E-Commerce vs Brick-and-Mortar: Riil Terjadi atau Cuma Cerita?

Semakin menjamurnya situs-situs ritel daring memunculkan isu bahwa perdagangan elektronik (E-Commerce) mulai menjadi predator bagi ritel fisik (Brick-and-Mortar). Benarkah demikian?

Belanja online - sumber gambar: commerguruscom

Belanja online – sumber gambar: commerguruscom

Transaksi  belanja daring nasional terasa gegap gempita khususnya saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) tanggal 12 Desember lalu. “Penjualan Melebihi Ekspektasi”, “Tingkat Penjualan 3 Kali Melebihi Target”, “Situs Jebol Karena Tidak Mampu Menahan Ledakan Pengunjung” dan berbagai berita dengan judul bombastis lainnya mengisahkan transaksi perdagangan elektronik yang seakan sangat dominan. Dominasi ini terasa semakin kuat saat menilik lebih kecilnya kuantitas berita lokal yang mengisahkan ritel fisik dibandingkan dengan ritel daring.

Tingginya euforia tersebut sedikit banyak sukses membuat banyak pemain ritel fisik seperti terjebak dalam hiperbola. Langkah-langkah antisipasi menyambut era perdagangan daring membuat banyak pemain ritel fisik meluncur masuk ke dalam dunia ritel daring dengan dotcoid dan dotcom. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah tingginya persentase pemberitaan mengenai ritel daring dibandingkan dengan ritel fisik sebanding dengan besarnya persentase kontribusi ritel daring dibandingkan dengan ritel fisik? Apakah ritel daring telah memangsa ritel fisik?

Bagi kita yang sudah mencicipi dunia ritel daring, merasakan pergumulan transaksi perdagangan elektronik dengan para konsumen internet di Indonesia, sudah dapat dipastikan bahwa jawabannya tidak. Porsi transaksi elektronik yang baru mencapai 0.1 (nol titik satu) persen dari total penjualan ritel Indonesia (UBS, 2014) secara jelas menunjukkan betapa masih kecilnya dampak e-commerce dan besaran kekuatan dominasi ritel fisik di Indonesia.

Indonesia Ecommerce Size Estimate - source: UBS

Indonesia Ecommerce Size Estimate – source: UBS

Baiklah, mungkin ada di antara kita yang mencoba mengecilkan angka tersebut dengan menyatakan bahwa ada data atau pendapat ahli yang menyatakan transaksi perdagangan elektronik akan “melindas” ritel fisik dalam jangka waktu yang tidak lama. Katanya, dalam jangka waktu 3 – 5 tahun e-commerce akan mulai menggeser ritel fisik. Benarkah demikian adanya? Mari kita coba telaah, analisis, dan telusuri jawabannya secara ringkas.

Pertumbuhan dan Potensi Perdagangan Elektronik di Indonesia

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki penetrasi pengguna internet yang relatif rendah, di bawah 30% atau sekitar 75 juta penduduk per 2013. Kemudian, jumlah pengguna internet Indonesia diprediksi akan menyentuh angka hingga 100 juta per 2016, dengan angka penetrasi belanja daring yang diharapkan turut meningkat (Ystats.com, 2014).

Paparan di atas menunjukkan keyakinan bahwa teknologi digital diharapkan mampu mentransformasi perilaku belanja konsumen dalam dunia ritel. Sejatinya, piranti digital seperti halnya telepon pintar, sabak, dan alat-alat lainnya telah mengubah cara-cara konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Saat konsumen mencari informasi, mengevaluasi pilihan-pilihan yang ada, membeli, menerima, menggunakan, mengembalikan produk, hingga berinteraksi sudah dapat dilakukan total secara daring.

Dalam mengakses internet, lebih dari setengah pengguna internet di Indonesia mengaksesnya melalui piranti telepon selular, dan sekitar 25% dari populasi orang dewasa di Indonesia memiliki telepon pintar. Jika menilik budaya berbicara dan bersosialisasi yang sangat kental di Indonesia secara tradisional, hal tersebut juga terlihat secara daring dengan jumlah pengguna jejaring sosial yang mencapai angka 66 juta penduduk per 2013 (UBS, 2014).

Selain jejaring sosial, aplikasi pesan instan pun memiliki popularitas yang tinggi di Indonesia dan hal ini sudah dilirik dengan sangat baik oleh Jepang dan Korea Selatan yang memasukkan pilihan E-Commerce ke dalam fungsi pesan instan ciptaan mereka.

Kesan legit yang ditunjukkan potensi pasar perdagangan elektronik di Indonesia pun membuat lanskap kompetisi di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari forum C2C (Customer-to-Customer), C2C online marketplaces, peritel E-Commerce B2C, hingga pedagang kelas jejaring sosial. Dari varian yang ada, terdapat merek-merek yang telah akrab di telinga rakyat Indonesia, antara lain Kaskus, Bukalapak, Tokobagus (OLX), Berniaga, Tokopedia, Blibli, Bhinneka, Lazada, Livingsocial, Evoucher, dan masih banyak lagi.

Top 10 Most Visited Shopping Websites in Indonesia - source UBS

Top 10 Most Visited Shopping Websites in Indonesia – source UBS

Saat kita berbicara mengenai tren belanja daring, berdasarkan data Nielsen hingga 2012, apparel menjadi kategori produk yang paling sering dibeli oleh konsumen pria dan wanita. Angka penjualan apparel melebihi angka-angka penjualan daring dari produk-produk travel, piranti lunak komputer, piranti keras komputer, hiburan, buku, musik, dan produk lainnya secara signifikan.

Highly Increasing Ecommerce Trend in Indonesia - source Nielsen

Highly Increasing Ecommerce Trend in Indonesia – source Nielsen

Penipuan dalam Perdagangan Elektronik di Indonesia

Meningkatnya euforia perdagangan elektronik di Indonesia ternyata memunculkan ekses negatif dalam bentuk kejahatan siber – cybercrime, yaitu kejahatan yang dilakukan dengan ranah internet atau dunia maya. Masih lekat dalam ingatan kita mengenai banyaknya penjualan-penjualan telepon pintar dengan embel-embel “eks-Batam” atau “Toko Batam” yang ternyata tidak lebih dari praktik penipuan daring yang masuk dalam kategori kejahatan siber. Adanya kasus tersebut tentu saja menimbulkan keraguan dan sikap pesimis terhadap keamanan transaksi perdagangan daring di Indonesia hingga kini.

Selain penipuan dalam bentuk menjual barang bodong, bentuk-bentuk kejahatan siber yang sudah terjadi di Indonesia antara lain penyebaran virus, hijacking, carding, spyware, data forgery, hacking, phishing (mencuri data personal melalui situs palsu), dan cracking.

Sehubungan dengan kejahatan siber, sebenarnya Indonesia sudah memiliki perangkat hukum untuk mengatasinya, antara lain untuk kasus penipuan dalam transaksi daring. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, dinyatakan bahwa pelaku perdagangan elektronik dapat dipidana 12 tahun penjara dan/atau denda Rp 12 milyar bila terbukti melakukan penipuan. Termasuk di dalamnya pelaku usaha elektronik yang wajib mencantumkan data dan informasi secara lengkap yang jika tidak dilakukan, akan dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha.

Hal-Hal Penting Sehubungan dengan E-Commerce dan Brick-and-Mortar

Terlepas dari semua berita mengenai maraknya perdagangan elektronik maupun pemaparan angka-angka yang berkaitan pada tulisan sebelumnya, data sudah menunjukkan bahwa saat ini ecommerce sama sekali bukan ancaman bagi brick-and-mortar. Angka 0.1% dari total penjualan ritel fisik 2013 yang sebesar ± US$ 100.2 milyar (UBS, 2014). Lebih lanjut lagi, tahukah kita bahwa sekitar setengah atau bahkan lebih dari penjualan perdagangan elektronik sebenarnya berujung pada ritel-ritel dengan toko fisik?

Selain itu, hati-hatilah dalam membedakan transaksi perdagangan elektronik yang dilakukan secara murni melalui internet dengan transaksi tradisional. Coba kita bayangkan saat ada seorang konsumen pergi ke sebuah toko elektronik X dan lalu mengetahui bahwa produk yang dicarinya sedang habis. Karenanya, dia menggunakan telepon pintar yang dimilikinya untuk memesan produk dari toko elektronik X yang lain, yang kemudian mengantarkan produk pesanannya pada hari yang sama. Apakah transaksi tersebut transaksi elektronik atau transaksi fisik?

Patut dicatat, pemain ritel daring murni sebenarnya tidak memiliki keunggulan ekonomi signifikan saat dibandingkan dengan pemain ritel fisik. Jika kita pernah melihat data profitabilitas yang dirilis Amazon dan pemain ritel daring lainnya secara resmi, kita akan mengetahui bahwa rerata pemain ritel daring memiliki profit yang tipis.

Saat analisis tersebut dibawa ke Indonesia, perhitungkan pula faktor teknologi informasi, jaringan distribusi, pergudangan, pengantaran barang, dan pengembalian barang (jika ada) yang diperlukan saat menjalankan perusahaan yang berbasis pada perdagangan daring. Total biayanya dapat dikatakan sebanding dengan menjalankan bisnis ritel fisik.

Multikanal Internet dan Tradisional

Semua isu dan opini yang beredar mengenai E-commerce vs Brick-and-Mortar di Indonesia sebenarnya berujung kepada satu kesimpulan yang sudah disampaikan sejak awal bahwa perdagangan elektronik masih terlalu jauh untuk dapat dikatakan menandingi atau melibas ritel fisik, termasuk dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Jadi, daripada memunculkan isu “predator”, “versus”, “melibas”, atau sejenisnya, jauh lebih baik jika kita membicarakan isu pemain ritel multikanal, pemain ritel yang mengintegrasikan dengan mulus antara dunia perdagangan fisik dan dunia perdagangan digital untuk memenuhi ekspektasi konsumen yang bervariasi.

Hal ini dirasa jauh lebih mengena mengingat konsumen Indonesia yang secara budaya masih sangat menyukai interaksi dalam bentuk tatap muka, berbicara secara langsung, dan berbagai bentuk komunikasi komunal lainnya yang dilakukan secara riil, bukan melalui internet.

Bagi para peritel yang menggunakan strategi multikanal, internet bukan sekedar alat untuk menciptakan transaksi. Namun internet adalah halaman depan toko tersebut, yang secara digital memberikan informasi awal mengenai produk, merek, harga, manfaat, ketentuan pembayaran, hingga lokasi toko-toko fisik terdekat yang dapat ditempuh. Lalu, setelah konsumen Indonesia memuaskan dahaga informasi awal melalui internet, mereka akan memuaskan dahaga berkomunikasi dan berinteraksi secara fisik dengan mengunjungi toko secara langsung.

Jakarta, 23 Desember 2014

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s