Bisnis yang Seksi dan Redup di 2017

Apa saja potensi-potensi menarik dan sangat layak dikerjakan dalam dunia industri Indonesia di tahun 2017? Mari baca artikel berikut.

Presiden Joko Widodo berpidato di Kompas CEO Forum 2016

Presiden Joko Widodo berpidato di Kompas CEO Forum 2016

“Tetap optimis,” adalah pesan kunci yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka Kompas 100 CEO Forum di Jakarta Convention Center, Kamis 25 November 2016. Pesan senada turut disampaikan oleh mayoritas pemimpin dan pelaku bisnis di Indonesia bahwa modal besar yang wajib dimiliki bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi di 2017 adalah rasa optimis.

Bahkan salah satu pembicara dalam acara tersebut menyatakan, kalau tidak memiliki sikap optimis dan kejelian melihat peluang dalam setiap masalah, sebaiknya jangan menjadi pebisnis.

Sikap optimis yang diutarakan Presiden pun memiliki basis data yang kuat, antara lain kesuksesan program pengampunan pajak yang tersukses di dunia saat belum memasuki tahap dua dan tiga, cadangan devisa Indonesia yang mencapai 115 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per Oktober 2016 dan menjadi pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir, serta kenaikan signifikan indeks keluaran Bank Dunia, yaitu Ease of Doing Business atau Indeks Kemudahan Berusaha dari 109 (2015) menjadi 91 (2016) dari 189 negara.

Selain hal-hal yang telah diutarakan sebelumnya, penulis tertarik melakukan perhitungan pertumbuhan volume ekonomi (volume growth) Indonesia sejak tahun 2009 hingga tahun 2016 (berjalan). Perhitungan dilakukan dengan mengukur perbandingan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi berbasis data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS).

Pertumbuhan ekonomi dan inflasi 2009 s.d. 2016 (berjalan)

Pertumbuhan ekonomi dan inflasi 2009 s.d. 2016 (berjalan)

Pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia 2009 s.d. 2016 (berjalan)

Pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia 2009 s.d. 2016 (berjalan)

Dari data BPS, ternyata volume ekonomi Indonesia pernah mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,86 persen (2010), -2,6 persen (2013), dan mencapai titik terendah sebesar -3,34 persen (2014). Sedangkan tahun 2016 (berjalan) menunjukkan besaran volume ekonomi tertinggi sejak 2009 dengan capaian 2,93 persen. Temuan besaran volume ekonomi dalam dua tahun terakhir yang cukup signifikan menunjukkan bahwa kita para pelaku bisnis dan ekonomi memang sangat layak menyongsong 2017 dan bekerja dengan penuh optimisme.

Saat kita mencoba masuk lebih dalam mengenai industri dan bisnis apa saja yang potensial serta menarik untuk digarap pada 2017, Presiden Joko Widodo menyampaikan beberapa hal utama, antara lain dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan industri pariwisata. Presiden menyampaikan bahwa memang ada tren penurunan transaksi perdagangan antarnegara, namun hal itu perlu dilihat sebagai peluang menyasar pasar-pasar baru yang jarang dipikirkan menjadi tujuan produk-produk Indonesia, misalnya India, Sri Lanka, dan Bangladesh.

“Masih banyak sekali sebetulnya negara-negara yang bisa dijadikan tujuan utama bagi ekspor kita yang berpuluh-puluh tahun tidak pernah kita lirik. Terutama negara-negara yang memiliki penduduk lebih dari 78 juta. Justru produk-produk yang bisa masuk ke sana adalah produk-produk UMKM kita,” ujar Presiden Joko Widodo.

Lalu Presiden Jokowi melanjutkan, “Saya kira semakin banyak negara tujuan pasar yang bisa kita buka, berarti kita tidak menempatkan telur dalam keranjang-keranjang tertentu saja. Makin banyak negara yang kita garap, akan semakin aman ekonomi kita.”

Selain menyinggung potensi-potensi produk-produk UMKM Indonesia menembus pasar ekspor di negara-negara tujuan nontradisional, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan kekuatan besar yang dimiliki Indonesia dalam industri pariwisata. Memang berbasis data kunjungan wisatawan wilayah Asia Tenggara, Indonesia belum berhasil masuk kategori papan atas dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Namun Presiden menjelaskan bahwa penyebabnya adalah belum adanya penerapan ilmu marketing yang baik. Misal belum adanya pemikiran positioning suatu wilayah, apa diferensiasi yang dimiliki, bagaimana mencitrakan merek, hingga mendesain kemasan produk.

Langkah-langkah perbaikan pun sudah mulai dikerjakan pemerintah, antara lain dengan promosi yang digalakkan besar-besaran di negara-negara maju, antara lain promosi pariwisata Indonesia di backdrop yang ada di Paris dan videotron yang ada di New York. Presiden juga mengutarakan perjanjian dengan Menteri Pariwisata bahwa anggaran marketing bisa ditambah hingga empat sampai lima kali lipat dari anggaran sebelumnya.

Kini, mari kita membahas satu persatu potensi industri Indonesia di tahun 2017.

Asumsi APBN 2017

Asumsi APBN 2017

Industri-industri yang menarik di 2017

Anton H Gunawan, Chief Economist of Bank Mandiri, saat memberikan pendapat mengenai prospek ekonomi dan peluang investasi Indonesia tahun 2017 membuka presentasinya dengan pertanyaan, “Apakah ekonomi Indonesia tetap tumbuh?”

Pertama-tama, mari kita lihat perbandingan indikator-indikator ekonomi makro Indonesia dengan negara-negara berkembang, ternyata raihan Indonesia ada dalam golongan elit di atas Malaysia, Thailand, India, Brasil, Turki, dan Afrika Selatan. Parameter-parameter yang menjadi tolok ukur antara lain rerata pertumbuhan PDB dalam lima tahun terakhir, rerata pertumbuhan PDB dalam sepuluh tahun terakhir, neraca perdagangan terkini, neraca keuangan, dan inflasi tahunan.

Dari pengukuran parameter tersebut terlihat, pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh, tetapi masih lemah. Meski demikian, Bank Indonesia menunjukkan iktikadnya untuk memberikan persepsi positif dengan melonggarkan kebijakan moneter. Ada potensi defisit transaksi perdagangan dan kegagalan mencapai target pajak, tetapi masih dalam batas aturan fiskal.

Sumber: Anton H Gunawan, Chief Economist of Bank Mandiri, 2016

Sumber: Anton H Gunawan, Chief Economist of Bank Mandiri, 2016

Saat kita menyelami data performa penjualan industri di Indonesia dengan sampel beberapa pemain besar dan segmen-segmen yang berpengaruh, khususnya di semester I 2016, kita bisa melihat sektor-sektor yang potensial kita kerjakan dan pantas masuk dalam portofolio investasi kita. Berdasarkan data performa penjualan industri yang ditunjukkan Anton H Gunawan, sektor-sektor potensial tersebut antara lain ritel dan semen.

Berbicara mengenai sektor ritel, Yongky Susilo sebagai Executive Director The Nielsen Indonesia menyatakan bahwa akan ada perbaikan pertumbuhan di 2017. Hal-hal yang berpengaruh terhadap perbaikan pertumbuhan sektor ritel adalah adanya Pilkada serentak di kuartal I 2017 dan sebagaimana diketahui para pelaku bisnis, periode pilkada rutin mendukung konsumsi karena ada dana kampanye.

Kemudian, dana repatriasi pengampunan pajak mulai memasuki Indonesia akhir tahun ini dan siap digunakan tahun depan. Keberadaan proyek-proyek pemerintah dan dana desa juga mampu membantu konsumsi. Indonesia juga masih sangat menarik di mata investor karena ukuran pasar dan demografi kelas menengah yang terus tumbuh sehingga dana investasi tetap diraih. Kemudian, situasi politik pasca pilkada diharapkan lebih tenang sehingga memberikan suasana nyaman dan stabil untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

Mengenai estimasi pertumbuhan, Yongky menyampaikan, “Tahun 2017, saya estimasi pertumbuhan penjualan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) 10.8 persen. Kemudian, daerah Indonesia timur tetap akan memegang kendali pertumbuhan dua digit.” Berbicara mengenai contoh ritel yang berkembang di 2017, Yongky menyatakan FMCG dan Food and Beverages (FnB) masih menjadi fokus sepanjang tahun. Lalu, ritel busana dan elektronik mungkin baru pulih di kuartal II 2017.

Sehubungan dengan ritel, tentu saja kita harus tetap melihat potensi perdagangan daring. Pertumbuhan perdagangan daring di Indonesia selalu pada dua digit dan pelan namun pasti, memperbesar rasionya dibandingkan dengan volume perdagangan ritel brick-and-mortar. Ingat bahwa perdagangan daring masih berusia muda dan tentunya memerlukan banyak dukungan untuk mewujudkan ekosistem digital yang sehat dan berkelanjutan, antara lain dari sisi permodalan dan sistem pembayaran.

Sumber: eMarket (B2C Ecommerce Climbs Worldwide, as Emerging Markets Drive Sales Higher)

Sumber: eMarket (B2C Ecommerce Climbs Worldwide, as Emerging Markets Drive Sales Higher)

Membahas industri semen tentu tidak bisa lepas dari bahasan rencana pembangunan infrastruktur skala raksasa yang digagas Pemerintah Indonesia. Sesuai dengan ucapan Presiden Jokowi dalam Kompas 100 CEO Forum 2016, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur periode 2015 s.d. 2019 mencapai Rp 4.700 triliun. Sedangkan total anggaran infrastruktur yang bisa dipenuhi pemerintah hanya sekitar Rp 1.500 triliun, sedangkan sisanya diharapkan peran sumber pembiayaan swasta.

Angka-angka tersebut menunjukkan potensi bisnis dan investasi yang besar di sektor-sektor pendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia, antara lain semen, alat-alat berat, otomotif, dan logistik. Selain sektor-sektor yang sudah disebutkan, ingat juga peran krusial sektor keuangan, antara lain perbankan dan sekuritas dalam hal pengelolaan aset dan pendanaan. Kesehatan bisnis terlihat dari kelancaran aliran darah pendanaan yang melaju di seluruh tubuh perusahaan.

Kini, mari kita membahas bisnis yang terindikasi redup di 2017. Masih berdasarkan data penjualan industri dari Anton H Gunawan, industri-industri yang memiliki kemungkinan redup tahun depan antara lain peralatan berat untuk komoditas produk-produk hutan, agro, dan pertambangan. Selain peralatan berat untuk komoditas tersebut, industri tambang batu bara dan minyak bumi turut menunjukkan potensi redup di 2017.

Potensi industri alat berat komoditas produk-produk hutan, agro, dan pertambangan memang masih disergap oleh isu-isu lingkungan baik dari dalam dan luar negeri. Selain isu lingkungan, isu konflik sosial turut memudarkan kilau industri ini.

Kemudian membahas potensi batu bara di 2017, patut menjadi catatan bahwa berdasarkan data terbaru harga batu bara memang kembali menunjukkan kenaikan. Namun tetap kita harus berhati-hati dan mencoba mencari tahu seberapa lama tren positif harga batu bara dapat terus berlanjut. Pastikan bahwa biaya penggarapan lahan tambang batu bara benar-benar mampu memberikan keuntungan lebih daripada sekedar didiamkan.

Sedangkan minyak bumi masih belum bisa memberikan harapan baik karena tekanan baik lokal dan internasional. Tekanan lokal antara lain masih sulitnya perizinan dan proses untuk mengerjakan satu sumur minyak. Mengenai tekanan internasional, antara lain faktor geopolitik yang membuat pasokan minyak bumi di pasar melebihi permintaan. Selain itu, Amerika Serikat sudah aktif menggenjot produksi shale oil yang mampu menggantikan peran tradisional minyak bumi di pasar energi dunia.

Pada akhirnya dalam bisnis, selalu ada untung dan rugi. Selalu ada yang tumbuh, berkembang, redup, kemudian mati. Siklus tersebut berlaku pada banyak aspek dalam kehidupan manusia. Pesan kami adalah, selamat berbisnis, selamat berinvestasi, pandai-pandailah membaca peluang termasuk hal-hal yang belum terungkap dalam artikel ini, tetap waspada, dan jaga selalu sikap optimis dalam berusaha di tahun 2017.

Jakarta, 25 November 2016

(Andika Priyandana)

Catatan:Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Desember 2016

Iklan

13 thoughts on “Bisnis yang Seksi dan Redup di 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s