandang tinggi profesi pebisnis. Kata kunci ”start-up”, “wirausaha”, “bisnis sendiri”, “bisnis online”, dan sejenisnya semakin memikat minat mereka. Minat terhadap dunia wirausaha tumbuh tinggi antara lain karena paparan dunia perdagangan daring dan bisnis daring yang semakin kuat di Indonesia. Nama-nama Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-jek sangat memikat hati generasi Y dan generasi Z dibandingkan nama-nama lama yang sangat menarik hati generasi-generasi sebelumnya.

Karena minat tinggi tersebut, meski generasi Y dan generasi Z ada yang bekerja sebagai karyawan/karyawati, mereka tetap mencoba kemungkinan berwirausaha di waktu senggang mereka. Dengan kata lain, generasi Y dan generasi Z Indonesia sangat mungkin memiliki sumber pendapatan dan peningkatan nilai kekayaan dari sumber-sumber berbeda. Karena itu, mereka tentu membutuhkan tempat tinggal dan bekerja yang relatif tidak berjauhan.

Kedua, pahami cara generasi Y dan generasi Z memilih tempat tinggal. Karena minat tinggi terhadap dunia wirausaha dan mencoba melakukan di waktu luang jika mereka menjadi karyawan/karyawati, generasi Y dan generasi Z tentu mengutamakan tempat tinggal yang berdekatan dengan tempat kerja. Bahkan jika memungkinkan, mereka tidak ingin menjadi komuter alias tempat tinggal dan tempat bekerja ada di dalam satu wilayah yang terjangkau dengan berjalan kaki atau naik sepeda.

Jikalau generasi Y dan generasi Z tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang satu wilayah dengan tempat bekerja, mereka akan memilih tempat tinggal dengan akses transportasi massal yang mudah. Sebagai contoh, mereka cukup naik kereta atau bus untuk pulang pergi rumah dan kantor.

Lalu, paparan gaya hidup berorientasi lingkungan membuat generasi Y dan generasi Z Indonesia semakin menjadikan kesadaran lingkungan sebagai standar emas. Maka, bentuk hunian yang menekankan ruang hijau lebih menjadi pilihan mereka.

Ketiga, konektivitas tanpa kompromi. Di mana pun berada, generasi Y dan generasi Z sangat mengutamakan konektivitas internet. Apalagi generasi Z yang notabene sejak lahir sudah mengonsumsi internet. Ditambah dengan keberadaan satelit yang semakin memudahkan akses internet telah membuat ketersediaan akses internet di tempat tinggal dan tempat kerja adalah kewajiban. Maka, pastikan properti yang disediakan untuk generasi Y dan generasi Z menyediakan akses internet.

Keempat, dapat menghubungi dan dihubungi melalui berbagai kanal. Menghubungi dan dihubungi bermakna komunikasi dua arah. Media cetak, media televisi, dan media luar ruang seperti baliho adalah bentuk komunikasi satu arah. Generasi Y dan generasi Z adalah generasi yang terbiasa dengan penelusuran informasi melalui internet dan menginginkan komunikasi dua arah. Maka, pelayanan pelanggan yang diberikan untuk mereka sebaiknya mengakomodir dengan baik, sebagai contoh menyediakan kanal komunikasi melalui surel, WhatsApp, Telegram, dan telepon.

Kemudian, jika perusahaan properti ingin memasarkan dan berkomunikasi dengan mereka, pastikan bahwa media-media melalui kanal internet menjadi pilihan utama berhubungan dengan pelanggan generasi Y dan generasi Z. Pastikan juga bahwa media gambar dengan warna-warna menarik, dan jika mampu juga diserta media gambar bergerak, menjadi bagian dari komunikasi dengan pelanggan properti generasi Y dan generasi Z.

Kelima, pikirkan kemungkinan model bisnis berbagi properti. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, generasi Y dan generasi Z adalah generasi yang sangat memikirkan biaya. Maka ada kemungkinan jika pengusaha properti menawarkan penjualan aset gedung atau ruang dengan HGB, penawaran tersebut berakhir dengan penolakan karena generasi Y dan generasi Z memikirkan biaya-biaya tetap yang menyertai jika mengambil aset tersebut.

Hal berbeda bisa jadi akan dipikirkan generasi Y dan generasi Z jika mereka ditawarkan model berbagi tempat kerja. Jadi dalam satu ruangan, para generasi Y dan generasi Z ini akan berbagi tempat kerja, berbagi meja, kursi, dan sofa dengan sesama generasi Y dan generasi Z dari perusahaan berbeda. Basis biaya dihitung melalui biaya tetap per pekerja.

Selain tempat kerja, model bisnis berbagi properti di tempat-tempat liburan juga dapat menjadi salah satu pilihan. Sebagai contoh, generasi Y dan generasi Z Indonesia adalah generasi yang sangat mengedepankan penciptaan pengalaman. Maka, di titik-titik wisata dapat dipikirkan model bisnis berbagi tempat tinggal atau penyewaan hunian, tentunya dengan fasilitas akses internet yang baik, kepada pelanggan generasi Y dan generasi Z.

Pertanyaan sebelum mengeksekusi pemasaran dan pelayanan pelanggan 

Generasi muda Indonesia menginginkan perbedaan dan mengutamakan produk yang mampu menginspirasi mereka. Mereka mau mengetahui hal-hal berikut:

  • Apa yang membedakan produk properti A dengan produk properti B, C, dan D?
  • Seberapa baik komunikasi konsumen dan pelayanan pelanggan dibandingkan dengan para kompetitor?
  • Bagaimana cara perusahaan memperlakukan karyawan dan karyawati?
  • Apakah perusahaan memiliki kesadaran lingkungan dan pengembangan komunitas lokal?

Silahkan pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut mampu dijawab dengan baik sebelum mengeksekusi pemasaran dan pelayanan pelanggan kepada generasi Y dan generasi Z Indonesia. Perusahaan yang mampu berpikir jangka panjang sambil tetap berpijak ke masa kini, serta mengambil keputusan berbasis data, adalah perusahaan yang mampu mengambil hati dan melayani pelanggan generasi Y serta Z dengan baik.

Depok, 31 Maret 2019

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)
 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s