Membangun Merek Bernama Kota

Mustahil membicarakan merek suatu negara tanpa membicarakan kota di dalamnya. Artikel ini mencoba menyelami pandangan rakyat Indonesia mengenai kota-kota di Indonesia melalui survei terukur.

Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla berfoto bersama 98 walikota seluruh Indonesia – sumber: setkab.go.id

Profesor David J. Reibstein dari Wharton School of Business dalam seminar Smart City Smart Region tidak sekedar membicarakan merek negara. Beliau turut membicarakan merek kota. Melalui survei terukur yang dieksekusi Bersama dengan Frontier Consulting Group, persepsi masyarakat Indonesia mengenai kota-kota di Indonesia dapat terpetakan dengan jauh lebih baik dan karenanya, dapat menjadi pegangan para pejabat pemerintah daerah yang ingin menjadikan wilayahnya terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Relatif berbeda dengan survei untuk mengetahui merek negara di mata warga global, survei yang dilakukan kepada masyarakat Indonesia untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kota-kota di Indonesia menggunakan variabel-variabel berikut:

  • City branding. Variabel city branding (merek kota) adalah variabel dependen yang dipengaruhi oleh variabel independen city image dan future intention.
  • City Image. City image adalah variabel independen yang bertujuan mengetahui pandangan seseorang terhadap citra sebuah kota di Indonesia dalam skala 1 – 7. Skala 1 adalah sangat jelek dan skala 7 adalah sangat baik.
  • Future Intention. Future intention adalah variabel independen yang bertujuan mengetahui minat seseorang untuk mengunjungi suatu kota di Indonesia di masa depan dalam angka 1 dan 2. Angka 1 adalah akan memikirkan dan angka 2 tidak akan memikirkan.

Dimensi dan atribut merek yang diukur untuk mengetahui persepsi merek kota-kota di Indonesia juga relatif berbeda dengan pengukuran persepsi merek negara-negara di dunia. Terdapat tujuh subranking yang diukur saat survei:

  • Adventure. Ramah, cuaca nyaman, pemandangan indah, kota indah, kota bersih.
  • Citizenship. Peduli dengan lingkungan, peduli kesetaraan gender, dapat dipercaya, kebebasan beragama.
  • Cultural Influence. Memiliki pengaruh budaya yang signifikan dalam hal hiburan, busana, gembira, memiliki budaya yang berpengaruh, modern, prestisius, trendi.
  • Entrepreneurship. Infrastruktur yang terbangun baik, populasi terdidik, berjiwa wirausaha, inovatif, akses mudah ke pendanaan, angkatan buruh terlatih, kepakaran teknologi, teknologi tinggi, bisnis transparan, regulasi yang memudahkan berbisnis, pasar yang menarik, populasi pekerja keras.
  • Heritage. Memiliki sejarah yang kaya, memiliki makanan enak, kaya dalam warisan budaya, budaya beragam, unik, agamis, budaya olahraga yang kuat, istimewa.
  • Open for Business. Tidak birokratif, biaya pembangunan murah, tidak korupsi, lingkungan pajak yang nyaman, praktik pemerintah yang transparan.
  • Quality of Life. Pasar tenaga kerja yang baik, terjangkau, ekonomi stabil, ramah keluarga, kesetaraan pendapatan, politik stabil, aman, sistem pendidikan publik yang terbangun baik, sistem kesehatan publik yang terbangun baik, tempat saya ingin hidup, dinamis.

Indeks kota-kota terbaik di Indonesia

Indonesian Best Cities Index 2017

Indeks kota-kota terbaik dieksekusi dengan rasio responden 40% Respondents City Index:60% Other City Index. Respondents City Index adalah indeks kota yang menurut persepsi penduduk kota tersebut. Other City Index adalah indeks kota berdasarkan persepsi penduduk di kota lain.

Sebagaimana bisa kita lihat pada tabel, berikut adalah lima besar kota terbaik di Indonesia berdasarkan hasil survei:

  1. Yogyakarta (56.8%),
  2. Bandung (56.1%),
  3. Surakarta (52.7%),
  4. Balikpapan (49.5%),
  5. Makassar (48.0%).

Sedangkan berdasarkan dimensi, lima besar kota-kota terbaik di Indonesia adalah sebagai berikut. Citizenship: Balikpapan pada peringkat #1 (65.9%), Surakarta pada peringkat #2 (62.1%), Bandung pada peringkat #3 (61.7%), Yogyakarta pada peringkat #4 (61.5%), dan Makassar pada peringkat #5 (59.1%);

Entrepreneurship: Bandung pada peringkat #1 (59.3%), Yogyakarta pada peringkat #2 (53.5%), Batam pada peringkat #3 (50.7%), Surakarta pada peringkat #4 (50.6%), dan Jakarta pada peringkat #5 (49.1%).

Quality of life: Yogyakarta pada peringkat #1 (60.0%), Surakarta pada peringkat #2 (57.1%), Bandung pada peringkat #3 (55.0%), Balikpapan pada peringkat #4 (51.8%), Makassar pada peringkat #5 (49.6%);

Cultural influence: Bandung pada peringkat #1 (55.9%), Denpasar pada peringkat #2 (54.1%), Yogyakarta pada peringkat #3 (51.1%), Jakarta pada peringkat #4 (49.1%), dan Makassar pada peringkat #5 (45.1%);

Open for Business: Yogyakarta pada peringkat #1 (49.8%), Surakarta pada peringkat #2 (47.8%), Bandung pada peringkat #3 (42.0%), Semarang pada peringkat #4 (39.2%), dan Padang pada peringkat #5 (37.2%);

Adventure: Bandung pada peringkat #1 (69.5%), Yogyakarta pada peringkat #2 (66.9%), Malang pada peringkat #3 (64.9%), Denpasar pada peringkat #4 (62.4%), dan Padang pada peringkat #5 (57.8%);

Heritage: Yogyakarta pada peringkat #1 (68.0%), Denpasar pada peringkat #2 (57.7%), Surakarta pada peringkat #3 (56.2%), Bandung pada peringkat #4 (53.2%), dan Makassar pada peringkat #5 (53.1%).

Dari penjelasan ringkas mengenai hasil survei yang menghasilkan ranking kota-kota terbaik di Indonesia, ada hal-hal kunci yang bisa dipetik. Dari sisi pemerintah daerah, persepsi ini menunjukkan masukan yang baik mengenai usaha-usaha yang sudah mereka lakukan selama ini dalam membangun infrastruktur fisik dan nonfisik.

Jika ada hasil kurang baik yang selaras dengan realitas, berarti perlu ada perbaikan kebijakan atau membuat kebijakan baru untuk memerbaiki hasil kurang baik tersebut. Sedangkan jika ada hasil kurang baik yang tidak selaras dengan realitas, berarti pemerintah daerah perlu melakukan komunikasi publik, misal dalam bentuk kampanye marketing.

Selain untuk urusan pembangunan daerah, hasil survei indeks kota terbaik di Indonesia juga dapat menjadi bahan data pendukung yang baik untuk keperluan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan dilangsungkan per 2018. Persepsi masyarakat kota tertentu dalam memandang kota tempat mereka tinggal maupun saat memandang kota-kota lain di Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan dalam citra kota.

Apalagi jika petahana maupun para calon yang ingin ikut berkontestasi ingin meraih popularitas dan elektabilitas yang baik. Adanya fokus masalah publik mendasar yang menjadi perhatian masyarakat tentu wajib masuk dalam program kampanye.

Jakarta, 29 Mei 2017

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Juni 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s