Generasi Langgas Penggerak Leisure Economy

Bagaimana cara menciptakan aktivitas leisure economy berkualitas di tahun 2018?

Sektor penyumbang devisa Indonesia 2015 – 2019E

Pariwisata telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai salah satu dari tiga sektor prioritas 2018 untuk ditingkatkan peranannya kepada pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Karenanya, investasi selektif dilakukan, khususnya terhadap proyek-proyek yang mendorong produktivitas dan peningkatan aktivitas industri pariwisata, yaitu logistik, transportasi, dan infrastruktur.

Pertumbuhan komponen industri pariwisata 2011 – 2017

Langkah pemerintah agar lebih fokus berinvestasi pada investasi proyek-proyek yang mendukung produktivitas dan peningkatan aktivitas industri pariwisata pun tidak muncul secara mendadak. Jika kita memerhatikan pertumbuhan komponen-komponen pendukung pariwisata, angka-angka dua digit mulai muncul secara perlahan tapi pasti sejak 2016 dan terlihat khususnya pada transportasi udara dan rel kereta.

Dapat dikatakan, turisme sudah menjadi primadona baru dalam ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia, secara perlahan namun pasti, mulai bergeser dari yang berorientasi komoditas ke arah jasa dan gaya hidup. Minat untuk berwisata di Indonesia tumbuh tidak hanya melalui turis lokal, tetapi juga turis mancanegara. Menurut catatan BPS (2017), kedatangan pengunjung asing ke Indonesia melalui titik-titik masuk dari Ngurah Rai, Tanjung Balai Karimun, dll naik sebesar 25,05 persen sepanjang Januari – September 2017 (yoy).

Kini, setelah kita mengetahui prioritas pemerintah serta angka petunjuk pertumbuhan ekonomi, tentu akan sangat disayangkan jika kita tidak ikut terlibat di dalam industri pariwisata. Namun sebelum kita masuk ke dalam industri pariwisata Indonesia, entah melalui sektor transportasi, logistik, restoran, atau lainnya, tentu kita harus memiliki strategi dan taktik agar usaha yang kita curahkan tidak sia-sia.

Fokus pada generasi langgas

Generasi langgas, atau bisa disebut juga Generasi Y atau Generasi Milenial, adalah sekumpulan individu yang per 2018 berusia antara 19 tahun s.d. 38 tahun. Generasi ini, baik di Indonesia maupun dunia, sudah diketahui dengan kemandirian dan kekuatan ekonomi yang mereka miliki. Meski kekuatan ekonomi saat ini masih didominasi generasi sebelum mereka, namun generasi milenial sudah bisa dipastikan semakin menggerakkan arah ekonomi. Karenanya, menafikan keberadaan mereka adalah kesalahan fatal.

Pengaruh generasi langgas dalam dunia ekonomi sudah terasa dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Sebagai contoh, semakin banyak media cetak di Indonesia yang menghentikan produksi untuk beralih sepenuhnya ke daring atau gulung tikar 100 persen. Selain media cetak, kenaikan pesat transportasi udara rendah biaya (low cost carrier) juga didorong oleh generasi langgas.

Selain media cetak dan transportasi udara, industri ritel khususnya di wilayah Jakarta turut merasakan dampak pergeseran perilaku konsumen yang semakin didominasi generasi milenial. Pusat-pusat perbelanjaan yang menekankan pada produk dan bukan gaya hidup semakin ditinggalkan pengunjung, padahal tidak sedikit di antara mereka yang berlokasi di wilayah strategis.

Maka, jika kita ingin berhasil dalam industri pariwisata di Indonesia, letakkan fokus kita pada kebutuhan-kebutuhan generasi Y. Ketahui dan penuhi sebaik mungkin kebutuhan-kebutuhan mereka, baik saat mereka sedang berselancar menyusuri ombak laut maupun saat bercengkerama di restoran.

Generasi langgas dan leisure economy

Leisure economy, atau biasa diterjemahkan sebagai ekonomi rekreasi, adalah ekonomi yang berbasis pada penciptaan pengalaman, hiburan, dan kreativitas. Jika ada entitas menjalankan e-leisure economy, berarti usaha penciptaan pengalaman, hiburan, dan kreativitas yang dilakukan berbasis pada teknologi digital.

Berbagai studi menyebutkan bahwa generasi langgas yang berasal dari kelas menengah adalah konsumen yang megutamakan pengalaman dan interaksi saat mereka mengonsumsi sebuah produk. Besaran generasi langgas dan jumlah kelas menengah yang signifikan di Indonesia menjadi salah satu penyebab industri pariwisata di Indonesia bertumbuh pesat. Apalagi, pariwisata adalah industri yang bertumpu pada penciptaan pengalaman untuk konsumen dan generasi milenial mengutamakan pengalaman dalam mengonsumsi produk. Bisnis-bisnis yang berhungan erat dengan pariwisata pun turut terkena cipratan rezeki, misalnya restoran, perhotelan, dan tiket daring.

Hal yang paling menarik dari leisure economy adalah potensinya yang tiada batas. Sebuah artikel dari The Economist (2016) sudah memastikan hal tersebut. Namun, kesempatan yang tiada batas bisa jadi memusingkan para pebisnis dan pemasar yang ingin mereguk manis ekonomi rekreasi di Indonesia. Maka, kita perlu memilah dan memilih agar bisnis kita dapat berusia panjang dan basis pemilihan kita tentunya melihat kebutuhan konsumen milenial, ketersediaan sumber daya (finansial, tenaga kerja, dll), kompetisi, dan dukungan pemerintah.

Berlibur sambil berselancar

Sesuai dengan rencana pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai penyumbang devisa nomor satu per 2018, maka segala macam aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan pariwisata pantas menjadi prioritas bisnis nomor satu dengan tujuan memenuhi dahaga rekreasi generasi langgas.

Dari berbagai varian bisnis pariwisata, sebuah artikel The Economist tahun 2016 berjudul “Surfing to Success” dapat menjadi salah satu sumber insipirasi kita. Disebutkan bahwa ombak yang berkualitas memberi dorongan signifikan dalam aktivitas ekonomi. Sebuah ilmu bernama surfonomics, yang diinisiasi oleh Chad Nielsen pendiri Surfrider Foundation, memberikan temuan berbasis survei bahwa semakin berkualitas ombak yang ada di suatu wilayah, maka kebutuhan makanan, minuman, dan penginapan di sekitar pantai yang terdapat ombak berkualitas tersebut turut meningkat.

Thomas McGregor dan Samuel Wills dari Universitas Oxford pernah melakukan riset yang juga berhubungan dengan kualitas ombak, namun melalui pendekatan berbeda. Mereka melakukan pemilihan data ombak berkualitas berdasarkan masukan peselancar pemilih dan citra satelit di malam hari. Temuan mereka adalah, wilayah di sekitar pantai dengan ombak berkualitas tinggi terlihat lebih terang dan semakin menyala dari waktu ke waktu. Sedangkan pantai-pantai dengan ombak berkualitas rendah menghilang ditelan kegelapan malam.

Jadi, ombak ternyata tidak sekedar air laut yang bergerak. Ombak berkualitas tinggi dapat menciptakan aktivitas ekonomi bernilai USD 50 miliar per tahun secara global. Saat peselancar menemukan titik ombak berkualitas, pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dapat naik hingga poin tiga persen dalam lima tahun ke depan. Ombak berkualitas juga dapat mendorong daerah-daerah miskin untuk bertumbuh dan mereguk manisnya ekonomi ombak.

Indonesia tentunya dapat ikut andil secara signifikan dalam aktivitas berlibur sambil berselancar yang dilakukan generasi langgas, baik dari dalam dan luar negeri. Tidak sedikit titik-titik selancar Indonesia yang sudah tersohor ke mancanegara. Sebagai contoh Pantai Plengkung di Banyuwangi, Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, Ombak Tujuh di Sukabumi, dan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat.

Namun patut diingat, dibutuhkan lebih dari sekedar ombak bagus untuk menjamin ledakan ekonomi. Menurut Messrs McGregor dan Wills, untuk meraih kesempatan ekonomi, negara memerlukan situasi politik yang stabil dan iklim bisnis yang nyaman.

Berekreasi dengan teknologi

Saat generasi milenial akan memilih paket wisata atau memilih tujuan berlibur, hal-hal yang akan dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama-tama, dia akan melakukan penelusuran informasi tujuan wisata melalui PC, ponsel, atau laptop. Melalui tablet, tautan-tautan yang dibuka biasanya blog, forum internet, atau artikel media daring mengenai paket liburan dan pengalaman berlibur. Kemudian, dia akan melakukan riset harga mengenai paket wisata, biaya penginapan, harga tiket pesawat dan melakukan perbandingan harga melalui situs-situs aggregator. Terakhir, sang generasi milenial membeli semua kebutuhan mulai dari tiket pesawat, sewa hotel, dll, melalui ponsel pada saat makan siang keesokan harinya.

Dari proses pembelian yang sudah disampaikan, terdapat banyak potensi bisnis yang berkenaan dengan teknologi untuk memenuhi kebutuhan generasi langgas mengenai informasi pariwisata. Misal, kita dapat membuat blog-blog yang membahas dunia wisata di Indonesia dengan kata kunci populer. Saat artikel dalam blog sudah menuai traffic tinggi, kita dapat memonetisasi dengan ad exchange.

Selain blog, kita dapat membuat paket liburan yang menjadikan situs sebagai media utama penyampaian informasi hingga melakukan transaksi. Misal, kita adalah biro wisata dan kita dapat membuat situs yang membahas khusus mengenai titik selancar yang ada di Banyuwangi. Dalam situs tersebut, kita memuat semua informasi yang diperlukan konsumen, misal biaya penginapan, tiket pesawat menuju dan kembali, hingga biaya makan sehari-hari.

Jadi, potensi ekonomi rekreasi memang benar-benar tak terbatas. Jika ternyata terbatas, sebaiknya lakukan evaluasi diri. Bisa jadi kita kurang mampu berimajinasi dan berkreasi.

Depok, 24 Januari 2018

(Andika Priyandana – dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Februari 2018

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s