Mosaik Manusia Bernama Rock ‘n’ Roll

Rock ‘n’ roll music, if you like it, you feel it, you can’t help but move to it. That’s what happens to me. I can’t help it. – Elvis Presley.

Bon Jovi

Bon Jovi

After 25 years, we’re excited to return to Jakarta, Indonesia on September 11! #BonJoviJakarta – Setelah 25 tahun, kami antusias untuk kembali ke Jakarta, Indonesia pada 11 September! #BonJoviJakarta – (pernyataan akun Twitter @BonJovi pada 18 Juni 2015, pukul 12:00).

Bon Jovi sebagai salah satu band terpenting dalam sejarah rock ‘n’ roll, sukses menunjukkan pengaruh yang sangat kuat terhadap industri musik Indonesia. Histeria massa timbul saat Bon Jovi menunjukkan tajinya yang masih kuat seperti 20 tahun lalu saat mereka konser pertama kali di Indonesia.

Bahkan jika kita runut lebih jauh ke belakang, histeria terhadap musik rock ‘n’ roll yang ditunjukkan generasi milenial Indonesia masih sama dengan histeria yang ditunjukkan oleh generasi muda Indonesia era Presiden Soekarno. Pada era tersebut, lagu rock ‘n’ roll berjudul Rock Around the Clock menjadi lagu rock ‘n’ roll pertama yang masuk ke Indonesia melalui film Blackboard Jungle pada tahun 1955.

Awal Rock ‘n’ Roll di Indonesia

Membahas rock ‘n’ roll, tentunya tidak dapat lepas dari pembahasan mengenai popular culture, atau lebih sering disebut pop culture. Pop culture memiliki ide utama bahwa manusia secara umum menciptakan subbudaya bangsa dengan menikmati bentuk hiburan baru yang selalu muncul di setiap generasi. Pop culture menjadi penting karena adanya peran kuat dari media massa, utamanya televisi yang menjadi media tercepat dalam hal penyebaran dan konsumsi hingga ke pelosok sebelum hadirnya media internet.

Sejarah rock ‘n’ Roll dimulai pada awal 1950an. Pada 1951 di Cleveland, Ohio, seorang DJ radio bernama Alan Freed mulai memainkan musik baru yang berakar dari genre rhytm and blues serta country dan pop. Alan menyebut musik ini rock ‘n’ roll, sebuah nama yang menggambarkan musik yang sekaligus hitam dan putih, musik yang mencerminkan Amerika. Maka, lahirlah subbudaya bernama rock ‘n’ roll di Amerika Serikat dan melalui pengaruh media televisi yang sangat populer, dan tentunya dengan bantuan radio serta bioskop, musik rock ‘n’ roll mendunia hingga Indonesia.

Pada awal masa kemunculan rock ‘n’ roll di Indonesia, generasi tua, temasuk pemerintah dan Presiden Soekarno merasa geram dengan rock ‘n’ roll. Bagi mereka, musik rock ‘n’ roll menimbulkan rasa cemas terhadap kemungkinan goyahnya nilai-nilai budaya yang sudah mapan. Presiden Soekarno pun melontarkan kecaman terhadap musik rock ‘n’ roll  dalam pidatonya pada 17 Agustus 1959 yang isinya:

Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik. Kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau masih banyak yang rock ‘n’ rollrock ‘n’ roll-an, dansa-dansa ala cha-cha musik yang ngak ngik ngok….

Dalam kenyataannya kecaman Presiden Soekarno ternyata tidak dapat meluruhkan popularitas musik rock ‘n’ roll. Musik ini kemudian menjadi barang ekonomi. Para generasi muda Indonesia pasca perang telah hidup di masa yang lebih mapan dan memiliki cukup uang pemberian orang tuanya untuk membeli rekaman dalam kuantitas yang menjamin kelangsungan hidup rock ‘n’ roll di pasar Indonesia.

Band Rock ‘n’ Roll Indonesia

Koes Plus

Koes Plus

Kemunculan band-band lokal semakin menyuburkan pertumbuhan musik rock ‘n’ roll  di Indonesia. Ada satu nama yang mustahil lepas dari sejarah musik Indonesia dan tentunya rock ‘n’ roll. Nama tersebut adalah Koes. Beberapa kali berganti nama, antara lain karena pergantian personel, namun Koes dalam tampilan Koes Plus serta Koes Bersaudara sukses mempelopori musik popular di Indonesia.

Memasuki era 90an, lahirlah band rock ‘n’ roll Indonesia lainnya bernama The Super Insurgent Group of Intemperance Talent atau biasa disingkat The S.I.G.I.T. The S.I.G.I.T adalah band indie asal Bandung yang dibentuk pada 1997 dan mendapatkan pengaruh dari Led Zeppelin, The Clash, dan Beatles.

Kemudian pada dekade 2000, Gugun Blues Shelter (GBS) yang beranggotakan Muhammad Gunawan “Gugun”, John “Jono” Amstrong, dan Aditya “Bowie” Wibowo lahir. GBS dikenal dengan julukan The Little Jimmy Hendrix di mancanegara dan pernah menjadi band pembuka konser Bon Jovi, Rod Stewart, dan The Killers pada 26 Juni 2011 di Hyde Park, London.

Pelajaran marketing dalam rock ‘n’ roll

Kesuksesan penetrasi musik rock ‘n’ roll di Indonesia antara lain ada pada kehadiran band-band rock ‘n’ roll lokal. Harus diakui bahwa kehadiran mereka menunjukkan kunci kesuksesan ekonomi global yang semakin lokal. Pengetahuan lokal, hubungan lokal, dan budaya lokal, disadari atau tidak, terasa dari musik rock ‘n’ roll yang dimainkan Koes Bersaudara, The S.I.G.I.T, dan Gugun Blues Shelter.

Selain pemahaman pengetahuan lokal, hubungan lokal, dan budaya lokal, tentu saja kita sebagai para marketer harus mengingat peran media massa yang menyerbarluaskan dan mempopulerkan musik rock ‘n’ roll di Indonesia. Jika dulu pada awal kemunculan musik rock ‘n’ roll,televisi memiliki jasa sangat besar untuk menjangkau para penikmatnya, apa kira-kira media yang cocok untuk terus menjaga ruh rock ‘n’ roll di Indonesia? Internet sebagai media dengan pertumbuhan tercepat dunia melewati kecepatan pertumbuhan televisi bisa menjadi jawabnya.

Jakarta, 27 Oktober 2015

(Andika Priyandana, dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s