12 Kilometer Menuju Baduy Dalam

Seberapa lama keindahan budaya, keasrian alam, dan kearifan lokal Urang Kanekes mampu bertahan dalam gerusan zaman?

Bersiap menuju Baduy Dalam

Bersiap menuju Baduy Dalam

Pada papan berkarat di Ciboleger, titik terakhir yang memungkinkan penggunaan kendaraan bermotor sebelum meneruskan perjalanan sekitar 12 kilometer dengan berjalan kaki menuju Baduy Dalam, tertera pengumuman berikut:

Papan Peringatan Menuju Baduy

Papan Peringatan Menuju Baduy

Anda memasuki kawasan hak ulayat masyarakat Baduy. Setiap masyarakat luar Baduy yang melakukan kegiatan mengganggu, merusak, dan menggunakan lahan hak ulayat diancam pidana kurungan paling lama enam bulan dan atau denda paling banyak Rp 5.000.000 lima juta Rupiah.

Berbekal informasi tersebut, para wisatawan segera melangkah mengikuti para pemandu dari Baduy Dalam dan Baduy Luar yang setia dengan busana adat mereka, yaitu pakaian dan ikat kepala berwarna putih bagi Baduy Dalam dan pakaian berwarna hitam serta ikat kepala berwarna biru bagi Baduy Luar yang sama-sama ditenun dan dijahit sendiri.

Selain pakaian, bertelanjang kaki juga menjadi salah satu aturan adat yang dilaksanakan para pria Baduy dengan rileks. Meski mendaki bukit dan menyusuri tebing curam sambil memanggul beban berat berupa ransel para wisatawan, serta terkadang lintah menggigit kaki mereka, namun senyuman tetap terlihat di wajah para pria Baduy.

Sepanjang perjalanan, hutan asri, perbukitan hijau, dan sungai jernih yang mengalir terlihat menyatu dengan pedoman hidup suku Baduy. Penghargaan terhadap alam, kesederhanaan sikap, serta perilaku saling menghormati antarsuku membuat para pengunjung yang tulus mencintai alam kembali kepada kesederhanaan sebagai manusia.

Jembatan Menuju Leuweung Larangan

Jembatan Menuju Leuweung Larangan

Sikap masyarakat Baduy dalam menghormati ajaran karuhun (leluhur) semakin nyata menjelang leuweung larangan (hutan larangan). Suku Baduy berpandangan bahwa leuweung larangan adalah wilayah suci warisan turun-temurun karuhun yang harus terus dipelihara, antara lain melalui pelarangan penggunaan bahan kimia, membajak tanah, meracuni satwa liar dan ikan, hingga larangan menebang pohon. Jika tanah warisan karuhun ini sampai rusak, masyarakat Baduy percaya bahwa seluruh kehidupan di dunia juga akan rusak.

Sayangnya, keasrian dan kealamian tersebut sedikit demi sedikit mulai luntur karena perilaku buruk para wisatawan, antara lain dengan membuang sampah sembarangan. Pada beberapa titik menuju kampung Baduy Dalam, terlihat bungkus plastik bekas makanan, puntung rokok beserta bungkusnya, hingga wadah stirofoam. Berbagai macam sampah bekas wisatawan terlihat semakin menumpuk di setiap tempat peristirahatan yang berada di luar Kampung Baduy.

Sungguh pemandangan yang mengiris hati sekaligus menimbulkan pertanyaan, “Seberapa lama keindahan budaya, keasrian alam, dan kearifan lokal Urang Kanekes mampu bertahan dalam gerusan zaman?” Semoga Urang Kanekes mampu menjaga nilai budaya dan keindahan alam tempat mereka tinggal jauh lebih lama daripada durasi yang dibutuhkan untuk menuntaskan 12 kilometer.

Jakarta, 29 Januari 2016

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s