Marketing Digital ke Warga Senior Indonesia

Anda memiliki produk yang ditujukan kepada segmen lanjut usia? Jika ya, sebaiknya Anda memasukkan kanal digital dalam strategi marketing produk untuk lansia.

Warga Senior Indonesia saat Panen Padi – sumber Pixabay – aiilolo

Data Badan Pusat Statistik berbicara, per 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia atau 9,03 persen dari keseluruhan penduduk di Indonesia. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 27,08 juta jiwa (2020), 33,69 juta jiwa (2025), 40,95 juta jiwa (2030), dan 48,19 juta jiwa (2035).

Jelas bahwa profil demografi penduduk Indonesia sudah berstruktur tua karena memiliki populasi lansia di atas tujuh persen dengan tren positif. Selain itu berbasis data Kemenkes RI (2017), terlihat jika persentase penduduk 0-4 tahun lebih rendah dibandingkan dengan persentase penduduk 5-9 tahun. Sementara persentase penduduk 10-44 tahun terbesar jika dibandingkan dengan kelompok umur lainnya.

Profil Pengguna Facebook di Indonesia – Sumber Hootsuite Jan 2018

Data tersebut menunjukkan bahwa demografi lansia pantang diremehkan, bahkan selayaknya sangat dihargai. Sebagai contoh berbasis data We Are Social (2018), warga lansia pengguna Facebook di Indonesia ada di kisaran 10% dari total populasi warga lansia di Indonesia. Angka tersebut jelas bukan angka yang kecil.

Mari geser sedikit pandangan kita yang terlalu menitikberatkan ke Generasi Y dan Generasi Z. Mari mulai perhatikan para warga lansia secara sangat positif dan tidak memosisikan mereka sebagai beban hanya karena sudah di luar usia produktif. Ketahuilah bahwa sebenarnya masih sangat banyak warga lansia di Indonesia yang produktif, dengan posisi sebagai kepala keluarga yang harus menjaga tungku dapur tetap panas hingga pimpinan perusahaan yang harus memastikan roda perusahaan tetap berjalan.

Warga lansia Indonesia: Siapa dan bagaimana

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas ((Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 2004). Lansia di Indonesia, khususnya lansia muda (60 s.d. 69 tahun) adalah generasi yang cukup melek digital. Mereka terbiasa menggunakan internet, baik dengan perantaraan laptop, komputer meja (desktop computer), dan piranti bergerak (mobile).

Memang kita bakal mudah berasumsi bahwa generasi yang terobsesi dengan teknologi adalah Generasi Y dan Generasi Z. Namun, warga lansia menghargai telepon pintar mereka sama seperti anak-anak dan cucu mereka. Yang patut menjadi catatan adalah, warga lansia menggunakan teknologi internet dan perantaranya dengan cara yang berbeda. Cara berbeda dapat dilihat dari tujuan penggunaan piranti teknologi internet.

Tujuan utama warga lansia menggunakan piranti bergerak dan komputer yang terhubung ke internet adalah untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-teman terdekat. Tujuan kedua dan cukup minor adalah berbelanja daring dan mendapatkan penawaran. Pembelanjaan daring pun utamanya yang berhubungan dengan keluarga dan teman-teman terdekat, misalnya tiket pesawat untuk liburan bersama komunitas atau membeli tenda di lokapasar untuk cucu tersayang.

Karena tujuan tersebut, warga lansia menggunakan teknologi internet dengan cara simpel dan stabil dalam jangka Panjang. Mereka bukan tipe yang mudah berpindah media sosial dan aplikasi pesan, dan hal tersebut tidak mengejutkan. Jadi jika mereka sudah terbiasa menggunakan Facebook dan WhatsApp, hampir dapat dipastikan warga lansia akan tetap menggunakan dua jenama tersebut dalam jangka sangat panjang. Karena tujuan utama tersebut pula, warga lansia tidak tertarik mengunduh aplikasi-aplikasi terbaru dan tercanggih.

Maka, berbasis data yang ada, kita dapat menggunakan Facebook sebagai media sosial untuk berkomunikasi digital dengan warga lansia yang menjadi pelanggan produk kita. Berikut adalah hal-hal yang perlu menjadi catatan saat melakukan komunikasi pemasaran via media sosial untuk memastikan pesan kita tersampaikan:

Pertama, berdayakan informasi profil konsumen yang tersedia di Facebook. Saat kita membuat Fanpage dan berhasil mendapatkan ribuan likers, atau saat kita beriklan menggunakan FB Ad, Facebook memberikan kita informasi-informasi yang berguna untuk menajamkan komunikasi marketing. Jika kita rasa kurang, kita juga dapat mengunjungi profil-profil konsumen, khususnya yang diatur terlihat publik, dan mendapatkan informasi usia, kota asal, tempat kerja, dan organisasi yang diikuti.

Berbasis informasi tersebut, kita dapat mengawasi dan mengikuti aktivitas komunikasi perusahaan di media sosial dengan lebih baik. Kita dapat memilah dan memilih audiens kita dengan lebih tajam, sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka, lalu mendesain pesan pemasaran sesuai dengan basis informasi tersebut.

Kedua, lihat warga lansia sebagai sebuah komunitas. Warga Indonesia, termasuk warga senior, secara budaya adalah orang-orang yang sangat suka bersosialisasi dan berkumpul. Maka, gunakan Facebook sebagai wadah komunikasi dengan pendekatan budaya komunitas. Gunakan konten-konten visual yang menggambarkan kebersamaan yang berhubungan dengan keluarga dan teman-teman terdekat.

Ingat juga bahwa konten tidak sekedar visual, tetapi juga kata. Gunakan bahasa-bahasa sederhana dan minim interpretasi agar langsung mengena ke segmen lansia. Tujuannya tentu saja agar warga lansia dapat langsung memahami pesan kita tanpa perlu bertanya ulang kepada seseorang untuk menjelaskan bagaimana atau kenapa.

Ketiga, perluas jangkauan. Perhatikan bahwa jumlah pertemanan Facebook di Indonesia rata-rata bisa mencapai lebih dari 1000. Berbasis data, dapat dipastikan bahwa dalam 1000 pertemanan tersebut terdapat sebagian atau seluruh anggota keluarga dan teman-teman terdekat. Informasi ini menunjukkan bahwa konten produk kita dapat meraih jangkauan yang lebih luas jika isinya menarik untuk dibagikan. Bahkan, bisa jadi konsumen yang kita tuju belum memerlukan produk kita. Namun karena komunikasi yang menarik dan informatif, dia akan mereferensikan kepada anggota keluarga dan teman terdekat.

Jelas sudah bahwa warga lansia tidak dapat disepelekan. Yang patut diingat dari saran yang sudah diberikan adalah, media sosial bukan sihir. Membuat laman perusahaan tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada yang mengelola secara aktif. Untuk memastikan laman perusahaan kita di media sosial dapat mengajak konsumen berpartisipasi aktif, kita memerlukan strategi matang dan tim marketing yang berdedikasi.

Depok, 15 Juli 2018

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Agustus 2018

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s