Tanah Tumpah Darahku… Di Sanalah Aku Berdiri… Kok Ngga di Sini?

Salah satu penggalan lirik dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah, “…Tanah Tumpah Darahku… Di Sanalah Aku Berdiri…” Kenapa di sana? Kok ngga di sini?

Minggu pagi, 16 Agustus 2015, saya terlibat obrolan menarik dengan mentor saya, Pak Nabiel Makarim dalam perjalanan menuju salah satu mal di Jakarta Selatan untuk sebuah pertemuan. Pak Nabiel menceritakan salah satu pertanyaan yang pernah diterimanya dan sempat membuat dirinya berpikir cukup lama untuk menemukan jawabannya.

Pertanyaan yang diajukan kepada Pak Nabiel adalah:

Bait pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya berbunyi:

Indonesia tanah airku.

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu Ibuku.

Nah, ada penggalan lirik yang berbunyi, “Di sanalah aku berdiri,” dan hal ini menimbulkan keheranan. Kenapa kok “di sana”, bukan “di sini”. Kan jelas awalnya adalah, “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku,” berarti lanjutan yang pas adalah, “di sinilah aku berdiri,” bukan, “di sana.”

Emang pas menyusun lirik dan mengarang lagu Indonesia Raya, Pak Wage Rudolf Soepratman sedang ada di luar Indonesia? Sedang tidak menginjak tanah air Indonesia?

Supaya jawabannya ngga terlalu asal njeplak, liat teks doang, dan otak-atik nyambung… Mari kita usahakan dahulu melihat sejarah dan latar belakang pembuatan lagu kebangsaan Indonesia Raya berbasis penelusuran internet. Kebetulan inilah cara termudah dan tercepat yang bisa dilakukan saya untuk saat ini. Hehhehe…

Sejarah Singkat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman

Wage Rudolf Soepratman

Berdasarkan informasi di kebudayaan.kemdikbud.go.id, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman. Kisah terciptanya lagu tersebut dimulai dengan momentum kepindahan W.R. Soepratman ke Bandung pada 1924, lalu ke Batavia pada 1925 sebagai wartawan Sin-Po. Salah satu tugasnya sebagai wartawan adalah meliput aktivitas pergerakan nasional.

Pada masa tersebut, tanpa sengaja W.R. Soepratman membaca majalah Timbul yang terbit di Surakarta dan di dalamnya terdapat tulisan “Manakah komponis Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, yang bisa membangkitkan semangat rakyat?” W.R. Soepratman kemudian merasa tertantang akibat tulisan tersebut dan sejarah pun tercipta. W.R. Soepratman menciptakan lagu Indonesia Raya.

Setelah lagu tersebut tercipta, W.R. Soepratman mencari saat yang tepat untuk memperkenalkan lagu kebangsaan ciptaannya. Tanggal 27 – 28 Oktober 1928, saat Kongres Pemuda II berlangsung di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, adalah saat yang sangat tepat.

Pada malam harinya menjelang penutupan di gedung Indonesische Clubhuis, pemuda W.R. Soepratman menyebarkan lirik konsep lagu ciptaannya kepada para hadirin. Pada pukul 23:00 W.R. Soepratman mulai memperdengarkan lagu ciptaannya berjudul “Indonesia” melalui gesekan biola. Seluruh peserta kongres yang hadir menyambut lagu tersebut dengan mata berkaca-kaca serta memberikan ucapan selamat kepada W.R. Soepratman.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Diciptakan Bukan di Indonesia

Dari catatan sejarah singkat tersebut, dapat diperhatikan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya diciptakan oleh W.R. Soepratman di negeri Hindia Belanda sekitar tahun 1924 – 1925. Dua puluh tahun sebelum negara Indonesia lahir melalui pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno.

Perhatikan bahwa lirik “Di sanalah aku berdiri,” dari lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah sebuah impian terwujudnya negara yang bernama Indonesia Raya, merdeka dari cengkeraman kolonialisme. Negara tersebut memang belum ada pada 1925. Namun W.R. Soepratman menuliskan impian terwujudnya Indonesia dan mimpi tersebut hidup dalam hati setiap pemuda Indonesia yang mengetahui dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Di sanalah aku berdiri” menunjukkan kata ganti waktu di masa depan, bukan tempat. Mimpi tersebut akhirnya benar-benar terwujud dan sayangnya, W.R. Soepratman tidak dapat mendengarkan terwujudnya impian negara Indonesia dalam lagu kebangsaan. W.R. Soepratman meninggal pada 17 Agustus 1938 di Surabaya karena penyakit yang ia derita.

Emas Silat Doble Putri Pesilat Indonesia Ni Made Dwi Yanti (kanan) dan Sang Ayu Ketut Wilantri (kiri) menangis saat menyanyikan Lagu Indonesia Raya; sumber: Antaranewscom

Emas Silat Ganda Putri Pesilat Indonesia Ni Made Dwi Yanti (kanan) dan Sang Ayu Ketut Wilantri (kiri) menangis saat menyanyikan Lagu Indonesia Raya; sumber: Antaranewscom

Demikian kira-kira jawaban yang akhirnya diberikan Pak Nabiel kepada si penanya. Saya kemudian memutuskan menjadikannya tulisan dan memasukkannya ke dalam blog sebagai salah satu cara merayakan hari ulang tahun negara tercinta, Indonesia yang ke 70. Semoga menjadi informasi yang berharga bagi para pembaca.

Jakarta, 17 Agustus 2015

Andika Priyandana

Iklan

One thought on “Tanah Tumpah Darahku… Di Sanalah Aku Berdiri… Kok Ngga di Sini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s