Solusi Transportasi Era Digital

Terima sajalah. Siap atau tidak, perubahan sudah merasuki setiap sendi dunia transportasi.

Seperti kita ketahui bersama, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi adalah salah satu masalah perkotaan di Indonesia. Permasalahan transportasi perkotaan Indonesia, khususnya transportasi publik seakan sudah menjadi kanker akut yang sulit dicari solusinya.

Akibatnya antara lain adalah penobatan Jakarta sebagai kota dengan kemacetan terburuk di dunia (Castrol Index, 2015), penurunan produktivitas, opportunity loss yang tinggi, dan tingkat polusi udara yang terus membubung tinggi.

Jelas, solusi terhadap masalah transportasi perkotaan di Indonesia, khususnya transportasi darat harus segera ditemukan. Langkah-langkah strategis sudah mulai dilakukan pemerintah, antara lain dengan pembangunan transportasi publik dalam wujud Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) di Jakarta yang terintegrasi dengan kota-kota penyangga.

Lantas, bagaimana dengan pengguna transportasi pribadi yang memiliki kontribusi signifikan terhadap kemacetan kota?

Pertama-tama harus kita pahami dulu bahwa tidak ada satu solusi untuk semua. Memaksa para pengguna kendaraan pribadi mengubah kebiasaan berkendara belum tentu menjadi satu-satunya solusi. Di sisi lain, teknologi dapat dipandang sebagai sebuah kemungkinan dan kesempatan melakukan transformasi lanskap transportasi.

Solusi Transportasi Era Digital - Deloitte 2012

Solusi Transportasi Era Digital – Deloitte 2012

Lanskap baru transportasi

Solusi Masalah Distribusi Era Digital - sumber foto globaltime.scn

Solusi Masalah Distribusi Era Digital – sumber foto globaltime.scn

Studi Deloitte (2012) yang berjudul ‘Digital-Age Transportation: The Future of Urban Mobility’ menyatakan bahwa penetrasi dan penyebaran telepon pintar, tingginya penggunakan jaringan peer-to-peer dan jejaring sosial, serta pengembangan teknologi kendaraan terintegrasi, saling berhubungan dengan budaya masyarakat urban dan semangat wirausaha.

Dunia digital menjadi bagian dari budaya masyarakat urban karena teknologi sudah diberdayakan untuk kegiatan konsumsi kolaboratif, misalnya nebeng dengan pemilik kendaraan pribadi yang berjalan searah. Sedangkan semangat wirausaha dalam dunia transportasi digital muncul karena kesadaran bahwa hanya mengandalkan pemerintah tidak akan mampu menyelesaikan masalah mobilitas. Karenanya, kesempatan besar untuk mendirikan bisnis yang memecahkan masalah transportasi pun terbuka.

Tumbuhlah nama-nama seperti Gojek, Nebenger, Grab, dan Uber yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Semua nama tersebut mengandalkan teknologi informasi sebagai basis pertumbuhan mereka. Praktik penggunaan layanan transportasi digital tersebut serupa dengan revolusi perilaku penggunaan telepon rumah yang semakin ditinggalkan konsumennya untuk beralih ke penggunaan telepon pintar.

(Baca: Gojek, Berapa Lama Usiamu?)

Revolusi perilaku penggunaan moda transportasi akan terjadi dalam bentuk ‘kendaraan terhubung’ yang mengakses, mengonsumsi, dan menciptakan informasi serta membaginya dengan para pengemudi, penumpang, infrastruktur publik, dan mesin-mesin transportasi lainnya.

Contoh riilnya sudah dimulai di Indonesia dan dirasakan antara lain oleh generasi milenial yang rajin menggunakan fitur Google. Saat kita ingin menuju ke suatu tujuan, kita dapat melihat berbagai pilihan transportasi, mulai dari jalan kaki, transportasi publik (bus dan kereta), Uber, hingga kendaraan pribadi.

(Baca: Uber Meluber di Indonesia?)

Titik kemacetan juga ditunjukkan dengan warna merah pada jalur tujuan dengan tingkat kepekatan berbeda sebagai indikator level kemacetan. Estimasi waktu tiba juga dapat diketahui berbasis pada pilihan moda transportasi kita. Yang terbaik, semua informasi tersebut diiberikan sesuai dengan waktu sebenarnya.

Semua informasi tersebut dapat tersaji berkat big data. Kehadiran ‘big data’ telah memudahkan manajemen kemacetan kota. Melalui ‘big data’, otoritas berwenang dapat bereaksi lebih cepat terhadap masalah-masalah lalu lintas termasuk membantu para individu bernavigasi waktu demi waktu. Jakarta sebagai ibu kota negara sudah memulai adaptasi yang sangat baik dengan teknologi dan ‘big data’ melalui aplikasi Qlue.

(Baca: Merevolusi Pelayanan Publik Melalui Teknologi)

Melalui aplikasi Qlue, pemerintah provinsi DKI Jakarta mengajak warganya untuk sama-sama mengatasi permasalahan kota, termasuk masalah transportasi. Para pengguna aplikasi Qlue dapat menginformasikan titik-titik jalan rusak, rambu-rambu lalu lintas yang tidak berfungsi, dan titik-titik banjir yang berpotensi menimbulkan kemacetan. Pemerintah pun terbantu dengan aksi warganya sehingga mampu merespon setiap masalah dengan cepat dan efektif.

Contoh-contoh yang sudah diberikan menunjukkan tiada aspek dari sebuah mobilitas yang tidak ditransformasi oleh teknologi informasi. Perencanaan rute, menemukan jalan menuju suatu lokasi sembari berjalan kaki atau di dalam kendaraan, menghitung tarif, mengetahui letak kemacetan dan penyebab kemacetan, manajemen lalu lintas, menentukan pilihan moda transportasi, hingga memilih rute alternatif menjadi sangat terbantukan dengan teknologi informasi.

Banyak dari inovasi-inovasi teknologi yang berpengaruh terhadap transportasi diarahkan semakin personal dan memberikan individu semakin banyak pilihan dalam mobilitas. Namun patut diingat bahwa tujuan dari semua inovasi tersebut sebenarnya bukan memberikan kemudahan bagi seseorang untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Tujuan dari inovasi-inovasi tersebut untuk menjadikan inovasi-inovasi luar biasa membuat dunia transportasi berjalan secara lebih efektif dan efisien.

Solusi Transportasi Era Digital 2 - Deloitte 2012

Solusi Transportasi Era Digital 2 – Deloitte 2012

Demi mengambil manfaat dari perkembangan teknologi ini, model-model bisnis baru, pergerakan sosial yang lebih luas, dan visi ulang sistem transportasi kota perlu memiliki lima fitur baru, yaitu:

(1) Jaringan besar-besaran;

(2) Berorientasi pada pengguna;

(3) Terintegrasi;

(4) Harga Dinamis;

(5) Bergantung pada model baru kolaborasi pemerintah – swasta.

Dengan lima fitur baru tersebut, kita akan memiliki banyak pekerjaan rumah, antara lain standarisasi teknologi yang tentunya krusial bari mobilitas era digital. Kerangka kerja pemerintah dan swasta harus dikedepankan, diawasi, dan diadaptasi sesuai kebutuhan.

Pemahaman simpelnya adalah mobilitas manusia, bukan produksi kendaraan, harus lebih diutamakan. Jadi, mari bekerja bersama menjadikan mobilitas manusia semakin baik.

Jakarta, 26 Maret 2016

(Andika Priyandana; disarikan dari Digital-Age Transportation: The Future of Urban Mobility (Deloitte 2012)).

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi April 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s