Turki, Kudeta, dan Recep Tayyip Erdoğan

Status yang menjadi kontroversial. Inilah hal yang di luar dugaan saya saat mengunggah konten pasca kudeta Turki. Berikut status Facebook saya yang sempat menjadi kontroversi.

Dokumentasi status Facebook 17 Juli 2016 pukul 08:29 

Catatan: Status saya ditujukan bagi pihak-pihak yang masuk dalam profil yang saya ketik di bawah secara keseluruhan, bukan satu-satu. Status ini tidak ditujukan bagi pihak-pihak yang tidak memenuhi profil secara keseluruhan.

Jadi contohnya, kalau Anda memenuhi poin 1, 2, 3, 4, tapi tidak poin 5, 6, 7, dst, Anda bukan orang yang saya tuju.

———————————————–

Sejak kemarin, linimasa saya sering berseliweran konten puja-puji untuk RTE dan dari pemberi puja-puji tersebut, saya berfokus ke pihak-pihak yang memenuhi profil berikut:

1. Warga Negara Indonesia, bukan Warga Negara Turki,
2. Tidak bisa bicara Bahasa Turki, bahkan sekedar Tesekkur Ederim,
3. Belum pernah ke Turki,
4. Tidak bekerja di Turki dan tidak bekerja untuk perusahaan Turki,
5. Hanya mengikuti berita Turki sepotong-sepotong, itu pun didominasi konten minim kaidah jurnalistik,
6. Lahir, tinggal, dan bekerja di Indonesia, serta menerima dan menggunakan segala macam fasilitas yang tersedia di Indonesia,
7. Kita saling mengenal dan tentunya pernah bertemu di dunia nyata.

Aneh memang, kenapa kalian untuk Pak RTE bisa mendoakan kebaikan, tetapi untuk presiden kita sendiri, yaitu Pak Jokowi tidak engkau doakan kebaikan? Kalian sangat rutin berbicara hal negatif tentang pemerintahan RI di bawah Pak Jokowi, dan bahkan diselingi kebohongan dan fitnah.

Andai saja kalian doakan kebaikan untuk presiden kita, bisa jadi Allah SWT kabulkan dan membawa kebaikan untuk negeri kita

Bukankah kalian juga menginginkan demikian? Karena di banyak pembicaraan kalian, kalian juga memberikan opini mengenai cara menjalankan negara yang baik dan benar versi kalian.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’)


Status saya di atas segera menuai kontroversi. Opini-opini bertentangan muncul terhadap status saya, khususnya dari para pendukung Recep Tayyip Erdoğan. Harap menjadi catatan, berikut adalah sikap saya per 17 Juli 2016:

  1. Saya tidak mendukung kudeta karena tindakan tersebut masuk kategori inkonstitusional,
  2. Bagi Anda sekalian yang menyukai Recep Tayyip Erdoğan (RTE), itu juga urusan Anda. Saya tidak peduli. Yang saya pertanyakan adalah para pecinta Erdogan yang rutin mengelu-elukan Erdogan dan di saat sama, menjelekkan dan bahkan menyebarkan kampanye hitam mengenai pemimpin negeri sendiri (Presiden Joko Widodo – Jokowi).

Seiring waktu, sikap saya condong pada arah tidak menyukai sikap Pemerintah Turki, khususnya setelah mengeluarkan rilis pers terbuka pada 28.07.2016 yang meminta penutupan sembilan sekolah di Indonesia yang dituding berafiliasi dengan organisasi teroris. Berikut isi rilis pers Kedutaan Besar Turki di Jakarta (http://jakarta.emb.mfa.gov.tr/ShowAnnouncement.aspx?ID=310458):

Embassy Announcement

Press Release , 28.07.2016

PRESS RELEASE FROM THE EMBASSY OF THE REPUBLIC OF TURKEY

 

The situation unfolded in Turkey was a coup attempt to overthrow the democratically-elected Government. This attempt was foiled by the Turkish people in unity and solidarity. Turkish Armed Forces was not involved in the coup attempt in its entirety. It was conducted by a clique within the Armed Forces and received a well-deserved response from our Nation.  

Life in Turkey returned to normal on 16 July 2016. Our President and Government are in charge. 

The Turkish Grand National Assembly held an extraordinary meeting, where a joint declaration condemning the coup attempt in the strongest terms was issued by a unanimous vote (the joint declaration may be reached at https://global.tbmm.gov.tr/index.php/EN/yd/haber_detay/1248.)

In the context of the ongoing measures for public order and security, a nation-wide State of Emergency was declared in Turkey as from 21 July 2016 in accordance with our Constitution and in full observance of European Convention of Human Rights. 

State of emergency is a measure permissible under international law taken by many states when there is an imminent threat to its security and order, as it is the case with France who has recently extended the nation-wide state of emergency for another six months. It is evident that Turkey has faced serious and multi-dimensional security threats since 15 July 2016. 

The state of emergency will not affect fundamental rights and freedoms of our citizens. On the contrary, it is a nation-wide measure taken for the efficient protection of the constitutional order as well as fundamental rights and freedoms. Utmost importance is duly being shown to this end. 

Democratic structure of the state will be protected and the rule of law will continue to be upheld.  

The Turkish Government will take all the necessary steps for the punishment of the clique which performed the coup attempt. It is clear that the coup attempt was perpetrated by the FETÖ terrorist organization. The attempt showed the true colour of the FETÖ terrorist organization and its leader Fethullah Gülen, who lives in the USA.

Indeed, quite a few resources point to the fact that Gülen and his terrorist organization started to enrol their members at the State positions many years ago, when they also started the planning of the coup attempt (Please see, among many others, one of Gülen’s speeches at https://www.youtube.com/watch?v=blGA11LYSDk, where he makes such intention, movement and planning clear).

As a matter of fact, more and more suspects of the coup attempt confess their involvement in the activities of this terrorist organization and its heinous coup attempt.

There are a number of schools in Indonesia, which are linked to this terrorist organization. According to the Indonesian officials, their umbrella organization in Indonesia, i.e. PASİAD has been shut down on 1 November 2015. As the Embassy, we have for long been expressing our concerns on the activities of the FETÖ terrorist organization here in Indonesia to top Indonesian officials.

Below is the list of education facilities in Indonesia, which are linked to the FETÖ terrorist organization, which are operating:

1) Pribadi Bilingual Boarding School, Depok
2) Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung

3) Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School, Tangerang Selatan

4) Semesta Bilingual Boarding School, Semarang

5) Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School, Jogjakarta

6) Sragen Bilingual Boarding School, Sragen

7) Fatih Boy’s School, Aceh

8) Fatih Girl’s School, Aceh

9) Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan 

Please kindly note that, according to the information we received from the Indonesian Ministry of Religious Affairs, the Ministry has sent an official letter to State Islamic University (UIN) Jakarta in Ciputat, South Jakarta and ordered the closure of their Gülen lectern sometime ago.

It is noteworthy to state that after the coup attempt perpetrated by the FETÖ terrorist organization, a number of countries decided to shut down the schools, affiliated to it. Among these are Jordan, Azerbaijan, Somalia and Niger. Turkish Republic of Northern Cyprus authorities decided to list PDY/FETÖ as a terrorist organization. We appreciate the true solidarity of these countries.

Turkey and Indonesia have traditionally been enjoying friendly relations based on historical and cultural affinities.  We cooperate at several regional and multilateral platforms such as the UN, Organization of Islamic Conference (OIC), Developing-8 (D-8), G-20 and MIKTA. The relations between Turkey and Indonesia were elevated to the level of Strategic Partnership in 2011. As a strategic partner, we expect and count on the support of the brotherly and friendly people of Indonesia and the Esteemed Indonesian Government in our fight against the FETÖ terrorist organization.


Saya adalah pendidik dan saya sangat berseberangan dengan permintaan menutup sekolah, tempat pendidikan putra putri bangsa, dengan tuduhan yang belum bisa dibuktikan validitasnya.

Berikut adalah bantahan terhadap tuduhan yang dikeluarkan Pemerintah Turki dan Kedubes Turki di Jakarta, Indonesia oleh Khaleed Hadi Pranowo, lulusan Semesta Bilingual Boarding School, Semarang.  Opini diambil sebagai balasan status saya di awal dokumentasi.

17 Juli 2016 pukul 23:33
Saya hanya pernah sekolah asrama Indonesia – Turki dan dekat dengan sahabat-sahabat guru Turki yang mengajar di Indonesia. Mengikuti kasus ini sumbernya dari berita dan sahabat saya tersebut, “it’s complicated”.

Hasil yang kami amati dan sudah diprediksi dari setahun yang lalu berdiskusi dengan sahabat saya itu, kondisi tidak aman itu sudah terlihat dari lama hingga langkah menjadi WNI dilakukan mereka. Orang tua merekapun diboyong ke Indonesia, karena kondisi pada saat itu memang tidak kondusif (Media swasta dikuasai, aparat keamanan diganti sesuai dengan kesukaan RTE, dll).

Dan pemerintah Turki yang saat ini dari setahun lalu berdiplomasi dengan pemerintah Indonesia supaya mencopot ijin kerjasama beberapa sekolah Turki di Nusantara dengan Indonesia. Dengan alasan utama ditakutkan, Kami alumnus sekolah tersebut akan mengkudeta pemerintahan. Alhasil, semua guru Turki di Indonesia dicopot. Akhir 2015 realisasi finalnya.

Jadi bukan masalah tokoh pemimpinnya tetapi orang-orang disekelilingnya, bukan masalah agama tetapi politiknya.

18 Juli 2016 pukul 06:51

Semua guru Turki udah ga ada yg ngajar di 8 sekolah kerjasama Indonesia – Turki. Padahal kerjasamanya sudah jalan 20 tahun lebih.

Lembaga pendidikan yang udah lama kerjasama turki bareng bbrp lembaga pendidikan di Indonesia (Pasiad Turki) udah di copot. Logo sekolah dengan bendera Indonesia dan Turki berdampingan pun, Bendera Turkinya sudah sampai dihilangkan.

Guru yang ngajar skrg klo warga negara turki udah ga boleh. Hasilnya diganti guru turki yg udah ganti naturalisasi ke negara lain misal australia.

18 Juli 2016 pukul 11:09

Jadi sekarang sekolah yang awalnya kerjasama Indonesia – Turki di insisasi lembaga pendidikan di turki Pasiad, yang memang tujuannya mendidik dengan nilai islami & culture multinasional. Udah ga boleh lagi di Indonesia. Hasilnya yayasan di masing-masing daerah (cth : Al-Firdaus/ Al Fatih & Yenbui) di Indonesia harus mandiri. Guru WN Turki ditarik semua. Secara inisiatif diganti WN Turki yang udah pindah Kewarganegaran negara lain, Orang turki yang udah WNI atau Orang Turki dengan WN Australia.

Mungkin ya, sekalian pengetatan budget kali ya. hehe

http://www.cnnindonesia.com/…/upaya-kudeta-gagal…/

“Pemerintah Turki menyatakan upaya kudeta itu gagal, sementara para petinggi militer mengatakan bahwa mereka tidak merestui insiden tersebut. Menurut mereka, kudeta dilakukan oleh segelintir faksi militer, terutama para ulama Turki yang berada di Amerika Serikat, Fethullah Gulen.”

“Silahkan sebuah organisasi internasional yg independen menelusuri dalang dari kudeta tersebut. Saya minta sebuah organisasi internasional yg melakukanya. Entah nantinya hasilnya apapun, meskipun hasil tersebut juga bisa bohong untuk menuduh sy, tapi saya rela bertanggungjawab.”
F.GULEN Hocaefendi..

18 Juli 2016 pukul 17:38

another point dari salah satu temen yang “dekat dengan turki” :

Saya adalah orang buta politik, tidak faham bagaimana politik bekerja. Tapi saya hanya tau mana orang yang mengatakan kebenaran dan mana yang pura-pura benar. Saya bertahan untuk diam tapi ternyata tidak kuat dan akhirnya menulislah hal yang tidak penting ini.

Banyak sekali media di Indonesia membela presiden erdogan, mengelu-elukan sebagai presiden Muslim yang patut di contoh. Tapi seperti kebiasaan orang kita pada umumnya, menyimpulkan sesuatu hanya dari 1 atau 2 sumber berita yang belum tentu kebenarannya dan sama sekali tidak detail. Tapi entahlah, saya tidak akan berkomentar tentang siapapun.

Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa Presiden Erdogan telah melakukan kesalahan besar menuduh Fetullah Gulen atau disebut Hoca Efendi di balik peristiwa kudeta beberapa hari yang lalu.

 

Opini Khaleed yang diambil dari laman Facebook atas nama Khaleed Hadi Pranowo pada 29 Juli 2016 pukul 09:34 sebagai reaksi permintaan Kedutaan Besar Turki untuk menutup sembilan sekolah di Indonesia yang dianggap berafiliasi dengan organisasi teroris. 

Itulah yang dilakukan oleh pemerintah erdogan selama ini sejak tahun 2013. Melempar isu/fitnah dan mencari kambing hitamnya sendiri untuk memperkuat posisi autoritariannya, dgn menguasai semua media di turki, otak kita akan percaya kepada apa yg sering kita lihat dan bukan kepada kebenaran yg ada. Istilahnya lempar isu/fitnah dulu nanti lihat reaksinya setelah itu baru dikoreksi.

Yang membuat sedih adalah orang2 indonesia juga ketika tidak mengetahui seluk beluk, akar permasalahan serta background sosial politik di turki turut mencibir,mengutuk,menfitnah ulama fethullah gulen ini.

Sangat mudah sebenarnya jika kt mau dgn akal sehat dan hati bertabayun melihat bahwa gerakan hizmet aktif sekali di pendidikan dan sosial keagamaan untuk mendidik anak2 muda turki yg pada thn 70-80an lebih banyak hilang jatidirinya krn kuatnya paham swkularis/sosialis/komunisme, yg ada adalah benturan keras antar ideologi.

Trus apa salahnya kalau anak2 yg terdidik tersebut di kemudian hari menjadi seorang yg memiliki sifat2 baik. Apa salahnya kalau mrk disarankan untuk menjadi org2 penting menjabat posisi2 penting.

Yg salah adalah orang2 yg melakukan kesalahan dan melanggar hukumlah yg takut dari orang2 baik! Ya apa ada kelanjutan kasus korupsi thn 2013 yg melibatkan pejabat2 di pemerintahan turki? Kenapa, apa karena sudah tidak tersisa lagi polisi, jaksa, hakim yg jujur dan amanah, setelah mereka ditangkap dan diberhentikan paksa dgn tuduhan yg mengada2?

Kalau seorang ulama tugasnya memang memberikan saran dan arahan serta mengajari orang2 untuk menjadi baik. Dan selama hidupnya fethullah gulen ceramah pengajian dan menulis buku2 agama.

Dia korban kudeta 4 kali di turki, dan setelah percobaan kudeta thn 90an, dia berkali2 didakwa dengan tuduhan mengganti ideologi sekuler turki menjadi ideologi islam dan akhirnya terbebas dr tuduhan2 tersebut dgn putisan pengadilan. Itulah kenapa selain awalnya untuk berobat, dia ke amerika krn nyawanya selalu terancam.

Indonesia sudah belajar dari masa lalu yg penuh pengalaman berharga… Indonesia seperti yang selalu kita banggakan dengan kebhinekaan nya walaupun berbeda kita tetap satu, disini ada NU disini ada Muhammadiah dan lainya. Pengajian2 yg ada juga dihadiri banyak pejabat, petinggi polisi dan tentara, artis, dsb. Bahkan mereka juga dengab terbukanya mengakui saya Nu atau saya Muhammadiah, namun tetap saja kita bisa memahami hal tersebut, karena apa? Karena demokrasi di indonesia lebih baik dari yg ada di turki.

Dengan keberagaman di Indonesia dan pelajaran demokrasi yg kita punya, sekarang apakah kita pantas dan layak untuk mendengarkan dekte dan perintah dari turki yang notabene harus banyak belajar tentang demokrasi dan penegakan hukum.

Sekolah2 tersebut sdh lebih dr 20 thn ada dan dimiliki oleh yayasan indonesia. Tidak pernah ada satupun kegiatan berindikasikan terorisme disana, sebaliknya sekolah dan siswanya sangat berprestasi, lihat 2 tahun yg lalu data peringkat sekolah di indonesia yg mengirimkan siswa ke olimpiade internasional, kita semua pasti akan tahu dan paham bagaimana sekolah tersebut mewakili bangsa dan negara Indonesia di kancah kejuaraan dunia.

Jaya dan maju Indonesia.

——————————————————–

Untunglah Pemerintah Indonesia menunjukkan kewibawaan dengan menolak permintaan yang disampaikan Kedutaan Besar Turki untuk menutup sekolah secara resmi dan terbuka. Berikut ini tautan beritanya, silahkan klik Sekretariat Kabinet Republik Indonesia: Menyangkut Kedaulatan, Pemerintah Tolak Permintaan Turki untuk Tutup Sekolah Terkait Kudeta. 

 

Depok, 30 Juli 2016

Andika Priyandana

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s