Potensi Layanan Kesehatan Digital di Indonesia

Tim kesehatan masa kini = pasien + dokter + mesin.

Industri kesehatan adalah pasar yang besar dan memiliki potensi besar untuk meraih keuntungan. Hannah Nawi, Associate Director, Healthcare Practice, Asia Pacific, Frost & Sullivan, menyampaikan prediksi perusahaan bahwa belanja kesehatan di Indonesia dapat mencapai USD 60,6 miliar pada 2018. Meningkatnya harapan hidup di negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, berdampak pada berbagai hal, antara lain naiknya perawatan kesehatan jangka panjang.

Generasi Muda Indonesia – sumber Inspiratorfreak.com

Selain perawatan kesehatan jangka panjang untuk manula, rata-rata usia populasi konsumen Indonesia yang berusia muda dan banyak diwakili generasi Y dan generasi Z turut mendorong permintaan layanan kesehatan. Namun tingginya permintaan layanan kesehatan kurang diimbangi dengan ketersediaan dan akses menuju layanan kesehatan. Saat ini, pemerintah terlihat memiliki keterbatasan dalam memberikan akses layanan kesehatan kepada masyarakat.

Terhadap masalah tersebut, teknologi dapat menjadi salah satu solusi mengatasi keterbatasan akses layanan kesehatan kepada masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi, layanan kesehatan dapat ditingkatkan, khususnya kepada generasi Y dan Z yang melek teknologi dan semakin aktif menggunakan teknologi digital untuk pelayanan mandiri dalam berbagai industri.

Pemanfaatan teknologi juga dapat mendukung pemerataan layanan kesehatan di seluruh penjuru Indonesia, karena saat ini banyak spesialis layanan kesehatan hanya tersedia di kota-kota besar dan keberadaannya menyulitkan warga yang terletak di daerah pedesaan untuk menjangkau secara langsung. Salah satu contoh penerapannya adalah dengan perantaraan sistem telemedika, antara pasien dan dokter dapat berkonsultasi melalui video dan diagnosis jarak jauh tanpa harus datang langsung ke klinik.

Perawat rumah sakit – sumber Pixabay – sasint

Penerapan E-health di masyarakat

eHealth (atau e-health) adalah praktik layanan kesehatan relatif baru dan muncul sebagai bentuk pertemuan antara kesehatan masyarakat, informatika medis, dan bisnis, yang disampaikan dan dioptimalkan melalui perantaraan internet dan teknologi terkait. Bentuk-bentuk e-health di masyarakat antara lain aplikasi kesehatan dan tautan-tautan di telepon seluler.

Secara lebih detail, berikut adalah berbagai penerapan teknologi informasi dalam layanan kesehatan kepada masyarakat:

  • Sistem informasi layanan kesehatan / informatika kesehatan (healthcare information systems / health informatics): Sering direferensikan sebagai solusi piranti lunak untuk jadwal pertemuan, manajemen data pasien, manajemen jadwal kerja, dan tugas-tugas administratif lainnya yang berhubungan dengan kesehatan.
  • Riset medis menggunakan grid computing: penggunaan sistem komputer terintegrasi dan optimalisasi kapabilitas manajemen data untuk menangani data heterogen dalam jumlah besar.
  • Mobile health atau m-health: termasuk di dalamnya adalah penggunaan piranti bergerak untuk mengumpulkan data agregat dan data kesehatan pasien, sehingga menyediakan informasi layanan kesehatan kepada para praktisi, periset, dan pasien, termasuk pengawasan data vital pasien secara langsung, serta pelayanan konsultasi secara langsung melalui mobile telemedicine.
  • Tim virtual layanan kesehatan: terdiri dari para profesional layanan kesehatan yang berkolaborasi dan berbagi informasi mengenai pasien melalui piranti digital.
  • Manajemen pengetahuan kesehatan: sebagai contoh adalah catatan medis terakhir, acuan praktis terbaik atau penelusuran epidemiologi.
  • Informatika kesehatan konsumen: penggunaan sumber-sumber elektronik untuk topik-topik medis oleh entitas-entitas kesehatan atau para pasien.
  • Telemedicine: Diagnosis psikologi dan psikis dan pelayanan jarak jauh, termasuk pengawasan fungsi organ tubuh pasien.
  • Sistem pendukung pengambilan keputusan klinis: menyediakan informasi secara elektronik mengenai protokol-protokol dan standar-standar untuk pekerja profesional layanan kesehatan untuk digunakan dalam memeriksa dan merawat pasien.
  • ePrescribing: akses kepada pilihan-pilihan pemberian resep, cetak resep untuk pasien, dan kadangkala pemberian resep melalui transmisi elektronik dari dokter ke pasien.
  • Masukan pesanan dokter terkomputerisasi: adalah pelantar untuk meminta tes diagnosis dan perawatan secara elektronik sekaligus menerima hasil.
  • Catatan kesehatan elektronik. Memungkinkan komunikasi data pasien di antara pekerja profesional layanan kesehatan yang berbeda (dokter umum, dokter spesialis, dll).

Catatan untuk layanan kesehatan digital

Meski layanan kesehatan digital memiliki potensi sangat besar untuk menjawab masalah-masalah ketersediaan fasilitas kesehatan dan akses kesehatan, layanan kesehatan digital tidak selalu menjadi solusi tepat untuk semua masalah. Sebagai contoh, akan menjadi hal yang menyulitkan untuk menggunakan layanan kesehatan digital berbasis internet jika pasien sedang dalam kondisi sakit serius atau memiliki masalah organ-organ tubuh yang mengalami nirfungsi.

Karenanya menjadi hal penting agar perkembangan layanan kesehatan digital tidak mengalienasi sebagian kelompok dalam masyarakat, kecuali jika memang dikondisikan. Sebagai contoh, adanya bantuan oleh individu dengan perantaraan layanan kesehatan digital yang tetap berbasis kode etik kedokteran dan kesehatan masyarakat.

Sehubungan dengan kode etik kedokteran dan kesehatan masyarakat, adalah hal penting bahwa standar sama selalu diterapkan sehingga sistem informasi berbeda selalu sinergis dan dapat saling berkomunikasi. Adalah hal krusial untuk memastikan sistem berjalan dengan pondasi kuat dan dapat dipercaya. Di waktu yang sama, perlu ada struktur informasi yang menjelaskan hal-hal yang perlu didokumentasi dan bagaimana informasi dibuat sehingga memudahkan penggunaan layanan kesehatan digital di masa depan.

Sebagai penutup, untuk memastikan bahwa perkembangan layanan kesehatan digital di Indonesia terus berjalan positif, perlu ada prioritas layanan yang berbasis pada kebutuhan operasional terkini dan tentunya mendapatkan dukungan konsumen. Pengenalan alat-alat elektronik juga harus dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan. Berarti, kolaborasi adalah kunci.

Jakarta, 21 Mei 2018

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Service Excellence edisi Juni 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s