Generasi Muda Islam di Indonesia

Semakin kritis, semakin pintar, dan semakin inklusif sudah menjadi bagian dari ciri-ciri generasi muda Islam di Indonesia.

Organisasi sayap Nahdlatul Ulama yang notabene adalah organisasi Islam terbesar di dunia serta Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) memberikan sebuah pernyataan resmi yang bisa dikatakan sangat berani dan mengentak pemikiran lalu. Dalam deklarasi Islam untuk kemanusiaan. GP Ansor menyerukan banyak hal yang salah satunya menyerukan interpretasi ulang teks-teks Islam agar dapat beradaptasi dengan peradaban manusia terkini (Senin, 22 Mei 2017).

Lalu generasi muda di Indonesia, khususnya yang beragama Islam dari generasi Y dan Z sudah menunjukkan perbedaan karakteristik mereka dengan generasi sebelumnya. Contoh perbedaan tersebut antara lain kemampuan berpikir yang jauh lebih kritis dan kontekstual.

Akibatnya, generasi ini lebih sukar dipahami baik di lingkup pekerjaan, rumah, hingga sekolah. Patut dicatat pula, generasi muda Islam di Indonesia mengambil porsi demografi sangat besar dari total populasi Indonesia sehingga pemikiran, pandangan, dan perilaku mereka patut menjadi perhatian bagi siapa pun yang ingin mendapatkan manfaat dan menciptakan simbiosis mutualisme dari mereka.

Generasi muda Islam di Indonesia: melek teknologi dan lebih individualis

Grup Vokal Hijab Indonesia Noura

Generasi adalah kelompok yang terdiri dari individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia dan mengalami peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama (Karl Mannheim, The Problems of Generation, 1923).

Secara umum oleh berbagai lembaga, generasi Y (milenial) dikelompokkan dalam tahun kelahiran 1981 s.d. 1994 dan generasi Z dikelompokkan dalam tahun kelahiran 1995 s.d. 2010. Perpusnas.go.id menulis istilah generasi gawai (gadget) untuk menandai kemunculan generasi milenial. Sebutan yang sebenarnya juga sangat cocok disematkan kepada generasi Z.

Alasan utamanya karena gawai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Generasi milenial pun masih tersegmentasi lagi dan memiliki berbagai sebutan, antara lain google generation, net generation, dan echo boomers. Pada tangan mereka, penggunaan alat komunikasi, media, dan teknologi informasi berupa internet, surel, pesan singkat, IM, YouTube, dan lain sebagainya meningkat sangat pesat.

Dengan keberadaan teknologi yang semakin personal dan akses pengetahuan yang jauh lebih terbuka dibandingkan dengan generasi pendahulu, mereka semakin menginginkan kebebasan dalam bertindak dan berpikir, senang melakukan kustomisasi dan personalisasi. Generasi Y dan Z di Indonesia yang beragama Islam, seperti layaknya generasi Y dan Z pada umumnya, sangat mengandalkan kecepatan, hasil yang serba instan, dan komunikasi real time.

Dalam hal topik obrolan, hasil survei Alvara Research Center (2014) menunjukkan bahwa generasi muda usia 15 s.d. 24 tahun lebih menyukai topik terkait musik, film, olahraga, dan teknologi. Sedangkan generasi usia 25 s.d. 34 tahun lebih variatif dalam hal topik pembicaraan, antara lain sosial politik, ekonomi, dan keagamaan.

Khusus berbicara pandangan keagamaan, sebagai generasi muda yang tinggal di negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dan menganut dasar negara Pancasila, mereka memiliki pandangan keagamaan yang sangat beragam, antara lain ultra liberal, liberal, moderat kiri, moderat kanan, konservatif, dan ultra konservatif. Keberadaan pandangan keagamaan tersebut memunculkan pula wadah-wadah Islam yang beragam untuk mengakomodir curahan pikiran generasi muda Islam Indonesia.

Marketer memandang pasar muslim dan muslimah

Pendidikan yang semakin tinggi, ekonomi yang semakin mapan, dan akses terhadap pengetahuan global yang semakin terbuka tak pelak membuat Islam menjadi budaya populer dan bukan lagi teologi per se yang umum diketahui generasi X dan generasi-generasi terdahulu yang lebih tua.

Kini, semakin mudah menemukan generasi muda dan Islam yang kongkow di gerai-gerai kopi membicarakan isu-isu dalam Islam, misal hijab dengan segala bentuknya. Selain urusan hijab, mereka membicarakan isu-isu lain dalam Islam seperti hubungan suami dan istri, film religi, perbankan, dan tentunya kehalalan makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Isu-isu yang sebelumnya sangat tabu pun kini sudah mulai berani mereka bicarakan, misal seks dan segala kontroversinya.

Dari obrolan tersebut, bagi para pebisnis dan marketer yang jeli, tentu mengetahui bahwa ada peluang pasar dengan segmentasi penganut agama Islam yang sangat besar di Indonesia. Sebagaimana layaknya pemasar profesional, tentu mengetahui bahwa besaran segmentasi pasar muslim Indonesia perlu diriset dan dilakukan irisan-irisan yang lebih mendalam sekaligus terukur untuk mendukung kesuksesan eksekusi pemasaran untuk menjawab kebutuhan dan masalah konsumen muslim dan muslimah yang sangat beragam, misalnya kewirausahaan, busana, dan kuliner.

Dalam hal kewirausahaan, saat ini sudah ada berbagai komunitas yang menyasar segmentasi muslim dan muslimah yang tertarik dan/atau sudah mendirikan bisnis sendiri. Pada umumnya, segmentasi muslim dan muslimah ini belum memiliki pengetahuan kewirausahaan yang baik, misalnya cara melakukan riset pasar untuk mengetahui kebutuhan konsumen, desain produk sesuai nilai-nilai yang dianut konsumen, komunikasi yang menarik perhatian konsumen, hingga pengelolaan keuangan.

Jakarta Hijabers Community

Keberadaan komunitas atau lembaga pendidikan yang menyasar segmen muslim dan muslimah sudah menunjukkan langkah awal marketing yang baik. Agar keberadaan komunitas dan lembaga tersebut dapat berumur panjang dan memberikan manfaat yang besar bagi para anggota dan simpatisan, tentunya konten pendidikan yang diberikan harus benar-benar memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah mereka.

Sebagai contoh, pengetahuan bahwa segmentasi konsumen dapat dibagi berbasis geografi, demografi, dan psikografi adalah pengetahuan dasar marketing yang wajib diberikan. Dengan basis pengetahuan marketing yang baik, konsumen-konsumen komunitas atau lembaga pendidikan yang mengambil fokus kewirausahaan dapat melihat nilai-nilai konsumen yang mereka cari. Pada akhirnya, mereka mampu merencanakan strategi dan taktik marketing, meski masih level amatir, yang efektif dan efisien.

Berbicara urusan busana, hijab sudah menjadi ciri khas muslimah. Bagi generasi muda Islam di Indonesia, membicarakan hijab tidak bisa sembarangan, khususnya bagi mereka yang sudah mapan, berpendidikan tinggi, dan sadar penampilan. Para muslimah Indonesia saat ini sangat memerhatikan bahan yang digunakan, jahitan, hingga padu padan warna.

Mode Baju Muslimah Masa Kini

Maka, menjadi sangat dipahami jika banyak desainer dan desain baju muslim dan muslimah bermunculan di Indonesia. Kemunculan mereka memberikan efek berganda kepada prospek-prospek bisnis lain yang menyasar generasi muda Islam di Indonesia. Misalnya vlogger tentang cara-cara memakai hijab penuh gaya, memakai kosmetik bagi para pengguna hijab, hingga tutorial padu padan busana muslimah agar terlihat cantik dan menarik di muka umum telah tumbuh bak jamur di musim hujan.

Dalam hal kuliner, bisnis-bisnis yang menyasar penganut Islam untuk urusan kuliner juga semakin banyak. Sebagai contoh, di luar logo halal MUI, semakin banyak restoran-restoran yang umumnya ditujukan bagi kalangan menengah bawah menuliskan di depan restoran bahwa produk mereka halal dan aman dikonsumsi oleh kalangan Islam.

Bagi para pebisnis dan marketer yang jeli, urusan perut penganut Islam di Indonesia tidak lagi sekedar halal dan haram. Mereka sudah mulai memerhatikan hal-hal simpel seperti cara memasak, bumbu masakan, hingga ragam menu yang tersaji di atas meja makan. Maka, kursus-kursus memasak dengan menu khas negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam mulai bermunculan. Selain kursus memasak, menu kuliner yang sebenarnya lebih identik dengan kaum Eropa namun sudah membaur dengan budaya khas negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam mulai meraih popularitas di Indonesia, misalnya es krim Turki.

Tiga contoh di atas hanya sekelumit dari potensi bisnis yang menyasar generasi muda Islam di Indonesia. Masih banyak potensi bisnis dan strategi pemasaran yang dapat diterapkan kepada mereka. Kuncinya, ketahui sebaik mungkin masalah mereka, kebutuhan mereka, dan karakteristik mereka. Lalu susun strategi tajam berbasis pengetahuan tersebut.

Depok, 26 Mei 2017

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Juni 2017

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s