Wisata Indonesia: Gerhana Matahari Total

Gerhana matahari total terjadi setiap satu setengah tahun sekali di suatu tempat di muka bumi (spaceplace.nasa.gov). 

Meski demikian, tidak semua orang di muka bumi berkesempatan melihat Gerhana Matahari Total (GMT). Dapat menjadi manusia yang melihat GMT adalah kesempatan yang langka. Penyebabnya adalah bayangan bulan pada permukaan bumi ada pada area terbatas dan hanya ada pada daerah yang disinari matahari saat GMT terjadi. Lalu, sang penonton GMT juga harus ada pada jalur bayangan bulan.

Solar Eclipse - SpaceplaceNasagov

Solar Eclipse – pic source: Spaceplace.Nasa.gov

Maka tidak heran jika secara rerata, titik sama pada permukaan bumi hanya mendapat kesempatan melihat GMT selama beberapa menit setiap 375 tahun! (spaceplace.nasa.gov)

Kesempatan Langka Indonesia: Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari

Gerhana Matahari

Apa sebenarnya Gerhana Matahari Total (GMT)? GMT terjadi saat jalur bulan datang melintasi antara matahari dan bumi, lalu menimbulkan bagian tergelap dari bayangannya (umbra) di permukaan bumi. Titik tergelap GMT di permukaan bumi hampir sama gelap dengan malam hari.

Blog Andika Priyandana - Jalur Gerhana Matahari Total di Indonesia

Per Rabu, 9 Maret 2016, Indonesia berkesempatan melihat GMT dengan jelas dari wilayah Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Kesempatan tersebut adalah kesempatan yang sangat langka. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa menurut NASA, secara rerata satu wilayah dapat melihat GMT setiap 375 tahun sekali.

Sedangkan berdasar edaran siaran pers PLN (05/03/2016) disebutkan, “Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) menjadi ketertarikan bagi masyarakat Indonesia karena merupakan peristiwa langka yang terjadi sekali dalam 350 tahun, dan kali ini Indonesia adalah satu-satunya wilayah daratan di dunia yang bisa menyaksikan gerhana matahari, selain lautan Hindia dan Pasifik.” Mungkin lebih tepatnya adalah peristiwa langka yang terjadi di suatu wilayah sekali dalam 350 tahun.

Penggunaan kata wilayah ini juga tidak selalu berkorelasi dengan negara, apalagi negara seluas Indonesia dan ada di garis khatulistiwa. Validasi pernyataan tersebut adalah GMT yang sebelumnya pernah terjadi pada 11 Juni 1983, atau hampir 33 tahun lalu, di tengah Jawa, selatan Sulawesi, tenggara Maluku, dan selatan Papua (Kompas, 02/03/2016).

Menghadapi fenomena langka ini, pemerintah pun mengambil langkah tepat dengan menjadikan GMT sebagai salah satu atraksi wisata. Dunia wisata juga menunjukkan dukungan dan salah satunya adalah CNN Travel yang menyatakan GMT pada 9 Maret 2016 adalah waktu terbaik mengunjungi Indonesia.

Melalui pemberitaan Kompas (05/03/16), para pemburu GMT mulai berdatangan dari seluruh dunia, khususnya menuju Palu, Sulawesi Tengah yang dipandang sebagai lokasi terbaik melihat fenomena GMT. Tentunya peristiwa GMT dapat menggerakkan ekonomi Palu dan daerah Indonesia lainnya yang dapat melihat peristiwa tersebut, antara lain melalui penjualan cendera mata khas. Selain para wisatawan, peneliti NASA turut menunjukkan ketertarikan mengamati dan meneliti GMT secara langsung di Indonesia.

Wisata Gerhana Matahari Total di Palu, Sulawesi Tengah

Ibu saya bercerita bahwa saya pertama kali mengikuti kemeriahan menyaksikan GMT saat masih berusia sekitar enam bulan. Pada 11 Juni 1983, bersama kedua orang tua saya, kami bersama-sama para peneliti internasional menikmati GMT di kawasan Pantai Tanjung Kodok, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dengan penjagaan ketat oleh aparat keamanan.

Namun, apa yang saya alami pada 1983 berkebalikan dengan apa yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia. Berdasarkan penelusuran berita, GMT 1983 dikenal sebagai memori kelam bangsa Indonesia karena pemerintah pada masa tersebut melarang rakyat menikmati fenomena GMT dengan berbagai seruan yang tidak masuk akal. Harus diakui bahwa faktor latar belakang keluarga saya memungkinkan kami menikmati GMT 1983 di Indonesia dengan nyaman.

Untunglah pada GMT berikutnya di Indonesia, 9 Maret 2016, pemerintah justru sangat mendorong rakyat untuk menikmati kemeriahan fenomena GMT. Dalam opini saya, GMT dapat menjadi salah satu ajang pendidikan sains yang sangat baik sekaligus mengasah nalar. Melalui GMT ini pula, saya teringat pernah sangat menyukai bahasan astronomi semasa SMP. Saking sukanya, nilai-nilai ulangan astronomi saya mampu mengalahkan anak terpintar di kelas sekaligus di SMP. Sayangnya seusai bahasan astronomi selesai, nilai saya kembali keok dengan sukses. Hehehe…

7 Maret 2016

Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu, terlihat di depan mata saya dari balik jendela pesawat. Saya bersama rombongan Ikatan Alumni UI (Iluni UI) datang berkunjung ke Palu untuk menikmati GMT atas undangan langsung Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

Sambutan di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu

Sambutan di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu

Kami tiba sekitar jam 10:45 WITA dan saat kami memasuki bandara, tanda-tanda kemeriahan perayaan GMT sudah terlihat melalui berbagai media promosi.

Poster Selamat Datang di Palu

Poster Selamat Datang di Palu

Kami dijemput langsung oleh perwakilan pemerintah provinsi Sulteng dan yang membuat saya terkejut, ternyata kami dijemput dengan kategori VVIP dan turut menggunakan kendaraan yang diperuntukkan bagi rombongan Wapres RI, Jusuf Kalla.

Mobil jemputan

Mobil jemputan

Setelah duduk di dalam mobil, kami kemudian diberikan kartu identitas agar bisa masuk ke dalam wilayah khusus untuk menikmati GMT dan kacamata gerhana matahari.

Kartu Identitas untuk Melihat GMT Palu

Kartu Identitas untuk Melihat GMT Palu

Kacamata Gerhana Matahari

Kacamata Gerhana Matahari

Sisa hari kami kemudian dihabiskan untuk jalan-jalan keliling Palu, melihat masjid terapung dan berkendara hingga Donggala. Kunjungan ke titik-titik wisata di Palu dan sekitarnya kembali kami lakukan besoknya, Selasa, 8 Maret 2016, untuk menghabiskan waktu menyongsong GMT.

9 Maret 2016

Palu pada hari Rabu, 9 Maret 2016, pukul 07:27 WITA adalah waktu mulai GMT dan mencapai puncak pada 08:38 WITA. Meski demikian, kami sudah bersiap diri sejak seusai waktu subuh untuk berkumpul bersama Wapres RI, Gubernur Sulteng, dan para peneliti di lapangan terbuka yang menjadi salah satu lokasi utama menyaksikan GMT.

Persiapan melihat Gerhana Matahari Total

Persiapan melihat Gerhana Matahari Total

Keramaian persiapan melihat Gerhana Matahari Total

Keramaian persiapan melihat Gerhana Matahari Total

Kami tiba di lapangan terbuka sekitar pukul 06:30 WITA. Keramaian sudah mulai terlihat di mana-mana. Saya melihat banyak orang asing dari berbagai kebangsaan berseliweran. Selain mereka, saya juga menyaksikan banyak wartawan media cetak maupun media televisi mempersiapkan diri menyiarkan langsung fenomena GMT.

Panggung dan tempat salat gerhana

Panggung dan tempat salat gerhana

Saya juga melihat panggung yang sudah dipersiapkan sebagai tempat menikmati GMT bagi JK dan para pejabat negara serta provinsi. Di depan panggung tersebut, terbentang sajadah berukuran luas sebagai persiapan salat gerhana.

Keramaian penduduk di balik pagar untuk ikut melihat Gerhana Matahari Total

Keramaian penduduk di balik pagar untuk ikut melihat Gerhana Matahari Total

Waktu terus berjalan dan sekitar pukul 07:30 WITA, saya melihat bahwa proses GMT sudah dimulai dari sisi kanan atas matahari. Bulan perlahan mulai menutupi matahari, namun masih belum mampu menutupi kekuatan sinar matahari yang menerangi kota Palu. Menjelang pukul 08:00 WITA, rombongan Wapres RI pun tiba, melakukan obrolan singkat dengan pejabat yang berwenang di lapangan, kemudian bersiap-siap melakukan salat gerhana.

Hal menarik yang saya perhatikan menjelang saat gerhana adalah ujaran salah satu peneliti asing yang menyatakan bahwa salat gerhana yang akan dilakukan para pejabat tinggi Indonesia menjadi salah satu kegiatan yang sangat menarik, sangat religius, sekaligus menjadi salah satu diferensiasi kuat dari kegiatan GMT yang sebelumnya sudah dia saksikan di luar Indonesia.

Seusai salat gerhana, rombongan wapres, yang antara lain terdiri dari keluarga besar JK dan Sofyan Wanandi, menyaksikan GMT menggunakan kacamata gerhana seperti yang saya gunakan. Saat itu menjelang pukul 08:30 dan langit terlihat mulai gelap. Saya sebenarnya sudah mencoba mengabadikan momen-momen GMT, namun tidak berhasil. Sepertinya peralatan berupa kamera telepon selular dan plastik mylar empat lapis masih jauh dari mencukupi untuk menghasilkan foto GMT yang baik.

Foto proses Gerhana Matahari Total yang gagal

Foto proses Gerhana Matahari Total yang gagal

Salah satu hal lucu yang saya alami saat menyaksikan proses GMT adalah adanya salah satu reporter TV One yang mencoba mewawancarai saya karena mengira saya sebagai penduduk setempat. Namun saya menyatakan bahwa saya datang karena undangan sehingga wawancara langsung oleh TV One segera batal dengan sukses. Hahaha…

Menyongsong Gerhana Matahari Total

Menyongsong Gerhana Matahari Total

Menjelang Gerhana Matahari Total

Menjelang Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari Total mulai utuh

Gerhana Matahari Total mulai utuh

Bulan secara perlahan ke arah kiri bawah semakin menutupi matahari. Suasana di sekitar saya terasa seperti bukan pagi atau siang hari lagi. Malah suasananya benar-benar terasa bagaikan petang hari. Akhirnya, bulan pun menutupi matahari dengan sempurna untuk menghasilkan gerhana matahari total. Saya melepaskan kacamata gerhana dan melihat langsung ke arah matahari dengan mata telanjang.

Dan… Sebagai pengganti foto GMT saya yang gagal, saya ambilkan hasil cetak layar Kompas TV yang menayangkan Gerhana Matahari Total.

Cetak layar Gerhana Matahari Total Palu - KompasTV

Cetak layar Gerhana Matahari Total Palu – KompasTV

Saya sadar bahwa saya hanya dapat melakukan hal ini sekitar dua menit. Maka waktu dua menit tersebut saya gunakan sebaik mungkin untuk menikmati GMT. Ini kedua kalinya saya menikmati kemeriahan GMT dan pertama kalinya saya memandang fenomena GMT secara langsung. Saya belum tahu apakah saya kembali mampu menikmati GMT, maka kesempatan yang ada saya gunakan sebaik mungkin.

Blog Andika Priyandana - JK dan rombongan seusai menyaksikan Gerhana Matahari Total

JK dan rombongan seusai menyaksikan Gerhana Matahari Total

GMT pun usai dan saya puas telah menyaksikannya secara langsung. Kepuasan juga terbayang di wajah JK dan rombongan yang menyaksikan GMT. Untuk jadwal GMT berikutnya yang jatuh pada 21 Agustus 2017, saya ucapkan selamat menikmati bagi penduduk Amerika Serikat.

Semarang, 13 Maret 2016

Andika Priyandana

Iklan

One thought on “Wisata Indonesia: Gerhana Matahari Total

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s