Jepang, Korea Selatan, dan China Merangkul Indonesia

Apa yang menyebabkan Jepang melemah, sedangkan Korea Selatan dan China menguat dalam persaingan bisnis di Indonesia?

Berita penutupan dua pabrik operasional elektronik Jepang, yaitu Panasonic dan Toshiba, belum lama ini menyebar bak semak kering yang terbakar. Asap informasi penutupan tersebut terbang liar ke segala arah dan menimbulkan berbagai desas-desus baru dan berbagai isu tak berdasar, mulai dari buruknya iklim investasi di Indonesia hingga ketidakmampuan bersaing dengan seteru sesama Asia Timur, yaitu Korea Selatan dan China.

Untuk isu buruknya iklim investasi di Indonesia telah dimentahkan melalui pernyataan resmi pemerintah dan swasta, antara lain Ali Soebroto Oentaryo, Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), yang menyatakan kepada media Bisnis, “Consumer electronic secara umum tidak menguntungkan dan Jepang tidak kompetitif. Lebih cepat produsen Jepang beralih bisnis ke sektor lain, maka lebih baik untuk perusahaan dan menghentikan kerugian.”

Toshiba sendiri sebagai salah satu objek pemberitaan mengakui melalui pernyataan resmi telah memutuskan menjual pabrik televisi dan mesin cuci di Indonesia ke perusahaan China, Skyworth, senilai 25 juta dolar AS atau setara 3 miliar yen, dan transaksi tersebut diperkirakan selesai dilakukan per Maret 2016.

Isu iklim investasi yang buruk juga dimentahkan melalui media ekonomi terkemuka, The Economist, yang menyatakan bahwa untuk tahun 2015, Indonesia menduduki posisi kedua setelah China sebagai negara tujuan investasi dunia. Informasi tersebut didukung data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang menunjukkan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada semester I 2015 meningkat 16.6% dibandingkan dengan semester I 2014 dengan nilai Rp 259.7 triliun.

Lebih lanjut lagi, Franky Sibarani sebagai Kepala BKPM menyatakan bahwa realisasi investasi negara-negara anggota APEC cenderung meningkat, antara lain ditunjukkan melalui dominasi lima besar negara dengan investasi terbesar di Indonesia adalah (bkpm.go.id, 2015):

(1) Singapura,

(2) Jepang,

(3) Amerika Serikat,

(4) Korea Selatan,

(5) Malaysia.

Berdasarkan hasil survei 2016 oleh Media Bisnis Maeil (Korea Selatan), Nihon Keizai Shimbun (Jepang), dan the Global Times (China) pun menunjukkan bahwa Indonesia (59.6 persen) adalah pasar paling menarik di Asia Tenggara pasca penerapan Asean Economic Community (AEC), di atas Vietnam (38.5 persen), dan Thailand (31.1 persen).

Indonesia adalah pasar paling menarik di Asia Tenggara pasca penerapan Asean Economic Community (AEC) - Maeil (2016)

Indonesia adalah pasar paling menarik di Asia Tenggara pasca penerapan Asean Economic Community (AEC) – Maeil (2016)

Peta persaingan Jepang, Korea Selatan, dan China

Korea Selatan, Jepang, dan Republik Rakyat China - sumber voanewscom

Korea Selatan, Jepang, dan Republik Rakyat China – sumber voanewscom

Melalui paparan data yang sudah disampaikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa peta persaingan bisnis Jepang, Korea Selatan, dan China memang sudah berubah. Jepang masih menunjukkan dominasi, antara lain melalui realisasi penanaman modal, jika dibandingkan dengan seterunya sesama negara Asia Timur.

Namun tak dapat dipungkiri dominasi tersebut mulai melemah dan salah satu penyebab pelemahan tersebut adalah pijakan industri elektronik yang semakin tergusur oleh Korea Selatan dan China. Inilah penyebab tutupnya pabrik-pabrik elektronik Jepang di Indonesia.

Hasanudin Abdurakhman, General Manager Business Development PT. Toray Industries Indonesia, menyatakan indikasi pelemahan dominasi Jepang sebenarnya sudah terlihat 20 tahun lalu saat dirinya masih tinggal dan bekerja di Jepang. Hasanudin yang menempuh pendidikan S2 dan S3 di Jepang menyampaikan, “Pada tahun 2000, saat saya mulai kuliah ke Jepang, melalui berita NHK saya mengetahui bahwa Sony, raksasa elektronik Jepang, melakukan perekrutan kalangan anak-anak muda China di RRC untuk divisi riset dan pengembangan. Sebuah langkah yang sangat mengejutkan bagi saya, karena Jepang melakukan perekrutan dari pihak yang bisa dikatakan seteru abadi mereka, China.”

“Selain melalui berita NHK tersebut, saya juga mengetahui langsung bagaimana perbedaan kinerja Jepang, China, dan Korea Selatan di universitas dan lembaga riset Jepang. Terlihat adanya jurang yang lebar dalam hal etos kerja antara generasi muda Jepang dibandingkan dengan generasi muda Korea Selatan dan China. Para pemuda Korea Selatan dan China terlihat sangat militan dalam bekerja jika dibandingkan dengan pemuda Jepang. Para pemuda Jepang dalam pandangan saya terlihat terlalu santai,” ujar Hasanudin.

Rentetan kejadian tersebut bagi Hasanudin sudah menjadi pertanda bahwa tanda-tanda kemunduran industri Jepang sudah mulai terlihat. Jepang yang memiliki keunggulan sangat kuat dalam hal riset teknologi tidak memiliki tenaga pengganti dengan etos kerja sebaik generasi pendahulu, yang berakibat para periset dan profesor senior harus merekrut para pekerja ulet dari Korea Selatan dan China.

Para pekerja ulet berusia muda dari Korea Selatan dan China tersebut kemudian kembali ke kampung halamannya dengan bekal ilmu riset memadai, bekerja sebagai insinyur eksekutif, dan menjadi tulang punggung perusahaan-perusahaan Korea Selatan dan China.

Apakah generasi muda Jepang benar-benar sulit diharapkan? Kenyataan yang ada menunjukkan banyak dari mereka yang bermalas-malasan. Meski secara ekonomi tidak kaya-raya, mereka sudah mampu hidup berkecukupan hanya dengan bekerja di toko serba ada. Bisa jadi mereka merasa nyaman, memiliki orang tua yang mapan dan berada, serta terlena oleh kemajuan ekonomi Jepang yang sayangnya tidak kekal.

Selain faktor melemahnya kekuatan riset Jepang dan kemalasan generasi muda Jepang, Hasanudin menyampaikan bahwa Jepang juga melemah karena budaya mereka, salah satunya kodawari. Kodawari menggambarkan obsesi, keuletan, fokus, dan kegigihan bangsa Jepang menciptakan kesempurnaan dalam setiap karya. Hasanudin berkata, “Bagi orang Jepang, harga menjadi mahal tidak masalah asalkan hasil akhirnya sempurna.”

Hal tersebut relatif tidak dipedulikan seteru mereka, China, yang lebih jeli melihat peluang pasar. Saat menghadapi pasar China, para pengusaha China terbiasa membuat produk-produk berbiaya rendah dan bekualitas rendah, namun tetap memiliki penyerapan pasar yang baik. Mereka tidak memiliki idealisme kodawari ala Jepang dan mereka menerapkannya ke pasar Indonesia. Maka tak heran dalam segmentasi pasar yang sensitif harga dan mengesampingkan kualitas, produk Jepang tersingkir oleh produk-produk China.

Ingat, Jepang masih dominan!

Dengan berbagai kondisi tersebut, meski Jepang mengalami pelemahan, pelemahan yang dialami masih terbatas pada industri tertentu, yaitu elektronik. Dalam industri elektronik, misalnya piranti telekomunikasi untuk pasar pengguna akhir dan alat-alat rumah tangga, bisa dikatakan merek Jepang sudah tersingkir dari posisi puncak di hampir semua segmen pasar oleh merek-merek Korea Selatan dan China.

Secara kasat mata dapat dilihat merek-merek telepon genggam dan gawai seperti Samsung, Oppo, dan Xiaomi terlihat sangat dominan dan merek-merek Jepang seperti Sony seakan sekedar hidup. Sedangkan untuk merek-merek peralatan rumah tangga, misalnya mesin  cuci, pendingin ruangan, dan televisi, merek-merek non-Jepang kembali terlihat mendominasi pandangan mata di berbagai pusat penjualan produk elektronik.

Namun saat kita memandang pasar dan industri secara luas, Jepang sebenarnya masih terlihat dominan di Indonesia. Keunggulan tersebut selain melalui realisasi penanaman modal yang masih di atas Korea Selatan dan China, Jepang juga masih menguasai industri-industri lainnya di Indonesia melebihi dua seterunya.

Sebagai contoh dalam hal industri otomotif, Toyota, Honda, Hino, dan merek-merek otomotif Jepang lainnya terlihat sangat dominan. Di wilayah-wilayah seperti Bekasi, Cikarang, Cibitung, dan Purwakarta, pabrikan Jepang dan industri pendukungnya terlihat di mana-mana.

Selain industri otomotif, Jepang memiliki penguasaan pasar Indonesia yang lebih kuat dibandingkan Korea Selatan dan China, antara lain dalam industri makanan dan minuman, Fast Moving Consumer Goods (FMCG), alat-alat berat, infrastruktur, dan advanced materials.

Contoh industri makanan dan minuman diwakili keberadaan Asahi, Yamazaki, dan Morinaga, kemudian dalam industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang diwakili antara lain Fumakila, Lion, dan Otsuka,

Jadi dari paparan di atas dapat diketahui bahwa sebenarnya Jepang masih unggul atas Korea Selatan dan China secara umum dalam usaha merangkul pasar Indonesia. Namun, tak ada yang abadi dan bisa jadi dalam beberapa waktu ke depan, rangkulan Korea Selatan dan China dapat makin meluas melebihi Jepang.

Depok, 26 Februari 2016

(Andika Priyandana)

 

Iklan

2 thoughts on “Jepang, Korea Selatan, dan China Merangkul Indonesia

  1. Indonesia menciptakan anak-anak pekerja. Ini mesti diubah. Contoh kasus temanku, ia ambil jurusan teknik mekanik otomotif. Secara keahlian lumayan untuk setingkat SMK. Setelah lulus bekerja pada sebuah pabrik Shock Breaker. Selama 3 tahun skillnya gak nambah, bahkan lupa. Sebab, ia hanya bertugas memasukkan sebuah kertas pada bagia Shock Breaker. Karena bosan akhirnya memutuskan keluar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s