Catatan Blogger Akhir Pekan: Kali Garang, Sang Sungai Pemberang di Semarang

Kaligarang, Kali Garang, Sungai Kaligarang… Apa pun bentuk penulisannya, sungai ini adalah urat nadi kota Semarang.

Membicarakan sungai di Semarang berarti membicarakan Kaligarang. Sungai Kaligarang adalah sumber kehidupan bagi warga kota Semarang. Bahan baku utama pengadaan air minum untuk warga kota Semarang yang diolah PDAM berasal dari Kali Garang. Salah satu tempat nongkrong warga kota Semarang adalah bantaran Kaligarang. Lalu, rumah Ibu saya di Sampangan terletak sangat dekat dengan Kaligarang. Bisa dikatakan, saya memiliki alasan lebih dari cukup untuk menulis artikel mengenai Kaligarang.

Ada dua kenangan kuat mengenai Kaligarang dalam benak saya, yang meski berstatus pendatang di kota Semarang, yang sangat berkesan hingga kini. Kenangan pertama adalah banjir bandang Kaligarang dan kenangan kedua saat mandi di Kaligarang.

Banjir bandang Kaligarang

Banjir bandang Kaligarang terjadi pada tahun 1990 dan saya yakin kejadian tersebut sangat membekas di dalam ingatan warga Semarang. Karena rumah orang tua saya di Sampangan sangat dekat dengan Kaligarang, tentu saja kami turut menjadi korban.

Dalam kejernihan ingatan saya, masih terbayang air keruh berwarna cokelat kental memasuki ruang utama rumah kami. Hujan deras yang seakan tiada henti terus mengguyur turut menambah rasa kalut di benak kami. Saat saya melangkahkan kaki ke luar rumah, jalanan di depan rumah kami terlihat bagai sungai dengan arus yang deras. Namun, rumah kami termasuk sangat diuntungkan karena sejak awal pondasi rumah sudah dibangun tinggi dibandingkan dengan jalan raya. Jadi, rumah kami hanya merasakan genangan air sekitar 10 cm.

Esok harinya, saya melihat seluruh lantai rumah kami sudah berubah menjadi lumpur kental. Hebatnya meski dengan keadaan tersebut, kedua orang tua saya tetap menyuruh saya berangkat sekolah. Saat saya tiba di sekolah, ternyata sekolah diliburkan. Lokasi SD tempat saya sekolah kebetulan berada persis di samping Kaligarang. Maka, saya kembali ke rumah dan memilih menaiki sepeda bersama anak-anak kompleks keliling Sampangan.

Saat kami bersepeda mengelilingi Sampangan, saya melihat kerusakan dasyat di mana-mana. Rumah rubuh, Sampah tanaman dan perkakas rumah tangga berserakan di sana-sini. Bahkan bendungan Kaligarang terlihat jebol tidak mampu menahan amukan sungai.

Patut menjadi catatan, amukan Kaligarang terjadi tidak sekali ini saja. Sebelum keluarga kami mendatangi dan tinggal di Semarang, Kaligarang sudah berkali-kali banjir dan memakan korban sehingga tersematlah nama Kali Garang, atau Sungai Marah. Kaligarang dipandang warga Semarang memiliki watak pemberang karena menurut mereka, air sungai bisa tiba-tiba meluap dan mengakibatkan banjir.

Mandi di Kaligarang

Kaligarang dekat dengan Kreteg Wesi (Jembatan Besi)

Kenangan berkesan yang kedua adalah saat saya bersama teman-teman saya sesame anak kompleks mandi dan bermain air Kaligarang. Suatu hal yang sulit dibayangkan akan dilakukan oleh sosok saya saat dewasa karena saya melihat bahwa kalau mau mandi, pantasnya di kamar mandi atau di tempat dengan fasilitas MCK layak.

Namun, namanya anak kecil, umumnya belum memiliki kesadaran kebersihan dan kesehatan yang baik sehingga saya dan teman-teman saat itu cuek saya mandi dan bermain air Kaligarang berkali-kali. Padahal penduduk dewasa di sekitar ada yang mengatakan bahwa air Kaligarang kemproh (kotor), tercemar, dll.

Anak Kaligarang dekat dengan Taman Sampangan

Sebenarnya, dari perspektif ilmu lingkungan, Kaligarang pada masa saya kecil memang kotor dan dalam keadaan tercemar. Dulu, masih ada pabrik-pabrik di kota Semarang berlokasi di samping Kaligarang sehingga dapat membuang limbahnya dengan mudah ke dalam aliran sungai. Untungnya dengan berbagai data tersebut, tubuh saya masih baik-baik saja hingga kini. Hahaha.

Kaligarang kini

Kaligarang dekat dengan Sam Poo Kong

Salah satu hal yang saya sukai dari kota Semarang adalah kesadaran politik pemerintah untuk merawat dan memelihara Kaligarang. Keadaan Kaligarang saat ini sudah lebih baik daripada masa saat saya kecil.

Kira-kira sejak memasuki abad 21, sudah ada pelarangan pabrik-pabrik di samping Kaligarang sehingga mereka wajib melakukan relokasi. Lalu, dengan dana dari Pemerintah Jepang, Pemerintah Kota Semarang melakukan penataan terhadap Kaligarang, antara lain merapikan tepian sungai dan melakukan pemeliharaan serta pengelolaan agar Kaligarang dapat menampung air jauh lebih banyak dari sebelumnya sehingga kemungkinan banjir dapat dikurangi signifikan.

Kaligarang dekat dengan Indraprasta

Meski demikian, saya tetap belum berniat mengulang kenangan masa kecil saya dengan mandi dan bermain air di Kaligarang. Hahaha.

Oiya, bagi Anda-anda sekalian yang berkunjung dan berwisata ke Semarang, saya sangat menyarankan untuk mengunjungi dan melihat pemandangan Kaligarang. Kurang lengkap lho pengalaman yang Anda peroleh jika belum mengunjungi Kaligarang di Semarang.

Semarang, 25 Juni 2017

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s