Berkarya dalam Keterbatasan

Masih mau mengeluh sulit mencari dan mendapatkan rejeki? Jika ya, kita patut malu kepada orang-orang seperti Pak Mashudin.

Siang ini sepulangnya dari pertemuan rutin dengan mentor saya, Bapak Nabiel Makarim, saya melihat sosok yang familiar di Kebagusan Dalam. Sosok tersebut terlihat dari belakang sedang berjalan dengan menggunakan tongkat sambil memanggul barang dagangannya berupa kumpulan kerupuk Bangka dengan berbagai ukuran.

Ya, saya teringat jika pernah membeli barang dagangannya di jalan yang sama pada petang hari menjelang Maghrib tahun lalu. Seperti sebelumnya, saya kembali menepikan kendaraan untuk membeli beberapa bungkus kerupuk. Sebenarnya saya bukan pecinta kerupuk. Namun untuk kali ini, saya membeli kerupuk tanpa berpikir panjang karena keistimewaan yang saya lihat pada sosok sang penjual kerupuk. Keistimewaan tersebut bernama etos kerja.

Langkah dalam Batasan

Bapak Mashudin

Bapak Mashudin

Saya bisa melihat dengan jelas katarak pada kedua matanya. Sudah bisa dipastikan jika katarak pada kedua bola matanya menjadi penghalang baginya untuk bekerja secara normal. Adalah hal pasti jika katarak menjadi sebuah keterbatasan yang menyulitkan pengidapnya memperoleh rejeki.

Maka, saya pun memutuskan membeli kerupuk sebanyak empat bungkus senilai Rp 50.000,00. Sembari melakukan transaksi, saya menanyakan namanya dan beliau menjawab, “Nama saya Mashudin.”

Sungguh saya sangat salut melihat sosok Pak Mashudin. Meski beliau memiliki keterbatasan berupa katarak pada kedua matanya dan mengharuskannya melangkah dengan bantuan tongkat, Pak Mashudin memilih menjemput dan mencari rejeki bukan dengan mengemis. Pak Mashudin memilih berjualan kerupuk.

Dalam opini saya, beliau adalah sosok yang patut menjadi rujukan etos kerja positif. Jika selama ini berbagai media bisnis, ekonomi, dan media nasional lebih banyak menyorot para pengusaha dalam konteks etos kerja positif, Pak Mashudin juga sangat pantas turut menjadi sorotan sebagai perwakilan golongan yang jarang terkena publikasi media massa.

Pak Mashudin pantas menjadi bukti bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia, tetap mampu berkarya dan memberikan produktivitas kerja yang baik dalam keterbatasan fisik. Seperti kita ketahui bersama, khususnya bagi yang rajin mengulik dan melakukan analisis data, etos kerja dan produktivitas bangsa Indonesia tidak termasuk kategori baik dalam skala internasional.

Berdasarkan data, etos kerja kita ada di bawah negara-negara seperti China, Thailand, bahkan Viet Nam. Viet Nam adalah contoh negara yang tenaga kerjanya mampu memberikan hasil 2 – 3x lipat dengan bayaran lebih rendah dibandingkan dengan tenaga kerja asal Indonesia.

Jika kita berdiam diri, atau protes, serta berkeluh kesah, jelas bangsa kita akan semakin tertinggal dalam persaingan global yang semakin ketat. Bonus demografi yang sudah berjalan bukannya menjadi anugerah, justru menjadi petaka.

Menciptakan Etos Kerja Indonesia

Bapak Mashudin sedang menata kerupuk dagangannya.

Bapak Mashudin sedang menata kerupuk dagangannya.

Mari kita perhatikan diri kita masing-masing. Saya yakin bahwa mayoritas dari kita memiliki fisik yang lengkap dan tidak memiliki batasan seperti katarak pada kedua mata seperti Pak Mashudin. Saya juga yakin bahwa mayoritas dari kita memiliki kelebihan-kelebihan baik dalam hal pendidikan, kenyamanan hidup, hingga fasilitas-fasilitas yang bisa kita nikmati.

Atas semua kelebihan yang sudah kita miliki, mari kita syukuri. Mari kelola segala kelebihan yang kita miliki, baik internal dan eksternal dengan untuk membentuk etos kerja optimal. Mari kita ciptakan semangat kerja, baik dalam hal intelektual, fisik, materi, dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan dunia dan akhirat, untuk mencapai cita-cita yang positif.

Mari kita menciptakan Etos Kerja Indonesia yang positif, yang menjadi ciri khas bangsa kita dan menimbulkan respek dari dunia internasional. Mari kita mulai dari pribadi dan mari mencontoh sosok-sosok yang positif, antara lain Pak Mashudin sang penjual kerupuk.

Jakarta, 6 September 2015

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s