Mewariskan Tahta Bisnis pada Generasi Kedua

Tahukah Anda bahwa mewariskan tampuk kepemimpinan bisnis pada generasi kedua adalah tindakan yang dapat menimbulkan krisis?

Menurut Family Business Institute, sebanyak 30% dari bisnis keluarga mampu bertahan di generasi kedua. Angka tersebut makin menciut menjadi 12% saat di tangan generasi ketiga, dan hanya 4% bisnis keluarga yang mampu bertahan di tangan generasi keempat dan seterusnya. Angka yang cukup membuat jeri, apalagi di mata pebisnis Asia dan Indonesia yang identik dengan bisnis keluarga.

Angka kegagalan bisnis keluarga dari generasi satu ke generasi berikutnya seakan tak terhindarkan. Apa yang menyebabkan angka signifikan 70% muncul saat suksesi perusahaan keluarga ke generasi kedua? Adakah resep-resep yang mampu menekan angka tersebut?

Satu hal yang sudah pasti, mengelola bisnis keluarga jauh lebih sulit dan kompleks dibandingkan dengan mengelola bisnis non-keluarga yang pengelolaannya sangat berbasis pada manajemen profesional.

Dalam berbagai studi kasus dan kisah bisnis keluarga, banyak kisah penuh intrik dan saling telikung yang sifatnya sangat personal karena terjadi di antara anggota keluarga. Bagaikan kisah-kisah perebutan tahta raja-raja di Asia hingga Eropa, penggantian tampuk kepemimpinan bisa menjadi hal yang sangat kompleks dan menimbulkan pertengkaran dan perselisihan yang sangat cocok untuk diangkat ke layar lebar.

Kesuksesan dalam suksesi

Keluarga Liem Sioe Liong - Sumber: rappler.com

Keluarga Liem Sioe Liong – Sumber: rappler.com

Mayoritas perusahaan keluarga terdiri dari pendiri tunggal atau sepasang yang mempekerjakan anggota keluarganya karena ikatan emosional. Sudah jamak didengar kisah bahwa ada anggota-anggota keluarga yang sulit mencari kerja, ditolak di berbagai tempat, jika diterima terkena pemecatan, sehingga mau tidak mau datang ke bisnis keluarga untuk meminta posisi. Kejadian ini adalah salah satu masalah kecil dari berbagai tumpukan masalah yang menyebabkan perusahaan keluarga gagal berlanjut ke generasi kedua.

Dalam artikel Harvard Business Review, Avoid The Traps That Can Destroy Family Businesses (2012), menyatakan bahwa masalah-masalah tersebut seakan tak terhindarkan, tapi bukan berarti angkanya tidak bisa ditekan. Cara menekan angka kegagalan suksesi antara lain dengan mengetahui tiga perangkap yang biasa terjadi dalam suksesi tampuk kepemimpinan antargenerasi.

Maka, kita memasuki perangkap pertama yang menyebabkan kegagalan suksesi antargenerasi, yaitu selalu ada tempat untuk anggota keluarga dalam bisnis keluarga. Bisnis itu berproses, tidak bisa dadakan. Dalam ilmu marketing, menjalin hubungan dengan pelanggan juga berproses. Meraih kepercayaan pelanggan tidak bisa instan. Bahkan strategi menjalin hubungan dengan pelanggan di abad 20 bisa berbeda signifikan dengan strategi hubungan pelanggan di abad 21.

Proses inilah yang menjadi kunci sukses tidaknya generasi kedua dalam menjalankan bisnis keluarga. Jika generasi kedua merasa terpaksa atau memiliki minat rendah saat bekerja di bisnis keluarga, bagaimana mungkin mereka mau memahami pelanggan dengan baik? Apa bisa mereka menyusun rencana marketing dan membuat produk yang berorientasi pelanggan?

Cara mengatasi perangkap pertama ini antara lain dengan belajar dari kasus-kasus bisnis keluarga, baik yang sukses dan gagal melaju ke generasi kedua, dan menerapkannya sebaik mungkin dalam konteks lokal yang berlaku. Penekanan pada pelatihan dan seleksi dapat menjadi jawaban tepat mengatasi perangkap pertama. Ingat pula, jangan jadikan ajakan bekerja di perusahaan keluarga sebagai sebuah kewajiban. Jika generasi kedua bekerja karena tidak ada pilihan lain, jangan tempatkan mereka di posisi penting minimal untuk sementara waktu.

Seiring waktu, biarkan mereka berproses dan mendewasakan diri. Manusia dapat berubah. Orang-orang yang semula pemalas dapat menjadi rajin. Individu-individu yang awalnya terlihat bebal dapat berubah menjadi intelek karena tiupan angin zaman. Sedikit demi sedikit, berikan pekerjaan yang semula hanya sebagai eksekutor, berubah menjadi perencana.

Berikan proyek marketing, khususnya yang berhubungan dengan pelanggan yang seumur dengan mereka sebagai proses belajar dan evaluasi. Namun jika ternyata setelah melalui proses yang lama tidak ada perubahan signifikan, baik dari sisi niat maupun sikap, jangan paksakan untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan pada generasi kedua. Berikan posisi pucuk pada profesional.

Setelah kita membahas perangkap pertama, masih ada perangkap kedua dalam suksesi. Perangkap kedua kegagalan suksesi antargenerasi adalah pertumbuhan bisnis yang tidak secepat pertumbuhan anggota keluarga. Saat generasi pertama memulai perusahaan, dia bisa jadi belum berkeluarga. Setelah berkeluarga, dia memiliki pasangan, kemudian disusul anak pertama, mungkin ditambah anak kedua, dst.

Selain pasangan dan anak, orang tua dan mertua yang semula bekerja dan memasuki masa pensiun ikut menjadi tanggungan. Kemudian saat anak-anak dewasa, masing-masing menikah dan memiliki anak. Hanya dalam tiga generasi, bisa terdapat lebih dari 20 anggota keluarga yang dihidupi dan mencari pekerjaan di bisnis keluarga. Kenyataannya, banyak bisnis yang tidak memiliki cukup sumber daya untuk menghidupi dan mempekerjakan setiap anggota keluarga.

Cara mengatasi perangkap kedua adalah dengan menerapkan prinsip manajemen, kendalikan pertambahan beban anggota keluarga dan fokus untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi. Jadi, ibarat mengeksekusi strategi marketing, lakukan kampanye yang sudah disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Jika perusahaan baru mampu melakukan kampanye digital marketing dan bukan kampanye marketing terintegrasi, maka jangan memaksakan diri karena proses dan hasilnya dapat menjadi bumerang.

Jika dilihat dari perspektif keluarga, jika baru mampu menghidupi satu pasangan dan satu anak, gunakan alat kontrasepsi untuk mengendalikan laju kelahiran. Tidak melakukan keluarga berencana sehingga memiliki banyak anak, padahal kemampuan dan sumber daya keluarga tidak mencukupi, jelas tindakan bodoh.

Jika generasi pertama sudah memperhatikan pengendalian pertambahan beban anggota keluarga, maka langkah berikutnya adalah meningkatkan kompetensi dan kualitas. Namun generasi pertama tetap harus hati-hati, karena perhatian pada kompetensi dan kualitas generasi kedua bisa mengarah pada perangkap ketiga.

Perangkap ketiga kegagalan suksesi antargenerasi adalah keahlian dan kompetensi generasi kedua yang sama dengan generasi pertama. Salah satu tendensi yang dapat berujung pada kegagalan suksesi adalah kesamaan spesialisasi penguasaan aspek bisnis antargenerasi, misal generasi pertama sangat mendalam dalam memahami keuangan, generasi kedua juga berspesialisasi dalam keuangan. Contoh lainnya, generasi pertama sangat memahami urusan marketing, generasi kedua sama-sama memahami urusan marketing dengan sangat dalam.

Mungkin terdengar mengejutkan, tetapi jika antargenerasi memiliki spesialisasi sama, generasi kedua dapat gagal meraih kemampuan dan pengalaman multifungsi yang diperlukan untuk duduk di kursi pemimpin. Kegagalan berikutnya adalah pengawasan antaranggota.

Dinamika personal yang ada dapat menutupi masukan-masukan jujur sehingga mengganggu pelatihan. Gabungan kedua faktor tersebut adalah formula vakum kepemimpinan dalam generasi mendatang. Kesamaan kemampuan dapat membuat generasi terdahulu duduk di posisi teratas terlalu lama, sehingga membatasi kemampuan perusahaan keluarga untuk berubah.

Cara mengatasi perangkap ketiga adalah dengan menunjuk mentor nonkeluarga. Dalam perusahaan kecil, mungkin menjadi hal merepotkan untuk mencegah anggota keluarga saling mengawasi. Tetapi bahkan di level UMKM, perusahaan harus membatasi waktu interaksi langsung dengan anggota keluarga yang lebih mudah.

Beberapa perusahaan ada yang menunjuk mentor berpengalaman nonkeluarga untuk setiap anggota keluarga, dengan tujuan memberikan evaluasi performa objektif dan masukan kritis yang biasa diterima karyawan nonkeluarga. Agar dapat menjalankan tugas ini dengan baik, sang mentor harus ada perlindungan atau imunitas dari gangguan dan campur tangan keluarga.

Sang mentor memiliki tugas memastikan bahwa generasi kedua memiliki kemampuan berbeda atau jauh lebih diperbarui dibandingkan generasi pertama. Sebagai contoh, generasi pertama hidup di era pemerintahan militer sehingga kemampuan marketing level dasar yang diracik kemampuan manajemen operasional mumpuni sangat penting memastikan keberlangsungan hidup perusahaan.

Alasannya marketing level lebih tinggi dari dasar kurang diperlukan adalah, pada era generasi pertama, kemampuan menjalin hubungan dengan penguasa dan bukan konsumen akhir jauh lebih penting untuk mendapatkan hak-hak penguasaan pasar.

Namun generasi kedua hidup di era demokratis sehingga menguasai dan mempertahankan pasar menjadi hal sangat berbeda. Menguasai hati pelanggan harus dimulai dengan memahami kebutuhan mereka, mengerti minat dan perilaku mereka, di mana mereka biasa berkumpul, hingga alat-alat komunikasi yang mereka gunakan. Jika generasi kedua tidak dapat memahami pelanggan dengan sangat baik, ada kemungkinan usia kepemimpinannya hanya seumur jagung.

Maka, kemampuan marketing tingkat tinggi yang bersilang dengan kemampuan statistik dan pengolahan data dapat menjadi formula yang wajib dikuasai untuk memastikan kelanggengan perusahaan.

Jakarta, 23 Juni 2016

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Juli 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s