Startup Indonesia Mau Bakar Uang Sampai Kapan?

Para pelaku startup di Indonesia memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berbisnis, namun sekaligus penuh keterbatasan. Kenapa?

Dalam berbagai grup-grup instant messenger dan obrolan informal di lapangan, para pengusaha bisnis-bisnis konvensional ramai membicarakan usaha baru, yang identik disebut dengan start-up, dengan mengungkapkan keheranan mereka.

Joker burning money – via DC Wiki

Banyak, kalau bukan semua, dari para pengusaha bisnis konvensional tersebut tidak memahami bagaimana mungkin startup-startup yang masih seumur jagung atau usia masih di bawah 10 tahun, masih membakar uang para investornya, namun mampu memperoleh valuasi lebih tinggi dari perusahaan-perusahaan yang sudah berusia puluhan tahun dan mencetak keuntungan.

Selain membicarakan urusan membakar uang yang dilakukan para startup, para pengusaha konvensional tersebut juga membicarakan startup-startup Indonesia yang berguguran pada tahun 2016 untuk menjustifikasi pemikiran mereka bahwa gelembung startup sedang terjadi di Indonesia. Startup-startup yang mereka bicarakan antara lain Halo Diana, Shopious, Antar, dan Zeemi.

Pemikiran serupa dan anekdot mengenai bakar-bakar uang sebenarnya juga ada di kalangan para pelaku startup. Ada cetak layar dengan kata-kata satir, “Dalam 5 tahun, start-up yang bertahan hidup cuma tinggal 2 jenis. Mentornya start-up dan media yang meliput start-up. Soalnya collapse, merger, pivot atau ganti nama start-up.” Ada juga satir lain yang beredar dan menyatakan bahwa bentuk bisnis konsultan yang laku bagi start-up adalah yang memberikan jasa meraih pendanaan tahap lanjutan dan strategi keluar (exit strategy).

Mungkin ada di kalangan start-up Indonesia yang mencoba menyangkal pandangan sinis dan satir yang sudah beredar. Namun per Februari 2017, status media sosial seorang pemimpin perusahaan yang terkenal dengan jasa fulfilment menceritakan kisahnya bertemu dengan para investor venture capital yang berasal dari China. Hasil pertemuan tersebut bisa jadi melemahkan optimisme para pihak yang terlibat dalam startup di Indonesia.

Para VC tersebut bertanya, “Kenapa susah sekali menemukan startup yang bisa jadi unicorn di Indonesia?” Para VC dari China Daratan tersebut melanjutkan penyampaiannya, “Untuk menciptakan unicorn, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan di Indonesia. Sulit bagi kami menemukan startup yang punya kekuatan teknologi yang besar dan kuat. Di sini, target pasarnya lebih besar dibandingkan dengan para produser dan pendiri startup!”

Startup umumnya membakar uang pada hal-hal berikut…

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pebisnis bahwa startup seringkali membelanjakan uang lebih banyak daripada pendapatan mereka. Memang, pendanaan bagi perusahaan rintisan manapun ibarat darah bagi makhluk hidup. Uang adalah hal vital yang mampu memastikan laju perusahaan. Namun lemahnya manajemen keuangan yang berakibat pada kehabisan uang, meski sudah mendapatkan pendanaan, adalah pembunuh startup nomor satu.

Dua hal paling esensial bagi perusahaan apa pun adalah jumlah dana yang tersedia dan rasio pembakaran uang per bulan. Jika dalam tiga hingga enam bulan ke depan sudah ada indikasi bahwa startup yang kita kelola akan kehabisan uang, berarti kita sedang dalam masalah.

Saat awal kita mulai meyakinkan investor, kita menyatakan bahwa ada kesempatan sangat besar untuk membangun sesuatu yang akan sukses. Banyak investor yang kemudian sangat menekankan tahapan atau batu-batu pijakan yang harus dilalui dan bersedia mendanai startup agar mencapai tahapan-tahapan tersebut tepat waktu. Sebagai contoh, pemodal ventura biasanya menawarkan pendanaan dengan penekanan pada komposisi tim dan pengembangan produk. Para investor pada Seri A akan mendanai produk dan pengembangan pasar untuk memastikan pendapatan, dst.

Dengan keberadaan target-target tersebut, tantangan yang ada bagi para startup adalah menginjak setiap batu pijakan yang sudah ditetapkan dengan dana tersedia. Namun, saat kita tidak bisa mengelola keuangan dengan baik untuk mencapai target yang sudah disepakati bersama, mendapatkan pendanaan baru menjadi sangat sulit dan cenderung mustahil.

Kesalahan dalam pengelolaan keuangan oleh startup biasanya terjadi pada lima hal berikut:

Pertama, merekrut staf terlalu cepat. Adalah hal umum untuk melihat startup Indonesia yang baru mendapatkan pendanaan besar melakukan perekrutan terlalu cepat sebelum benar-benar menghitung kebutuhan riil jumlah dan profil staf yang diperlukan. Dengan beban untuk meraih pendapatan sesegera mungkin, masalah perekrutan menjadi hal umum dan contohnya adalah pemahaman rancu mengenai fungsi marketing dan sales.

Sales menjadi bidang yang paling sering menjadi sumber masalah perekrutan dalam startup. Perusahaan rintisan memiliki para tenaga penjual dalam jumlah besar, sementara produk yang ada masih terlalu sedikit, penuh bug, dan masalah-masalah lain. Salah satu akibatnya adalah keluhan konsumen membanjir karena ketidaksiapan produk.

Bisa jadi perekrutan seharusnya diutamakan kepada para personel dalam hal teknis pengembangan produk atau para marketer dengan kemampuan memahami kebutuhan riil konsumen, memoles perusahaan dan produk sebelum benar-benar diluncurkan ke pasar secara masif. Mengetahui profil staf yang layak direkrut mau tidak mau harus perhitungan matang dan fase percobaan dan perbaikan. Masalah pasti terjadi, namun usahakan agar masalah tersebut terjadi dalam skala kecil.

Kedua, beban pengawasan kinerja staf. Saat startup baru mulai dengan jumlah karyawan yang minimal, biasanya hanya terdiri dari para pendiri, aura informal sangat terasa dan masing-masing individu bekerja dengan pengawasan minimal karena sudah menyadari porsi masing-masing. Friksi bisa terjadi, namun relatif masih bisa diatasi.

Tetapi budaya kerja egaliter tersebut belum tentu bisa bertahan lama seiring dengan guyuran dana dan target-target baru yang membebani perusahaan. Gerombolan orang-orang asing akan memasuki perusahaan dan tim lama harus mulai belajar bekerja sama dengan mereka. Pengawasan kinerja yang semula kurang dipentingkan menjadi terasa penting. Selain pengukuran performa kerja dan produktivitas, pelatihan karyawan pun mulai menjadi keharusan.

Hal tersebut memang terasa menyebalkan dan bisa menjadi beban, baik dalam bentuk psikologi dan finansial.

Ketiga, manajemen produk yang jelek. Koordinasi yang buruk antara bagian marketing dan pengembangan produk dapat membuat penyelesaian produk menjadi sulit. Lebih buruk lagi, jika kita salah saat memilih produk pertama dalam bentuk salah memilih konsumen atau salah memilih waktu peluncuran produk. Apa pun itu, kita sudah membuang waktu dan uang.

Saat kita salah memperkirakan fitur produk yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengalami masalah teknologi, atau membutuhkan waktu lebih banyak, berarti kita harus menunda waktu peluncuran produk, yang berarti target perolehan pendapatan pertama harus menjauh.

Masalah juga bisa muncul karena pemikiran, “Produk ini belum sempurna,” yang berakibat pada revisi berulang, perubahan pada fitur produk tanpa alasan riil, dan pemborosan waktu. Kadangkala, masalah juga muncul karena permintaan satu atau dua konsumen yang membuat perhatian teralih dari kebutuhan pasar yang jauh lebih luas.

Ingat, selesai lebih baik daripada sempurna.

Keempat, mitra yang salah. Startup yang kita jalankan memiliki teknologi menarik, minimal dalam pandangan kita sebagai pihak internal. Kemudian kita berusaha untuk mendapatkan kesempatan dan potensi lanjutan dengan menawarkan kemitraan pada perusahaan yang jauh lebih mapan.

Apa pun keluaran yang ada, mengejar kemitraan-kemitraan tersebut dapat menyedot perhatian manajemen dalam jumlah besar, mulai dari waktu, dana, hingga pembahasan pasal-pasal dalam kontrak. Kadangkala langkah ini berakibat pada pembuangan sumber daya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk aktivitas-aktivitas produktif dan lebih menjanjikan.

Kelima, akuntansi yang buruk. Demi meraih pendapatan, namun tanpa disertai kejujuran dalam akuntansi biaya, hingga keinginan meraih tren kenaikan konsumen secepat mungkin lalu melakukan subsidi konsumen sembari beranggapan bahwa mereka sedang membangun basis konsumen.

Bagi kita yang hidup dalam idealisme dan gelembung teori serta wacana, kita mungkin beranggapan bahwa eksekusi akuntansi tersebut tidak mungkin terjadi dan bodoh. Namun kenyataannya bisa terjadi dan sudah terjadi. Dalam konteks subsidi konsumen yang dapat berujung pada biaya produk yang tinggi, rekayasa teknik dan layanan instalasi produk serta melatih konsumen untuk menggunakannya bisa dan sudah terjadi pada sebagian startup. Biaya-biaya tersebut biasanya tersamar di bawah judul ‘marketing’, serta biaya riset dan pengembangan.

Menilik lima kesalahan umum dalam pengelolaan uang, maka menjadi jelas bahwa model bisnis startup tidak dapat berkelanjutan. Pendapatan meningkat dan kerugian meningkat lebih tinggi dalam periode sama. Salah satu dari lima kesalahan semacam ini dapat berakibat fatal bagi kehidupan startup, apalagi jika kelimanya dikombinasikan.

Namun, meski startup di Indonesia bisa mengatasi kelima masalah tersebut, masih ada masalah-masalah lain yang menghadang startup di Indonesia dan hal ini tetap bisa menimbulkan pertanyaan, “Startup di Indonesia mau bakar uang sampai kapan?”

Jakarta, 26 Februari 2017

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting telah dimuat di Majalah Marketing edisi Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s