Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru

Ada yang menyatakan ekonomi Indonesia melemah dan ada juga yang menyatakan ekonomi Indonesia menguat. Yang benar yang mana?

Ekonomi mampu berjalan, tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan karena melibatkan banyak faktor. Saat kita berbicara dari perspektif marketing, peran konsumen sangat penting dan menjadi orientasi utama karena memang marketing seharusnya berorientasi konsumen. Marketing harus memahami dan mengerti bahwa konsumen itu dinamis. Karenanya, adalah kebodohan jika menganggap perilaku konsumen usia 18 sd. 35 per tahun 2017 sama dengan perilaku konsumen usia 18 s.d. 35 per tahun 1997.

Perilaku konsumen yang berbeda mewajibkan para marketer mempraktikkan strategi marketing yang berbeda. Contoh simpel adalah jika konsumen usia 18 s.d. 35 pada tahun 1997 menjadikan televisi sebagai media konsumsi nomor satu, maka marketer perlu menjadikan televisi sebagai media komunikasi produk nomor satu. Namun jika konsumen usia 18 s.d. 35 pada tahun 2017 menjadikan internet sebagai media konsumsi nomor satu dan bukan televisi, maka marketer yang memahami perilaku konsumen akan meninggalkan televisi dan beralih ke internet sebagai media komunikasi nomor satu.

Konsumen Indonesia generasi Y dan Z

Ilustrasi 1 Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru – Penduduk Indonesia menurut kelompok umur dan jenis kelamin 2016

Saat kita menilik komposisi penduduk Indonesia berbasis kelompok umur dan jenis kelamin (2016) yang berbentuk piramida, terlihat jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 258 juta didominasi oleh usia muda dan produktik. Lalu dari segmen usia tersebut, generasi Y dan Z yang lahir pasca tahun 1980 menguasai lebih dari 50% populasi penduduk. Lalu dari segmen generasi Y dan Z, yang masuk dalam segmen usia 18 s.d. 35 alias usia produktif ada sekitar 25%.

Angka tersebut jelas berpengaruh signifikan karena kontribusi ekonomi dan konsumsi mereka semakin merangsek dan menggeser segmen-segmen usia di atas mereka. Segmen generasi Y dan Z pun menunjukkan perilaku yang berbeda secara signifikan dibandingkan dengan senior mereka karena kehadiran teknologi internet dan ledakan segmen ekonomi kelas menengah Indonesia yang dimulai pada awal abad 21.

Ilustrasi 2 Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru – Proporsi media berbasis generasi

Perbandingan perbedaan perilaku konsumsi media antara generasi Y dan Z dibandingkan dengan generasi yang lebih senior terlihat dalam hasil riset yang dilakukan Nielsen (2017). Dari riset Nielsen, ditemukan bahwa generasi Y dan Z mendominasi konsumsi internet sebesar 77 persen. Hal menarik lain yang ditemukan Nielsen adalah konsumsi bioskop yang berhubungan erat dengan gaya hidup.

Generasi Y dan Z kembali mendominasi konsumsi media bioskop sebesar 84 persen. Data berbicara dan sudah seharusnya para marketer produk-produk yang menyasar generasi Y dan Z menyusun strategi marketing berbasis temuan ini. Bahkan, ada indikasi bahwa perilaku generasi Y dan Z ikut memengaruhi generasi yang lebih senior, antara lain perilaku pembelian setelah melihat iklan internet.

Ilustrasi 3 Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru – Usia konsumen melakukan pembelian secara daring

Nielsen (2017) masih dalam riset yang sama menemukan bahwa lebih dari 30 persen konsumen di semua segmen umur, kecuali segmen umur 50+ melakukan tindakan berupa pembelian produk setelah melihat iklan video daring.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen Indonesia, khususnya generasi Y dan Z sudah sangat dipengaruhi teknologi internet saat melakukan kegiatan konsumsi. Misal saat mengalami masalah dan ingin mencari informasi produk, konsumen generasi Y dan Z sangat mungkin melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Mereka akan mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan masalah mereka di situs penelusur untuk mengetahui produk-produk yang bisa menjadi solusi masalah mereka,
  2. Setelah hasil penelusuran keluar, mereka akan melakukan klik ke beberapa tautan. Tautan yang mereka klik adalah iklan daring yang berhubungan dengan kata kunci yang mereka ketikkan dan informasi-informasi lain yang berkorelasi,
  3. Setelah menemukan produk yang dirasa cocok dan bisa menjadi solusi masalah mereka, mereka akan mencari informasi lebih jauh dengan membandingkan beberapa merek. Cara membandingkan bisa melalui forum-forum ulasan produk atau media berbasis internet lainnya,
  4. Setelah perbandingan merek selesai, mereka akan memilih satu merek untuk mereka beli dan jika memungkinkan, pembelian dilakukan secara daring,
  5. Setelah melakukan pembelian dan mmengonsumsi produk, mereka akan melakukan evaluasi merek dan hasil evaluasi tersebut menjadi dasar keputusan apakah melakukan pembelian ulang atau berhenti melakukan konsumsi.

Dari paparan yang sudah disampaikan, kita sudah bisa mendapatkan gambaran sementara bahwa produk-produk yang semakin melemah pertumbuhannya dan bahkan mungkin minus adalah produk-produk yang menyasar generasi X, baby boomers, dan silent generation. Sedangkan produk-produk yang memiliki pertumbuhan stabil dan bahkan meningkat adalah produk-produk yang menyasar generasi Y dan Z serta mempraktikkan strategi marketing yang sudah disesuaikan dengan perilaku mereka.

Industri dan produk potensial untuk generasi baru

Ilustrasi 4 Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru – Pertumbuhan PDB berbasis sektor

Badan Pusat Statistik (2017) memberikan laporan menarik mengenai pertumbuhan Produk Domestik Bruto – Gross Domestic Product (GDP) berbasis sektor. Dari paparan data, terlihat ekonomi Indonesia tetap tumbuh meski ada sektor-sektor yang melemah pertumbuhannya. Saat kita memerhatikan sektor yang memberikan sumbangan pertumbuhan PDB 2017, terlihat sektor-sektor yang berhubungan dengan gaya hidup memberikan sumbangsih pertumbuhan yang cukup signifikan.

Selain sektor-sektor yang berhubungan dengan gaya hidup, sektor konstruksi ikut tumbuh positif dan terindikasi pertumbuhan tersebut ada karena orientasi infrastruktur yang dilaksanakan Kabinet Kerja Jokowi – JK.

Ilustrasi 5 Produk Berbasis Perilaku Konsumen Generasi Baru – Pertumbuhan yoy leisure vs yoy non-leisure

Berbicara spesifik mengenai pola pembelian produk, Faisal Basri (2017) dengan basis data Badan Pusat Statistik (2017) pun menemukan adanya perubahan perilaku dalam pola pembelian produk konsumen Indonesia. Sebagai contoh, Faisal menyatakan bahwa berbasis data, terlihat pergeseran pola konsumsi dari konsumsi makanan dan apparel menjadi konsumsi produk-produk yang berhubungan dengan gaya hidup dan mengisi waktu luang (misal: bioskop, hotel, restoran, kafe, paket wisata, dan produ-produk budaya).

Maka, dapat dipahami jika ritel-ritel khususnya yang berorientasi produk mulai berguguran, khususnya di daerah-daerah dengan penekanan konsumsi produk-produk berorientasi gaya hidup yang tinggi, misalnya Jakarta. Tidak hanya sekedar ritel, mal-mal yang berorientasi lebih kepada penjualan barang semata ikut merasakan dampak pergeseran konsumsi dari non-leisure ke leisure.

Jika kita perhatikan di wilayah Jakarta, mal-mal yang semakin sepi pengunjung adalah mal-mal yang berorientasi kepada konsep lama berupa menjual barang, misal Mangga Dua, Glodok, dan Metro Pasar Baru. Mal-mal tersebut terlihat sepi meski mereka dekat dengan lokasi-lokasi yang menjadi simpul kemacetan.

Mal-mal yang berorientasi dengan gaya hidup dan rajin berinovasi agar memenuhi kebutuhan dan perilaku konsumen, khususnya generasi Y dan Z dapat bertahan dan bahkan semakin mapan. Contoh mal-mal tersebut adalah Gandaria City, Kasablanka, Grand Indonesia, Central Park, dan Senayan City. Mal-mal tersebut rutin terlihat ramai dan bahkan para pengunjung yang membawa mobil bisa kesulitan mendapatkan tempat parkir pada waktu-waktu tertentu. Jelas oleh konsumen generasi baru, mal tidak lagi dipandang sekedar tempat berbelanja.

Produk-produk yang lekat dengan industri pariwisata pun ikut mencicipi manis pergeseran konsumsi konsumen generasi baru. Per 2017, sektor pariwisata sudah memberikan sumbangan pemasukan yang sangat signifikan bagi negara dan pada 2019, dikombinasikan dengan konsumsi konsumen mancanegara, sektor pariwisata diperkirakan menjadi penyumbang PDB terbesar bagi negara (Kementerian Pariwisata, 2017).

Generasi Muda Indonesia – sumber Inspiratorfreak.com

Jadi, kini kita sudah semakin mendapatkan pengetahuan mengenai ekonomi Indonesia. Memang benar ekonomi Indonesia melemah dan hal tersebut terlihat pada sektor-sektor tertentu, antara lain sektor yang berorientasi barang dan tertuju pada segmen generasi X, baby boomers, dan silent generation. Sedangkan di sisi lain, ekonomi Indonesia juga benar menguat dan produk-produk yang menyasar generasi Y dan Z serta menjual gaya hidup dan pengalaman memiliki tren meningkat.

Nah, maka kalau kita sedang merasa stress, maka perbanyak liburan dan perbanyak santai. Lebih bagus lagi jika kita tidak sekedar menjadi konsumen produk yang menjual “liburan” dan “santai”, tetapi turut menjadi produsen penjual produk-produk produk yang menjual “liburan” dan “santai”.

Jakarta, 19 November 2017

(Andika Priyandana – dari berbagai sumber).

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Desember 2017

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s