Vlogger: Pesohor Era Digital

Semenjak konten video daring semakin mencuat secara kuantitas, para pesohor pun bermunculan. Yang unik adalah nama-nama mereka bisa jadi tidak kita kenal. Kok bisa?

Anya Geraldine (atau Nur Amalina Hayati?) dan Karin Novilda (Awkarin) - sumber: Instagram.com/anyageraldine

Anya Geraldine (atau Nur Amalina Hayati?) dan Karin Novilda (Awkarin) – sumber: Instagram.com/anyageraldine

Menjadi seseorang yang terkenal tidak melulu melalui jalur konvensional seperti televisi dan media cetak. Berkat kehadiran kanal internet dan platform video seperti YouTube, muncul kosakata dan profesi baru vlogger – video blogger. Konten-konten video yang mereka produksi berhasil meraih jutaan pendaftar dan penonton. Langkah mereka ternyata tidak terhenti di media internet dan kini, mereka mulai menapakkan langkah kakinya untuk menaklukkan media cetak dan televisi.

Para vlogger meraih popularitas mereka melalui dokumentasi kegiatan dan curahan pikiran ke dalam video yang diunggah ke internet. Rata-rata para vlogger berusia muda, produktif, dan jelas turut menentukan arah kegiatan marketing dan periklanan. Menjadi seorang vlogger juga tidak harus memiliki keahlian canggih. Jika kita memiliki kegemaran memasak, jalan-jalan, menari, memainkan alat musik, atau sekedar melawak, kita bisa menjadi vlogger.

Menjadi seorang vlogger berarti memiliki kebebasan penuh menentukan alur cerita, peralatan yang digunakan, hingga durasi video. Meski demikian, menjadi seorang vlogger tidak otomatis menjadikan seseorang populer. Mungkin saja seorang vlogger yang memiliki idealisme tinggi mampu meraih pendaftar dan penonton dalam jumlah tinggi.

Namun jika ingin menciptakan konten video yang disukai pasar, ilmu marketing harus dipahami para vlogger, mulai dari segmentasi pasar, analisis kebutuhan pelanggan, hingga mendalami hal-hal yang mampu menciptakan viralitas sebuah video di internet.

Edho Zell, thehasanvideo, TheCleanSound, bayuekomoektito1, Eka Gustiwana, NatashaFarani, Sacha Stevenson, dan Aaron Ashab adalah contoh dari sebagian vlogger Indonesia yang berhasil meraih popularitas dan video produksi mereka terkenal dengan faktor viralitas. Tema-tema yang disampaikan pun beragam, mulai dari kecantikan, busana, komedi, hingga sikap sehari-hari orang Indonesia yang dikemas dengan menarik.

Kumpulan vlogger dalam program TV daring

Ada nama-nama vlogger yang bisa meraih popularitas secara independen dan ada juga yang meraih popularitas melalui naungan komunitas atau program TV daring (online). Contoh aktual dari Indonesia adalah MBDC alias Malesbanget.com. Jika Anda mengecek kanal Malesbanget.com di YouTube, Anda akan menemukan kumpulan vlogger-vlogger Indonesia yang menunjukkan kreativitas mereka melalui video daring.

Masih berhubungan dengan video daring, Majalah Marketing pada edisi Desember 2012 pernah membahas Dennis Adhiswara, pembuat film dan CEO Layaria, kanal TV yang menggunakan platform YouTube. Melalui Layaria, Dennis membawa proses produksi video daring lebih jauh dengan memasukkan unsur marketing dan hubungan dengan merek komersial. Dennis mengusung idealisme bahwa video yang baik dan benar adalah video yang mempunyai semangat dan visi sama serta mempunyai konten video yang ada relevansinya dengan produk dari merek yang dibawa.

“Video bisa dijadikan perantara cerita dari pembuat film dengan merek tersebut yang kemudian konsumen akan menilai video itu di komen boks, sehingga hal ini bisa menimbulkan keterikatan dan menciptakan pelanggan,” ujar Dennis.

Saat kita berbicara pendapatan vlogger, angkanya pun bukan main-main. Berdasarkan informasi situs statistik SocialBlade, Felix Kjellberg yang memiliki nama beken PewDiePie memiliki pendapatan tahunan 1.9 juta s.d. 15.1 juta USD. Pria berusia 26 tahun asal Swedia ini adalah vlogger terpopuler dan terkaya di YouTube. Felix memiliki lebih dari 30 juta pendaftar pada kanal YouTube miliknya. Apa yang dikerjakan olehnya? Membuat ulasan-ulasan game, memberikan komentar, dan terkadang mengumpat.

Sebagian besar pendapatan tersebut diperoleh melalui iklan-iklan yang tampil pada video YouTube. Sisanya diperoleh dari kerja sama dengan produk-produk dan merek yang ingin dipromosikan serta ditampilkan di dalam video. Terkesan simpel kan? Tetapi harap diingat bahwa simpel berbeda dengan gampang. Di balik sebuah hal simpel ada hal-hal kompleks dan rumit yang bisa membuat kening kita berkerut.

Talenta sosial para vlogger

Para vlogger populer memiliki satu kesamaan. Mereka semua memiliki talenta sosial yang menjadi ciri pesohor era digital. Para pemilik talenta sosial ini dengan sukses memberi warna baru dalam taktik promosi, pemasaran, dan periklanan. Talenta sosial tersebut diperoleh para vlogger populer tidak dengan mudah. Memang betul bahwa para vlogger ‘hanya’ syuting video, mengunggah ke internet, jalan-jalan ke mal, dan kemudian melihat statistik video. Sayangnya tidak semua statistik para vlogger bisa menjulang tinggi.

Tekanan untuk menciptakan konten video viral dan menciptakan statistik tinggi bisa sangat intens. Seorang vlogger populer biasanya sangat berdedikasi dan rutin mengecek kanal. Perubahan-perubahan di dunia digital bisa terjadi dengan sangat cepat dan mereka harus ada di sana secara langsung atau tertinggal jika memilih sikap melihat belakangan.

Para vlogger harus rutin mengunggah video baru, membaca kebutuhan para pendaftar dan penonton video mereka, dan memberikan konten-konten menarik yang mampu menjaga kekonsistenan statistik. Jumlah pendaftar dan penonton mengindikasikan besaran pengaruh bagi para pemilik dan pengelola merek. Melalui parameter tersebut, kepantasan vlogger sebagai media promosi dan iklan dinilai. Maka demi mencapai parameter minimal, tak jarang para vlogger mengunggah video baru setiap hari alias menjadi vlogger penuh waktu.

Jadi jika ada di antara para pembaca berminat menjadi video blogger, prinsipnya sebenarnya sama dengan membangun sebuah merek sukses. Pilih segmen konsumen (baca: pendaftar dan penonton) yang bernilai, pahami kebutuhan mereka, berikan produk (baca: konten video) yang memenuhi dahaga mereka akan hiburan atau konten informatif, dan perlakukan para pendaftar dan penonton layaknya sahabat.

Sebagai penutup, persiapkan juga mental sekuat mungkin menghadapi masukan dan protes-protes yang bisa sangat menyakitkan sekaligus menusuk hati.

Depok, 25 Mei 2016

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Iklan

5 thoughts on “Vlogger: Pesohor Era Digital

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s