Simbiosis Venture Capital dan Startups

Apa yang ada dalam pikiran para pemodal ventura sebelum mereka memberikan ‘transfusi darah’ bernama pendanaan?

Dalam tiga hingga empat tahun terakhir, kosakata perusahaan pemula (start-ups) (baca: Era Start-ups Unicorn Sudah Dimulai?) dan perusahaan modal ventura (venture capital) (baca: Strategi Venture Capital: Moneyball) meraih popularitas dengan sangat cepat di Indonesia. Penyebab meroketnya kosakata tersebut antara lain karena langkah investasi oleh para perusahaan modal ventura ke dalam perusahaan pemula dengan angka sangat fantastis. Nilai investasi yang digelontorkan bisa mencapai ratusan miliar dan bahkan triliun hanya bagi satu perusahaan pemula!

Dalam konteks global dan apalagi Indonesia, angka-angka tersebut sering terasa tidak realistis dari perspektif nilai perusahaan dan kapitalisasi pasar masa kini, bahkan terkesan gelembung. Namun para perusahaan modal ventura membela tindakan mereka dengan menyatakan bahwa mereka melihat jangka panjang. Mereka berinvestasi pada pangsa pasar, potensi pendapatan, potensi laba, dan proyeksi pertumbuhan.

Namun jika ditilik lebih dalam, para investor ini sebenarnya juga menanamkan modal dengan bobot mayoritas pada ego sang pendiri perusahaan pemula. Dapat dikatakan, semua perwakilan perusahaan modal ventura yang diwawancara untuk keperluan artikel ini menyatakan bahwa mereka sangat mengutamakan profil sang pendiri perusahaan pemula sebagai faktor paling utama agar perusahaannya bersedia menggelontorkan dana.

Saat melihat profil sang pendiri, langkah-langkah tradisional verifikasi individu kadang ditinggalkan. Misalnya seperti yang diucapkan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, “Punya pengalaman bisnis itu ngga penting. Yang lebih penting adalah dia mau belajar.”

Selain tidak memperhatikan pengalaman bisnis atau pengalaman kerja, ada juga perusahaan modal ventura lain yang tidak memperhatikan latar belakang pendidikan konvensional. Sebuah langkah yang sangat berisiko, namun juga sangat berpotensi memberikan tingkat kembali sangat signifikan. Langkah riskan yang telah membuat guru Bahasa Inggris, penjaga warung internet, dan profil ‘biasa’ lainnya menjadi tokoh panutan bisnis serta masuk golongan terkaya dunia.

“Indonesia itu belum ada apa-apanya,” – Andi Surja Budiman (Managing Partner Ideosource)

Bersama Andi S Boediman (Managing Partner Ideosource)

Bersama Andi S Boediman (Managing Partner Ideosource)

Bhinneka.com, perusahaan Indonesia yang bergerak dalam perdagangan daring barang-barang elektronik baru mendapatkan pendanaan 300 miliar rupiah dari perusahaan modal ventura lokal Ideosource, demikian menurut rilis pers yang beredar pada November 2015. Angka fantastis tersebut, beserta langkah-langkah yang diambil pasca pendanaan, sontak membuat Bhinneka.com dan Ideosource menjadi buah bibir dunia bisnis hanya dalam hitungan jam.

Meski telah menanamkan dana yang sangat besar, Andi Surja Budiman (Managing Partner Ideosource) menyatakan, “Kalau kita melihat industri VC (Venture Capital) di Asia Tenggara, pusatnya ada di Singapura. Kalau melihat dalam skala lebih luas, misal Asia, pusatnya ada di Hong Kong.

Namun perkembangan dunia digital yang sangat cepat dari India dan China wajib menjadi perhatian. Sedangkan Indonesia itu belum ada apa-apanya. Dibandingkan India, Indonesia tertinggal sekitar tiga tahun dan dibandingkan China, Indonesia tertinggal sekitar lima tahun.”

Lantas, jika Indonesia memang tertinggal bertahun-tahun dibandingkan rekan sejawatnya di India, China, dan negara-negara lainnya, apa yang menyebabkan Ideosource tetap menanamkan modal hingga 300 miliar rupiah untuk perusahaan Indonesia? Andi menjawab, “Ecommerce di Indonesia dalam pandangan saya berpotensi kuat menjadi industri bernilai miliaran dolar.”

Lalu Andi melanjutkan, “Selain itu, saya melihat Bhinneka.com memiliki potensi kuat sebagai pemenang. Dia bisa dikatakan adalah satu-satunya perusahaan ecommerce yang bisa tumbuh dan berkembang hingga tahap sekarang secara sendirian, tanpa bantuan pendanaan dari mana pun,”

“Usia 22 tahun sejak berdiri dan usia 19 tahun saat mulai nyemplung ke ecommerce serta arus uang positif membuktikan model bisnis yang sangat teruji. Itu sebabnya kami ngegerojokin mayoritas dana dan sumber daya yang kami miliki untuk Bhinneka.com”

Sebagaimana layaknya tindakan investasi, tentu saja Ideosource tidak meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang. Ideosource juga meletakkan dananya di perusahaan-perusahaan lainnya. Dalam penyeleksian perusahaan-perusahaan, Andi menyatakan bahwa Ideosource melakukan dua metode, yaitu bottom-up dan top-down.

Dalam metode bottom-up, Ideosource setiap tahunnya menemui sekitar 300 hingga 500 perusahaan pemula. Dari angka tersebut, Ideosource akan mengambil hanya lima hingga dua belas perusahaan yang benar-benar memenuhi kriteria untuk diberikan pendanaan.

Sedangkan dalam metode top-down, Ideosource adalah pihak yang melakukan pencarian perusahaan yang dikategorikan pemenang, mengetuk pintunya, dan menawarkan pendanaan. Melalui metode top-down inilah, Ideosource memilih Bhinneka untuk menanamkan mayoritas sumber daya yang dimiliki.

Bagi Andi, ada empat industri yang menjadi perhatiannya dan dianggap memiliki potensi kuat menjadi billion dollar industry. Keempat industri tersebut adalah media daring, perdagangan daring, jasa transaksi pembayaran, dan travel. Dari keempat industri tersebut, sebenarnya masih ada satu industri lagi yang memiki potensi sangat kuat, yaitu transportasi.

Andi mengakui, “Untuk yang satu ini, saya akui sempat terlewat. Nama-nama seperti Gojek (Baca: Gojek, Berapa Lama Usiamu?) adalah bukti besarnya potensi industri transportasi menjadi billion dollar industry. Sebagai pelengkap, kita tidak boleh dan tidak mungkin melepaskan dunia offline. Online dan offline harus sinergi. Gojek menunjukkan sinergi O2O (Online to Offline) yang sangat baik.

“Ini mengenai marathon, bukan sprint.” – Steven Vanada (Vice President CyberAgent Ventures)

Indonesia kini memang sudah memasuki tahap pertumbuhan ekonomi yang sangat menarik di mata pelaku ekonomi dunia. Meski tren perlambatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) (Baca: Mencari Secercah Cahaya Kala Kondisi Ekonomi Indonesia Melemah) sudah terjadi sejak kuartal I 2011, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan minat para pemodal.

Bahkan sejatinya, pertumbuhan ekonomi digital bertolak belakang secara signifikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Buktinya antara lain tren transaksi daring yang terus meningkat dan pertumbuhan perusahaan-perusahaan pemula yang mencapai lebih dari 100 persen dalam setahun.

Bersama Steven Vanada (Vice President CyberAgent Ventures)

Bersama Steven Vanada (Vice President CyberAgent Ventures)

CyberAgent Ventures, Inc. yang mengelola dana-dana mayoritas dari Jepang, adalah salah satu dari para pemodal ventura asing yang mulai berduyun-duyun memasuki Indonesia untuk turut mereguk manisnya ekonomi digital.

Steven Vanada (Vice President CyberAgent Ventures) menyampaikan, “CyberAgent mulai masuk ke Indonesia pada 2011. Kami melihat potensi yang sangat baik di Indonesia, antara lain dari tingkat penetrasi VC yang masih rendah, padahal tingkat pertumbuhan perusahaan pemula dan ekonomi digital itu tinggi.”

“Berdasar hal-hal yang saya sampaikan sebelumnya, kami memandang bahwa sangat rasional untuk berinvestasi di Indonesia. Banyak wirausahawan datang ke Indonesia untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi Indonesia,” lanjut Steven.

Saat pertama kali memasuki Indonesia, Steven mengakui bahwa CyberAgent berfokus pada pendanaan Seri A. Steven berkata, “Pada awalnya kami masuk ke Indonesia, kami fokus kepada pendanaan Seri A. Alasannya adalah tingkat kemajuan perusahaan pemula sudah terlihat pada tahap ini. KPI sudah jelas dan tentunya, langkah ini meminimalisir risiko. Kini, CyberAgent sudah mulai meluaskan pendanaan mulai dari Seed Funding hingga Seri B.”

Senada dengan para pemodal ventura lainnya, Steven sangat melihat sosok pendiri perusahaan pemula saat melakukan seleksi. “Para pendiri perusahaan memiliki pengaruh 50 hingga 70 persen dalam pengambilan keputusan.

Kami akan menanyakan tiga hal saat menyeleksi mereka. Pertama, kenapa mereka mau memulai bisnis ini? Kedua, apa yang selanjutnya mau mereka lakukan? Ketiga, Seberapa tinggi komitmen mereka? Apakah mereka hanya mengejar uang?”

Selain sosok pendiri, Steven berujar bahwa CyberAgent juga melihat model bisnis, khususnya saat melakukan seed funding. Steven berujar, “Kami mengategorikan model bisnis menjadi dua, yaitu model yang sudah terbukti (sudah pernah dilakukan di negara lain dan terbukti berhasil) dan otentik (baru pertama kali dilakukan).”

Saat beropini mengenai tujuan besar yang ingin diraih CyberAgent, Steven menyampaikan bahwa dalam jangka pendek, perlu memikirkan cara mengembangkan basis pengguna dan meningkatkan retensi pelanggan.

Paling tidak dalam dua hingga lima tahun ke depan, mengingat Indonesia masih dalam tahap awal pertumbuhan ekonomi digital, adalah hal penting untuk mengembangkan ekosistem bisnis digital di Indonesia. Karena dengan ekosistem yang semakin baik, bisnis juga semakin berkembang.

“Saya lebih percaya kepada permainan dalam jangka panjang. Ini mengenai marathon, bukan sprint, “ pungkas Steven.

Jakarta, 24 November 2015

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Desember 2015

 

Iklan

2 thoughts on “Simbiosis Venture Capital dan Startups

  1. Ping-balik: Simbiosis Venture Capital dan Startups | Hananto Yoghy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s