Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Menuju visi dan cita-cita untuk melihat Indonesia Cerdas. Indonesia yang dipenuhi orang-orang cerdas, pandai, memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk selalu belajar dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dunia sains serta ilmu pengetahuan.

“Selamat Hari Pendidikan Nasional” adalah status yang saya tulis di salah satu akun media sosial yang sudah saya buat sejak tahun 2009. Penyebab saya membuat status tersebut adalah rasa kecintaan saya yang tinggi terhadap dunia pendidikan dan ingin terlibat secara mendalam dan sepenuh hati dengan dunia pendidikan, termasuk di dalamnya kegiatan mengajar, meneliti, dan mengabdikan ilmu kepada masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara. Sumber gambar: indobolanewscom

Ki Hadjar Dewantara. Sumber gambar: indobolanewscom

Meski status tersebut timbul karena rasa kecintaan saya yang tinggi dengan dunia pendidikan, cukup memalukan juga jika saya sampaikan bahwa sebelumnya saya tidak mengetahui tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara – Ki Hajar Dewantara.

Saya kembali mengingat bahwa tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional setelah dini hari tadi membuka laman Google Indonesia dan tertumbuk pada gambar Ki Hajar Dewantara. “Wow, ada apa gerangan?” tanya saya dalam batin. Gambar tersebut lalu saya klik dan tampillah penjelasan Google Indonesia mengenai pemasangan gambar Ki Hajar Dewantara di halaman depan mereka.

Data Statistik Pendidikan Indonesia

Karena hari ini, Sabtu, 2 Mei 2015, adalah Hari Pendidikan Nasional, tentunya adalah hal yang sangat menarik untuk mengetahui sejauh mana pencapaian pendidikan kita setelah merdeka lebih dari 69 tahun.

Statistik Pendidikan Indonesia - pic source: nationmastercom

Statistik Pendidikan Indonesia – pic source: nationmastercom

Seperti dapat kita perhatikan pada tabel di atas, tingkat melek huruf orang-orang dewasa Indonesia sudah mencapai 91.98% (2006) dari total penduduk. Sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan pencapaian tahun 1980 yang baru menyentuh angka 67.31%.

Namun, lama bersekolah orang-orang dewasa Indonesia secara rerata baru ada pada kisaran lima tahun pada tahun 2000. Sebuah pencapaian angka yang masih rendah meski pemerintah sejak zaman Orba telah menerapkan wajib belajar enam tahun. Semoga wajib belajar 12 tahun yang akan dimulai pada Juni 2015 mampu menciptakan generasi baru Indonesia yang jauh lebih terdidik dan lebih mampu memakmurkan negara.

Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai data-data di atas, dapat kita baca langsung di http://www.nationmaster.com/country-info/profiles/Indonesia/Education yang semua sumber-sumbernya berasal dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO) Institute for Statistics.; UNESCO; UNESCO Institute for Statistics; UNESCO Institute for Statistics. Population figures from World Bank: (1) United Nations Population Division. World Population Prospects, (2) United Nations Statistical Division. Population and Vital Statistics Report (various years), (3) Census reports and other statistical publications from national statistical offices, (4) Eurostat: Demographic Statistics, (5) Secretariat of the Pacific Community: Statistics and Demography Programme, and (6) U.S. Census Bureau: International Database.;UNESCO Institute for StatisticsSource tablesUNESCO Institute for StatisticsSource tablesUNESCO Institute for Statistics.Source tablesCIA World Factbooks 18 December 2003 to 28 March 2011; UNESCO Institute for Statistics. Population figures fromWorld Bank: (1) United Nations Population Division. World Population Prospects, (2) United Nations Statistical Division. Population and Vital Statistics Report (various years), (3) Census reports and other statistical publications from national statistical offices, (4) Eurostat: Demographic Statistics, (5) Secretariat of the Pacific Community: Statistics and Demography Programme, and (6) U.S. Census Bureau: International Database.

Hasil Pembelajaran Siswa-Siswi Indonesia

Kita sudah mengetahui tingkat melek huruf, lama bersekolah, dan berbagai data statistik lainnya sesuai yang terpapar di nationmastercom. Secara kuantitas, sepertinya pencapaian pendidikan Indonesia relatif baik saat dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia. Namun, bagaimana dengan kualitasnya?

Bagaimana evaluasi hasil pembelajaran siswa-siswi di Indonesia? Bagaimana hasil produk pendidikan Indonesia saat dibandingkan dengan negara-negara lainnya, khususnya sesama negara Asia Tenggara?

Dapat dikatakan pencapaian pendidikan Indonesia masih di bawah performa para negara tetangganya di Asia Tenggara dalam hal kualitas pendidikan, bahkan saat dibandingkan dengan negara seperti Viet Nam. Pencapaian hasil pembelajaran para pelajar Indonesia masih terus berada di bawah rata-rata berdasarkan hasil tes standar internasional, meski faktor sosial ekonomi sudah turut diperhitungkan.

Pada 2003, Indonesia meraih ranking 33 dari 45 negara dalam Third International Mathematics Science Study (TIMSS). Kemudian pada tahun 2006 berdasarkan hasil evaluasi Program for International Student Assessment (PISA), yang melihat seberapa baik para pelajar berusia 15 tahun dipersiapkan untuk menjalani kehidupan, Indonesia meraih ranking 50 dari 57 negara dalam hal sains, membaca, dan matematika.

Sehubungan dengan hasil evaluasi PISA, harap perhatikan baik-baik bahwa informasi yang saya sampaikan sebelumnya dikeluarkan tahun 2006. Waktu berlalu dan pemerintah telah meningkatkan anggaran pendidikan baik dalam APBN maupun APBD. Lalu bagaimana hasil PISA terbaru? Bukankah seharusnya lebih baik?

Jawabannya adalah ranking PISA Indonesia semakin memburuk dan hanya satu rangking di atas juru kunci. Berdasarkan evaluasi PISA 2012, kemampuan pelajar Indonesia usia 15 tahun dalam bidang matematika, sains, dan membaca saat dibandingkan dengan para pelajar lain di dunia berada di peringkat ke 64 dari 65 negara.

Hasil evaluasi tersebut memberikan gambaran bahwa ada kemungkinan anak-anak tersebut akan putus sekolah, atau kesulitan menghadapi berbagai permasalahan dalam realitas hidup, dan sulit memberikan solusi dalam melihat problematika globalisasi.

Bagi para guru dan dosen yang sudah biasa menghadapi para pelajar setiap tahunnya, seharusnya mengetahui bagaimana perkembangan kualitas murid-murid mereka setiap tahunnya. Saya secara pribadi merasa jeri dengan paparan data dan statistik tersebut. Di sini, jelas sistem pendidikan Indonesia sudah menunjukkan kegagalan perbaikan kualitas para pelajar Indonesia.

Seperti apa masa depan Indonesia?

Kekayaan terbesar sebuah bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Semiskin apa pun negara tersebut, jika memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, negara tersebut mampu menjadi salah satu negara termakmur di dunia. Sekaya dan sebanyak apa pun sumber daya alam yang dimiliki suatu negara, jika sumber daya manusia yang dimiliki kurang berkualitas, maka kecil kemungkinan negara tersebut mampu menjadi negara makmur. Contohnya adalah … (silahkan isi sendiri).

Saya sempat membayangkan, seperti apa kira-kira Indonesia di masa depan. Jika Anda sekalian bertanya mengenai visi saya, telah saya ketikkan di atas dan kembali saya sampaikan di sini: Melihat Indonesia Cerdas. Indonesia yang dipenuhi orang-orang cerdas, pandai, memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk selalu belajar dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dunia sains serta ilmu pengetahuan.

Namun jika melihat statistik dan data riil saat ini, saya menjadi skeptis. Indikasinya juga sudah terlihat secara kasat mata. Jika Indonesia masih gagal untuk melakukan perbaikan terhadap sistem pendidikan nasional, bonus demografi yang sudah dimulai sejak 2012 justru akan menjadi puncak bencana pada 2030. Semoga, semoga Indonesia benar-benar mampu memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki dengan berbasis pada pendidikan berkualitas.

Pendidikan kita pada masa kini adalah kemakmuran masa depan. Belajarlah, berusahalah, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Jakarta, 2 Mei 2015

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s