Investor di Indonesia: Sedikit-Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

Proporsi masyarakat melek finansial di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk. Ini peluang atau tantangan?

Melek finansial - sumber foto: 123rf.com

Melek finansial – sumber foto: 123rf.com

Investasi secara umum dapat diartikan sebagai penanaman dana dalam jumlah tertentu pada masa sekarang dengan tujuan mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan. Investasi harus dibedakan dengan tabungan karena menabung kurang memiliki tujuan jelas dan detil serta strategi yang belum cukup kokoh untuk pencapaian tujuan tersebut.

Keberadaan investasi dalam sebuah negara menjadi salah satu faktor pemicu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, perlu tersedia modal untuk pembiayaan. Investasi adalah salah satu sumber dana untuk modal pembiayaan perekonomian tersebut. Karena jika kita ingin mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, berarti kita memerlukan angka pertumbuhan investasi yang sama-sama tinggi dan berkelanjutan.

Dengan berinvestasi, berarti kita sudah memilih instrumen yang memiliki kelebihan dalam hal tingkat keuntungan yang lebih tinggi (antara lain dibandingkan dengan bunga bank secara umum). Instrumen investasi pun terdiri dari berbagai macam bentuk yang dapat kita pilih agar sesuai dengan karakter kita. Bentuk investasi dapat dibedakan secara umum dalam bentuk investasi riil dan investasi finansial.

Investasi riil dapat kita temui dalam perekonomian konvensional. Bentuk investasi riil tersebut antara lain tanah, bangunan, perhiasan, dan benda-benda fisik lainnya. Sedangkan investasi finansial merupakan representasi perekonomian modern yang di dalamnya terdapat perjanjian-perjanjian hitam di atas putih. Contoh investasi finansial adalah perdagangan obligasi dan saham yang merupakan bagian dari pasar modal.

Gambaran perkembangan investasi pribadi di Indonesia

Setelah kita mengetahui mengenai berbagai macam kelebihan investasi, bagaimana perkembangan investasi di Indonesia, khususnya investasi yang dilakukan oleh individu (pribadi)? Secara angka dan kenyataan di lapangan dapat dikatakan investor di Indonesia masih sangat jauh dari harapan.

Memang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah masuk di atas rata-rata dunia, antara lain tercapainya angka 6.2% pada tahun 2012. Namun keterlibatan investor-investor individual dalam angka perkembangan investasi di Indonesia masih sangat kecil.

Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2014, jumlah investor pasar modal dalam negeri masih belum sesuai harapan. Jika melihat jumlah penduduk yang sudah menembus angka 250 juta, baru sekitar 400 ribu alias 0.16% yang sudah melakukan investasi di pasar modal. Pertumbuhan y-o-y pun belum menunjukkan pertumbuhan signifikan dan terlihat melambat di tahun 2014.

Masih menurut OJK, masih sangat rendahnya persentase penduduk Indonesia yang memasuki pasar modal diakibatkan oleh masih terbatasnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai pasar modal. Berdasarkan hasil survei OJK, baru 4 persen penduduk yang sudah memahami pasar modal. Dari angka 4 persen tersebut, yang sudah memanfaatkan investasi pasar modal hanya 0.1 persen.

Singkatnya, jumlah penduduk Indonesia yang melek finansial masih sangat rendah dibandingkan dengan total jumlah penduduk.

Kendala-kendala lainnya seperti akses pasar modal yang masih terbatas dan masih banyaknya pertanyaan mengenai perlindungan konsumen dalam investasi pasar modal turut menyumbang rendahnya angka investor pasar modal.

Lalu saat berbicara spesifik mengenai produk reksa dana, jumlah investor produk reksa dana di Indonesia masih kalah secara sangat signifikan saat dibandingkan dengan pemilik reksa dana di Thailand dan Malaysia.

Per tahun 2013, jumlah investor di Indonesia baru di kisaran angka 161 ribu dan pelakunya masih berpusat di wilayah DKI Jakarta, sedangkan pemilik reksa dana di Thailand sudah mencapai 2.5 juta dan Malaysia mencapai 15 juta dengan populasi penduduk yang jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia (Fakhri Hilmi, Direktur Pengawasan Pengelolaan Investasi OJK).

Saat berbicara dari sudut pandang investasi riil, tren untuk berinvestasi di bidang properti terlihat meningkat yang dipicu pertumbuhan proporsi kelas menengah Indonesia yang sudah menembus angka 56% (Citi Indonesia, 2014).

Bahkan menurut Colliers International, Jakarta termasuk dalam jajaran kota dengan pasar investasi terpanas di dunia. Masih sehubungan dengan properti, terdapat temuan lama namun masih sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini.

Dalam penelitian mengenai kekayaan global yang dirilis Credit Suisse Research Institute yang dirilis pada tahun 2010, diketahui lebih dari 90 persen kekayaan rumah tangga orang Indonesia berupa aset non-finansial, terutama properti.

Sekarang, jika kita memiliki aset non-finansial, apakah kita secara otomatis dapat memasukkannya ke dalam kategori investasi? Jawabannya tidak. Berdasarkan masukan seorang bankir di salah satu lembaga keuangan internasional kepada penulis, tidak sedikit orang-orang Indonesia yang meletakkan properti yang ditinggali olehnya ke dalam kategori investasi.

Hal tersebut sebenarnya tidak tepat. Jika kita berdiam di dalam rumah yang harus kita bayar segala macam biayanya, mulai dari pajak tanah, pajak bangunan, listrik, air, hingga biaya pemeliharaan rumah, maka rumah tersebut masuk ke dalam kategori beban meski secara kasat mata kita melihat rumah tersebut menunjukkan pertambahan nilai yang konsisten dari tahun ke tahun.

Kunci untuk membedakan rumah yang masuk ke dalam kategori investasi dan rumah yang masuk ke dalam kategori beban adalah dengan kembali melihat definisi investasi yang sudah disampaikan di awal artikel, yaitu sebagai penanaman dana dalam jumlah tertentu pada masa sekarang dengan tujuan mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan.

Investasi harus memiliki tujuan jelas dan detil serta strategi yang cukup kokoh untuk pencapaian imbal hasil yang lebih besar di masa mendatang. Dari pengertian tersebut, tentunya kita sudah memiliki pengetahuan dasar untuk meletakkan rumah ke dalam kategori investasi atau kategori beban.

Kunci sukses investasi: melek keuangan dan disiplin

Investasi di Indonesia dapat dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Patut diingat bahwa investasi memajukan perekonomian dan motor utama perkembangan kemakmuran masyarakat dalam jangka panjang. Investasi memiliki peran yang sangat penting dan melebihi konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah maupun swasta.

Tanpa adanya investasi, pertumbuhan ekonomi jangka panjang mustahil tercapai. Investasi memberikan pengetahuan, pengalaman, dan teknologi yang berguna untuk pembangunan di dalam negeri.

Jika kita memang ingin meningkatkan kekuatan negara dan kemampuan serta pijakan kita dalam ekonomi dan kemakmuran, berarti kita harus berinvestasi. Kunci sukses investasi sebenarnya simpel, yaitu melek finansial dan disiplin.

OJK juga telah menyatakan bahwa kini berinvestasi sudah semakin terlindungi dan semakin mudah. Hanya dengan Rp 100 ribu per bulan, kita sudah dapat melakukan investasi. Saat kita melek keuangan, berarti kita memiliki pengetahuan finansial yang bisa menjamin keberlangsungan hidup kita di masa depan.

Dengan pemahaman instrumen-instrumen investasi berdasarkan tingkat bagi hasil dan tingkat keuntungan, kita dapat melakukan pengelolaan dana investasi secara mandiri. Jika kita masih merasa ragu-ragu, kita dapat memulai investasi dengan risiko yang relatif rendah, misalnya sukuk/obligasi, reksa dana, atau unit link. Bagaimana pun, pilihan-pilihan investasi tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan sekedar menabung.

Ingat pula bahwa disiplin adalah kunci kedua sukses berinvestasi. Kecil-kecil lama-lama menjadi bukit. Meski yang kita investasikan saat ini masih terasa kecil, namun akumulasinya dalam jangka panjang jauh lebih baik daripada rutin melakukan konsumsi rumah tangga. Mari meningkatkan kemakmuran kita melalui kepemilikan pengetahuan keuangan dan instrumen investasi yang sesuai dengan karakter kita.

Jakarta, 23 April 2015

(Andika Priyandana, dari berbagai sumber).

Iklan

One thought on “Investor di Indonesia: Sedikit-Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

  1. Ping-balik: WebLog Andika Priyandana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s