Strategi Venture Capital: Moneyball

Bergantung kepada insting saat mendanai start-ups tidak lagi mencukupi. Seberapa jauh pendekatan bergaya bola uang mengambil alih?

Moneyball

Moneyball

Moneyball – Bola uang dalam dunia olahraga baseball memiliki pengertian saat sebuah tim berusaha memperkirakan nilai pasar dari seorang pemain baseball, kemudian melakukan pembelian dengan nilai di bawah pasar, dan melakukan penjualan di atas nilai pasar.

Saat definisi olahraga tersebut dibawa ke dunia bisnis, konsep bola uang memiliki pandangan bahwa talenta ekonomi mana pun, misalnya start-ups tempat sebuah perusahaan modal ventura akan melakukan investasi, selalu memungkinkan mengalami valuasi di bawah nilai pasar dan kemudian dijual dengan harga di atas nilai pasar.

Harap menjadi catatan bahwa penjelasan konsep bola uang di atas adalah penjelasan yang sudah sangat dibuat simpel. Bagaimana penjelasan strategi bola uang dihubungkan dengan industri modal ventura?

Pertama-tama kita harus memahami dulu bahwa menentukan nilai pasar sebuah start-up, apalagi yang masih dalam tahap awal adalah hal yang sangat sulit. Terlalu banyak variabel yang harus dihitung dan terlalu sedikit data-data yang tersedia untuk memungkinkan pengambilan sinyal positif dari dunia bisnis yang sangat gaduh.

Maka, tidak heran jika siapa pun yang sudah memakan asam garam dunia industri modal ventura akan mengatakan bahwa mendapatkan “hits” adalah yang sangat mereka dambakan. Dalam dunia modal ventura, sebuah hit adalah sebuah start-up yang memberikan tingkat pengembalian yang sangat besar dan berlipat ganda saat dibandingkan dengan besaran investasi awal.

Perbandingan rasio para hits seperti Facebook, Apple, dan LinkedIn dibandingkan dengan non-hits sekitar satu di antara sepuluh. Keberadaan satu hit sudah mampu menutupi kerugian investasi di sembilan start-ups non-hits dan bahkan mampu memberikan keuntungan yang besar.

Karenanya, dibutuhkan kombinasi antara keberuntungan dan intuisi untuk menemukan talenta, nyali, serta persistensi dalam diri seorang hippie berambut gondrong berminyak jarang mandi seperti Steve Jobs atau seseorang yang dikeluarkan dari kampus seperti Mark Zuckerberg.

Perusahaan Modal Ventura adalah Permainan Angka

Sayangnya rasio 1:10 sama sekali tidak dapat dikesampingkan. Dengan nilai investasi modal ventura sebesar $48 milyar pada 2014 (National Venture Capital Association, Januari 2015), kehilangan modal sebesar $43.2 milyar jelas hal gila. Langkah perbaikan harus segera diambil untuk mencegah tenggelamnya dana tersebut bersama start-ups yang memiliki kesempatan minim untuk berkompetisi dalam lingkungan bisnis yang sangat keras.

Untunglah zaman semakin maju dan kekuatan data terkini sudah mampu memprediksi hasil pemilu, tren produk masa depan, hingga produk yang akan dibeli seorang konsumen. Lantas, kenapa tidak mencoba kekuatan algoritma untuk memprediksi sukses tidaknya sebuah start-ups?

Dalam kenyataannya, sudah banyak perusahaan modal ventura (Venture Capital firms) yang menggunakan alat analisis untuk menarik data-data relevan, antara lain performa berbagai aplikasi mobile atau warna pembicaraan sebuah situs perdagangan daring di berbagai media sosial.

Bahkan di Lembah Silikon, Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan modal ventura telah selangkah lebih maju dengan membuat seluruh tesis investasi berbasis data. Di sinilah strategi bola uang mulai bermain.

Terkait dengan penggunaan data secara total dalam perencanaan investasi, Matt Oguz (Managing Partner Palo Alto Venture Science) berpendapat, “Algoritma akan menjadi hati dan jiwa karena ketelitiannya – hal ini bukan sekedar mekanisme pengecekan rutin. Inilah cara satu-satunya untuk memotong perilaku bias manusia.”

Melalui penerapan algoritma dapat diketahui mana saja start-ups yang diperkirakan akan tertinggal di belakang, bahkan sebelum produknya diterjunkan ke pasar. Di atas semua itu yang terpenting tentunya melihat hits sebelum para kompetitor melihatnya dan bahkan saat si start-up belum mengetahuinya!

Untuk mengetahui apakah sebuah start-up memiliki genetik sukses atau tidak tergantung pada banyak faktor internal dan faktor eksternal. Khusus faktor eksternal, contohnya adalah kesiapan pasar, konsumen, kompetitor, tren teknologi, dan waktu. Model algoritma yang dijalankan untuk mengetahui start-up tersebut juga harus dinamis mengikuti perkembangan zaman yang semakin cepat.

Memetakan DNA Start-Up

The Startup Genome Project: Decoding Silicon Valley's DNA; pic source: fastcompany.com

The Startup Genome Project: Decoding Silicon Valley’s DNA; pic source: fastcompany.com

Mungkinkah teknologi diberdayakan untuk meminimalisir kemungkinan kegagalan start-ups?  Peresmian proyek riset bertajuk “Genom Startup – Startup Genome” bertujuan menjawab pertanyaan tersebut. Meski masih dalam tahap beta, proyek Genom Startup bertujuan memetakan “kode genetik lengkap” start-ups dan di tengah perdebatan di Lembah Silikon, proyek ini sudah menerima lebih dari 35.000 pendaftaran.

Meraih kepopuleran di kalangan start-ups dan perusahaan modal ventura, proyek Genom Startup menjadi alat yang mengumpulkan data dan informasi publik dari para start-ups. Alat ini menggunakan mesin pembelajaran dan pengolah bahasa alamiah untuk membuat rujukan indikator-indikator kunci performa start-ups dibandingkan dengan perusahaan sejenis.

Genom Startup juga menjalankan lebih dari 50 tes bendera merah (red flag) untuk melakukan kalkulasi nilai pendanaan dan profil risiko sebuah perusahaan.

Laporan 50 halaman Genom Startup dikerjakan oleh para anggota fakultas di Universitas Stanford dan Berkeley. Temuan-temuan kunci dari analisa terhadap 16.000 start-ups antara lain:

Faktor-faktor yang mampu mengatasi rintangan bisnis:

  • Pivot: Wirausahawan teknologi menggunakan istilah ini saat menjelaskan praktik mencoba ide-ide baru, segera menyingkirkan ide-ide lama jika tidak bekerja, dan bergerak ke hal baru berikut. Para pendiri yang telah melakukan satu kali pivot akan mendapatkan dana 2.5 kali lebih besar, mendapatkan pertumbuhan pengguna 3.6 kali lebih baik, dan kemungkinan lebih kecil 52% melakukan ekspansi yang prematur.
  • Ukuran tim: Pendiri perusahaan yang melakukan segalanya serba sendiri memerlukan waktu 3.6 kali lebih lama untuk meraih skala aman minimal dibandingkan dengan pendiri perusahaan yang terdiri dari dua orang atau lebih.
  • Tim energik: Tim seimbang yang terdiri dari seorang pendiri dengan latar belakang teknik dan seorang pendiri dengan latar belakang bisnis mampu mendapatkan pendanaan 30% lebih besar, memiliki pertumbuhan pengguna 2.9 kali lebih besar, dan memiliki kemungkinan 19% lebih kecil melakukan ekspansi prematur daripada tim yang terdiri dari para pendiri dengan latar belakang teknik saja atau bisnis saja.

Faktor-faktor yang tidak memberikan pengaruh signifikan:

  • Mentor: Investor yang memberikan bantuan langsung terhadap kegiatan operasional start-ups memiliki dampak kecil atau nol terhadap performa.
  • Pertumbuhan super cepat: Alasan yang paling memungkinkan menjadi penyebab kegagalan start-ups adalah ekspansi terlalu cepat. Jangan berinvestasi pada start-ups yang melaju melebihi kemampuan mereka!
  • Pengalaman pendiri: Pendiri yang sukses dikendalikan oleh dampak, bukan pengalaman atau uang.

Catatan terakhir, biarkan komputer melakukan pekerjaan membangun pondasi analisa dan evaluasi seiring waktu berjalan. Saat permainan menjadi lebih kompleks daripada permainan catur, saatnya manusia mengambil alih dan menarik indikator positif dengan menyusun puzzle menjadi satu gambar utuh.

Jakarta, 25 Agustus 2015

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi September 2015

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s