Mencari Masalah

“Bagaimana cara memulai usaha?”, “Ada info peluang usaha yang cocok untuk saya?”, “Tolong dong bagi info peluang bisnis!” adalah bentuk pertanyaan dan permintaan yang bisa jadi, sudah eksis dari zaman kuda gigit besi dan baru berakhir saat lebaran monyet.

Semua pertanyaan dan permintaan mengenai cara memulai usaha, informasi peluang usaha, maupun peluang bisnis dari para peminat dunia wirausaha tersebut menunjukkan ironi di negeri kita. Ternyata tidak sedikit proporsi masyarakat yang belum memahami pelajaran dasar dalam berbisnis. Lebih ironi lagi jika pertanyaan tersebut dilengkapi dengan kalimat, “… yang cocok untuk saya?” Mungkin mereka mengira bahwa pihak yang ditanya adalah paranormal yang mengetahui wangsit langit.

Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap perlu disyukuri karena kini semakin banyak anggota masyarakat yang memutuskan berwirausaha, bahkan sejak bangku sekolah. Dengan kata lain, keputusan untuk menjalankan bisnis tercipta bukan karena faktor kepepet, tapi memang inisiatif pribadi.

Sayangnya seperti yang sudah disampaikan di awal artikel, tidak sedikit di antara para calon wirausahawan dan wirausahawati yang belum memiliki pengetahuan bisnis memadai. Mereka memutuskan langsung terjun ke lapangan menjalankan bisnis dengan ilmu yang minim atau tanpa didampingi seseorang yang sudah pernah merasakan asam garam dunia wirausaha, serta siap membagikan ilmunya.

Akibat dari langkah tersebut antara lain kegagalan dalam menjalankan usaha. Bisnis mereka layu sebelum berkembang. Para pebisnis amatir ini memilih menyediakan produk yang berbasis idealisme pribadi dan kurang mencoba memahami apa yang dibutuhkan pasar. Mereka menjual apa yang mereka mampu buat dan bukan membuat apa yang mampu mereka jual.

Realitas berbicara lebih keras daripada idealisme. Fakta menyatakan bahwa sebagai pebisnis, saat kita memulai usaha, kita harus mencari-cari masalah. Makna mencari-cari masalah di sini tentu bukan membuat onar. Maksudnya adalah, kita harus mengetahui dan memahami masalah yang ada di pasar terlebih dahulu, lalu menyediakan solusi yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Inilah jurus dasar dan paling utama dalam berbisnis.

Saat kita sudah mampu mendefinisikan masalah yang dihadapi pasar dengan sangat jelas, peluang usaha dan bisnis pun tercipta. Maka, langkah-langkah berikutnya dapat kita ambil, yaitu pengembangan produk, membuat strategi pemasaran untuk menarik perhatian pasar, memikirkan strategi penjualan, merencanakan keuangan, merumuskan pelayanan pelanggan, dan masih banyak lagi.

Wirausahawan Mitchell Kapor dalam wawancara oleh Stanford Technology Ventures Program  menyampaikan hal serupa mengenai krusialitas pemahaman masalah yang dialami pasar. Mitch bahkan menegaskan bahwa pemahaman paling fundamental dari bisnis apa pun adalah memecahkan masalah.

Mitch berujar, “Anda harus memecahkan sebuah masalah. Seseorang mengalami rasa sakit, sebuah problem, dan Anda harus melakukan sesuatu yang membantu dia mengatasi masalahnya, mengobati rasa sakitnya dengan jalan yang pada akhirnya memunculkan rasa penghargaan. Orang tersebut kemudian mengucapkan terima kasih dan memberikan Anda penghargaan.”

Lalu Mitch melanjutkan, “Kemudian, harus ada sekelompok orang dengan masalah yang sama, agar Anda dapat mulai memikirkan penciptaan produk yang mengatasi masalah mereka dengan kelayakan finansial. Dan pada akhirnya, melalui produk tersebut terciptalah uang sehingga bisnis Anda dapat terus berputar. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang memecahkan masalah.”

Pentingnya pemahaman bahwa bisnis harus memecahkan masalah juga tersampaikan dengan sangat baik dalam wawancara Radio Bisnis Wharton antara Stew Friedman (Direktur Wharton Work/Life Integration Project) dengan Nova Covington (DIrektur dan pendiri perusahaan dengan produk-produk organik) pada 5 Mei 2015.

Nova bercerita bahwa awal mula dia berbisnis karena melihat dan merasakan masalah yang dialami putrinya, Paige, yang terlahir dengan bawaan alergi terhadap bahan-bahan kimia sintetis. Meski sudah menggunakan produk-produk yang dibeli di toko ritel untuk bahan-bahan alami, putrinya masih mengalami alergi. Nova akhirnya memutuskan membuat sendiri produk-produk organik dan secara otomatis menjadikan keluarganya sebagai konsumen pertama produknya. Berdasarkan pengalaman tersebut, Nova menyadari bahwa memecahkan masalah benar-benar menciptakan peluang bisnis.

Contoh lain dari mendefinisikan masalah, lalu memberikan solusi dalam bentuk produk yang tepat adalah sebagai berikut. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dunia industri di Indonesia dihadapkan pada permasalahan pengadaan produk-produk industri dengan harga tertutup, transaksi di bawah meja, dan birokrasi berbelit. Ibaratnya, para pelaku industri Indonesia sudah jatuh, masih tertimpa tangga. Akibatnya, anggaran menggelembung oleh angka-angka ilegal dan memiliki efek berganda negatif terhadap perekonomian Indonesia.

Dari deskripsi permasalahan tersebut, dapat diambil contoh produk yang mampu menjadi solusi dan memenuhi kebutuhan dunia industri di Indonesia. Produk tersebut tentunya harus mampu memenuhi nilai-nilai yang diinginkan para pelaku industri, yaitu efisiensi, transparansi, dan kepercayaan.

Aktivitas pelanggan di booth Ralali

Aktivitas pelanggan di booth Ralali

Penyediaan produk berupa Business-to-Business (B2B) Online Marketplace dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi nilai-nilai konsumen berupa efisiensi, transparansi, dan kepercayaan. Dalam nilai efisiensi, B2B online marketplace yang baik mampu menyediakan beragam pilihan produk industri dalam satu tempat.

Dalam nilai transparansi, peletakan harga masing-masing produk secara terbuka di dalam B2B online marketplace meminimalisir penggelembungan harga dan kemunculan angka ilegal melalui transaksi di bawah meja.

Terakhir dalam nilai kepercayaan, hal tersebut adalah buah dari eksisnya efisiensi dan transparansi dalam transaksi pengadaan produk-produk industri. Contoh riil dari hubungan kausalitas bahwa transparansi dan efisiensi mampu menggiring pada kepercayaan adalah keputusan sebagian pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membuka diri dalam hal penyusunan anggaran belanja. Saat rakyat mengetahui secara terbuka penggunaan uang pajak dalam rencana anggaran belanja pemerintah, kepercayaan mereka terhadap otoritas negara pun meningkat.

Kini Anda sudah mengetahui jurus dasar dan paling utama dalam memulai usaha. Apakah memilih mengikuti idealisme atau realitas, itu hak Anda. Jikalau Anda tetap memilih idealisme, usahakan agar idealisme tersebut selaras dengan masalah dan kebutuhan pasar.

 

Jakarta, 6 Januari 2016

Andika Priyandana

Catatan: Artikel ini telah dimuat di koran Kontan, 16 Januari 2016 dan Kontan online, 18 Januari 2016.

 

 

 

Iklan

One thought on “Mencari Masalah

  1. Ping-balik: Hanya Bagi yang Masih Takut Berbisnis! | WebLog Andika Priyandana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s