Siapa Mitra Berpikirmu?

Cogito ergo sum ~ Aku berpikir maka aku ada René Descartes.

Berpikir – sumber Pixabay – jarmoluk

Siapa yang ingin kita nikahi, apa pekerjaan kita, ilmu apa yang ingin kita pelajari, bagaimana cara kita berkendara, pilihan menu apa yang kita makan, dll, adalah produk berpikir. Manusia berpikir untuk memecahkan masalah, baik besar seperti cara mengurus negara maupun kecil seperti mau kencing di mana. Kita berpikir untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Pada kebanyakan waktu, kita berpikir sendiri. Tetapi juga ada waktu kita berpikir bersama orang lain – mitra berpikir. Kita berpikir bersama mitra berpikir, saling berbagi isi pikiran dan meminta masukan, nasehat, arahan, evaluasi, hingga rujukan. Itulah cara berpikir dalam hubungan kemitraan. Mitra berpikir kita bisa teman, orang tua, saudara kandung, atau bahkan orang tak dikenal.
Mengenai mitra berpikir, mentor saya memberikan masukan bahwa siapa mitra berpikir itu tidak penting. Yang jauh lebih penting adalah:
(1) bentuk kondisi saling berbagi pikiran dan,
(2) bagaimana cara mitra kita berpikir.
Bentuk kondisi saling berbagi pikiran (aku)
Hidup yang tidak terevaluasi adalah hidup yang tidak layak dijalani. Hidup yang terevaluasi berarti ada pemahaman berpikir mengenai proses berpikir yang disertai dengan evaluasi berkala dalam segala hal. Menjalani hidup yang terevaluasi berarti kita berani bertanya dan mempertanyakan banyak hal.
Mentor saya menyampaikan, agar kemampuan berpikir kita tidak bagaikan kerbau yang dicucuk hidung, kita harus berani bertanya dan mempertanyakan hal-hal yang sangat sakral bagi kita. Kita harus berani bertanya dan mempertanyakan doktrin / dogma yang kita anut dan masing-masing orang bisa berbeda.
Bagi orang yang sangat mengagungkan gaya hidup vegetarian, dia harus berani bertanya dan mempertanyakan secara berkala apakah gaya hidup vegetarian memang cocok baginya atau perlu evaluasi. Contoh lain adalah orang yang sangat mengagungkan pandangan agama tertentu yang berarti dia harus berani bertanya dan mempertanyakan apakah agama dan cara dia menjalani agama memang pantas baginya atau perlu evaluasi.
Jika ternyata hasil berpikir, bertanya, dan mempertanyakan memang perlu evaluasi, maka dia harus berani melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang dia anggap sakral.
Jika kita tidak berani bertanya, mempertanyakan, dan melakukan evaluasi terhadap dogma, doktrin, dan hal-hal yang kita anggap sakral, kita tidak pantas menahbiskan diri sebagai seseorang yang berpikir kritis. Jika kita takut atau memilih diam dan bukan bertanya, mempertanyakan, dan melakukan evaluasi terhadap keyakinan kita, kita sebenarnya berbicara hanya dari sudut pandang pribadi dan golongan sendiri.
Maka, untuk mencapai kondisi saling berbagi pikiran, mulailah dari diri kita sendiri. Kita harus siap dengan berbagai pemikiran yang sangat kontradiktif dengan kepercayaan yang kita anut. Berbagai pemikiran tersebut ada yang sangat mengguncang kemapanan kita dalam berpikir sehingga akhirnya mengubah pemahaman kita, namun ada juga yang justru membuat pemikiran kita semakin keras.
Secara umum, pemikiran yang baik adalah pemikiran yang fleksibel dan adaptif. Pemikiran yang siap berubah sesuai dengan konteks yang berlaku. Tentu saja perubahan tersebut berbasis pada metode berpikir dengan hasil teruji, valid, dan selalu siap diuji kembali di masa depan.
Bagaimana cara mitra kita berpikir (dia dan mereka)
Mentor saya mengajarkan bahwa memilih mitra berpikir sebenarnya memilih orang-orang dengan cara berpikir seperti kriteria untuk membentuk kondisi saling berbagi pikiran. Selain memberikan pendapatnya, mitra berpikir kita harus siap bertanya, mempertanyakan, dan mengevaluasi hal-hal yang dia anggap sakral dan dia hormati.
Misal, jika kita menemukan orang-orang yang rajin mengritik pihak lain di luar golongannya tetapi sangat menghindari memberikan kritik kepada golongan sendiri, berarti mereka sebenarnya bukan mitra berpikir yang baik. Orang-orang semacam itu sebaiknya tidak kita jadikan mitra berpikir karena memberikan manfaat minimal terhadap kemajuan berpikir.
Jika kita menemukan mitra berpikir yang sudah mampu membentuk kondisi berbagi pikiran, berarti dia:

  • Berani menantang pemahaman dan pemikiran kita,
  • Mampu membuat kita memodifikasi atau mengubah paradigma, asumsi, dan tindakan kita,
  • Memiliki informasi atau cara berpikir yang memprovokasi kita untuk berinovasi atau menciptakan penambahan nilai dalam kehidupan pribadi dan profesional.

Penutup

Tentu saja penjelasan di atas hanyalah penjelasan ringkas dari konsep berpikir dan mencari mitra berpikir. Ada penjelasan-penjelasan lebih lanjut seperti penggunaan rujukan primer dan sekunder, validasi data, hingga pengujian teori keilmuan.
Lalu, apakah kita bisa menciptakan kondisi saling berbagi pikiran yang baik? Mungkin bisa dalam satu, dua, atau beberapa hal tertentu, tetapi tidak dalam hal-hal lainnya. Misal kita memiliki tiga hal yang kita anggap sakral dan hanya dua yang kita bersedia untuk menciptakan kondisi saling berbagi pikiran yang baik.
Kondisi tersebut bisa pula terjadi pada mitra berpikir kita. misal dia sama-sama memiliki tiga hal yang dia anggap sakral dan hanya dua yang dia bersedia untuk menciptakan kondisi saling berbagi pikiran yang baik.
Jadi, selalu ada kondisi tidak ideal dalam kehidupan kita. Maka, hiduplah dalam realitas.
Depok, 4 Mei 2019
Andika Priyandana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s