Cek Realitas dalam Pertumbuhan Startups

Berbisnis rintisan tidaklah seindah kisah-kisah terpulas dalam majalah. Berwirausaha bisa membuat kita lebih stres daripada menjadi karyawan. Inilah realitas bisnis!

Foto serial Silicon Valley

Foto serial Silicon Valley

Kosakata ‘bisnis atau usaha rintisan – start-up’ saat ini sedang sangat seksi di Indonesia. Berbagai kisah-kisah seperti perusahaan A sukses mendapatkan pendanaan sekian juta dolar VC X, lalu perusahaan B berhasil tembus omzet satu juta dolar per tahun, atau perusahaan C sukses memiliki akun pelanggan lebih dari 500.000 rutin menghiasi berbagai media bisnis dan ekonomi.

Kisah-kisah penuh gemerlap tersebut ditambah dengan sodoran angka-angka dan data seperti pengguna internet Indonesia yang hampir mencapai 100.000.000 pengguna, salah satu pengguna jejaring sosial tertinggi di dunia, ada perusahaan e-dagang internasional melakukan akuisisi USD 1.000.000.000, dan perusahaan e-dagang lainnya siap berinvestasi triliunan rupiah di Indonesia memberi kesan bahwa menjalankan bisnis rintisan berarti jalan menuju kesuksesan finansial.

Namun adakah yang sudah mengetahui dan merasakan realitas dunia start-up, dunia bisnis rintisan? Realitas mulai dari kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana, sulitnya akuisisi konsumen, hingga biaya yang terus membengkak di luar perkiraan menunjukkan betapa kerasnya dunia bisnis rintisan.

Dunia wirausaha bukan untuk jiwa yang lemah. Menjalankan bisnis semakin terasa sulit jika kita belum pernah berbisnis. Kita membutuhkan dosis optimisme agar meraih kesuksesan sebagai wirausahawan. Tetapi, ada garis tipis yang membedakan antara sikap optimis dan khayalan. Garis tipis tersebut bernama ‘Cek Realitas’.

Cek Realitas

Kenyataan pertama dunia wirausaha di Indonesia, tren mendirikan bisnis sendiri semakin meningkat. Semakin banyak pemuda dan pemudi Indonesia yang memilih berbisnis bukan karena kepepet, tapi karena ada kesempatan dan menjadi pilihan personal sedari awal. Ini adalah kenyataan yang baik.

Kenyataan kedua dunia wirausaha di Indonesia, banyak dari para pemuda dan pemudi tersebut belum memiliki pengalaman bisnis dan bahkan tidak mengetahui administrasi bisnis. Mereka memiliki ide mengenai suatu barang atau jasa, kemudian mengeksekusi ide tersebut, dan berpikir mereka sudah menjalankan bisnis dengan baik. Jelas ini bukan kenyataan yang baik.

Menjalankan bisnis adalah hal yang sangat sulit. Berbagai riset menunjukkan bahwa tingkat stres yang dialami para pemilik dan pelaku bisnis lebih tinggi dari para karyawan dan karyawati. Menjalankan bisnis tidak sekedar memikirkan sebuah ide bisnis, menjalankannya, dan melakukan validasi beberapa asumsi.

Mungkin ada di antara kita yang beropini sudah mengetes asumsi-asumsi paling berisiko dan mereka ternyata salah. Kemudian berdasarkan kesalahan tersebut, segera memikirkan asumsi-asumsi baru yang sepertinya layak dijalankan. Bagus, tetapi kegiatan tersebut hanya sebagian sangat kecil dari pertumbuhan bisnis.

Business Growth Cycle

Business Growth Cycle

Bisa jadi pada fase inilah, sebagian dari kita mulai beranggapan bahwa kita sekedar serangga yang tertarik mendekati cahaya yang dipancarkan para pendiri usaha rintisan dan para investor usaha rintisan dengan kemasan ala selebriti.

Cahaya tersebut terasa semakin memikat saat kita melihat valuasi perusahaan yang meningkat menjadi puluhan, ratusan, dan ribuan miliar rupiah dalam waktu relatif singkat. Padahal dalam kenyataannya, cahaya tersebut dapat menjadi sangat mematikan, dan semua hal-hal gemerlap yang sudah disampaikan bahkan belum mencapai setengah perjalanan menuju puncak.

Mengeksekusi rencana bisnis usaha rintisan adalah proses yang monumental, melelahkan, terus-menerus, dan sangat menekan mental sekaligus spiritual. Inilah fase ‘cek realitas’ dalam pertumbuhan bisnis usaha rintisan. Pada fase inilah, para pelaku usaha rintisan mulai mampu membedakan mana khayalan dan mana kenyataan yang tetap didukung sikap optimis.

Menjalankan bisnis ternyata tidak sekedar menciptakan transaksi jual beli dan akuisisi konsumen yang sudah memusingkan kepala. Berbisnis juga melibatkan urusan legal formal, pengurusan SIUP dan NPWP, pengecekan manajemen operasional, memastikan rantai pasokan, melakukan pencatatan keuangan setiap waktu, dan masih banyak lagi detail-detail kecil lainnya.

Berbisnis tidak sekedar melakukan validasi asumsi melalui komunikasi dengan pelanggan karena jika hanya langkah tersebut yang dilakukan, bisnis kita cepat atau lambat akan ambruk.

Ya, realitas bisnis memang menciutkan nyali.

Maka sedari awal, usahakan menjalankan bisnis yang berada dalam lingkup pengetahuan dan sumber daya yang kita miliki. Misalkan kita adalah wiraniaga dengan kepandaian berjualan perkakas sepeda motor. Maka kita bisa memulai bisnis membuat toko daring yang menjual perkakas sepeda motor dan merasakan sedikit demi sedikit hal-hal yang mungkin belum kita alami sebelumnya, misalnya masalah pergudangan, penyimpanan barang, dan penanganan barang bahkan sebelum dikirimkan ke tangan pelanggan.

Semakin jauh lingkup pemahaman dan sumber daya yang kita miliki, risiko kegagalan pun meningkat.

Jika pengetahuan kita dirasa medioker atau biasa saja dalam segala hal, milikilah sikap selalu ingin belajar dan carilah mentor yang mampu membimbing langkah-langkah kita dalam berbisnis untuk meminalisir kemungkinan berjalan ke arah yang salah. Melalui bimbingan mentor, kita juga akan mengetahui kewajiban membuat produk berfokus konsumen, bukan produk berfokus idealisme dan ego pribadi.

Pahami manajemen!

Alm. Harold Geneen (Pebisnis legendaris Amerika Serikat dan mantan presiden ITT Corporation) pernah membuat ujaran yang sangat populer, “Management must manage!

Bisnis kita tidak akan bertahan hidup tanpa manajemen, termasuk di dalamnya urusan operasional dan prinsip-prinsip bisnis. Tanpa manajemen, kita bahkan tidak akan menyentuh transaksi penjualan besar yang pertama dan mempertahankan karyawan berkualitas. Sangat banyak kesalahan dan percobaan yang harus kita lalui sepanjang perjalanan bisnis, namun ingat kembali bahwa kita harus melakukan manajemen terhadap semua hal tersebut.

Ingat dan jangan pernah lupakan! Bisnis kita adalah cerminan diri kita. Jika bisnis kita terlihat cerdas, berpengetahuan, dan memiliki kesehatan finansial yang baik, itulah diri kita dan begitu juga sebaliknya. Maka, bangun pondasi bisnis yang kuat dan mulailah dari diri kita sebagai pendiri bisnis.

Jakarta, 21 Juni 2016

(Andika Priyandana)

Iklan

5 thoughts on “Cek Realitas dalam Pertumbuhan Startups

  1. Ya benar gan, dan juga setiap bisnis yang kita jalankan haruslah diimbangi dengan pemikiran yang inovatif serta kreatof kan kita tahu di negara kita ini “per-bisnisan” adalah suatu persaingan yang sangat ketat.

  2. startup saat ini terlihat indah dan menarik sebab banyak kisah-kisah luar biasa yang berhasil terwujud dari bisnis ini seperti mark zuckerberg yang rela DO dari kampus demi membangun usahanya.

    namun kisah ini hanya 1 dari sejuta kemungkinan sehingga tetap saja membangun startup butuh usaha dan bukan sesuatu yang mudah diraih tanpa modal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s