Prospek Perekonomian Indonesia dalam Kabinet Kerja

Bagaimana prospek ekonomi Indonesia dalam kinerja Kabinet Kerja? Khususnya dalam masa satu hingga tiga tahun ke depan?

Kabinet Kerja - sumber gambar: assets.kompas.com

Kabinet Kerja – sumber gambar: assets.kompas.com

Indonesia berhasil memasuki 10 besar ekonomi dunia berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity) (Bank Dunia, 2014). Dengan economic share sebesar 2.3%, Indonesia sukses menempatkan dirinya di urutan ke 10 setelah Amerika Serikat (17.1%), RRC (14.9%), India (6.4%), Jepang (4.8%), Jerman (4.8%), Federasi Rusia (3.5%), Brasil (3.1%), Perancis (2.6%), dan Inggris (2.6%).

Kemudian, berdasarkan data sejarah industri otomotif Indonesia dari 1972 s.d. 2014, total penjualan mampu mencapai angka 12.830.000 unit. Selain penjualan, angka ekspor dan impor kendaraan di Indonesia per Januari 2014 s.d. Juli 2014 menunjukkan angka 199.033 unit (X) dan 74.370 unit (M) (Gaikindo, 2014). Hal-hal tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia mulai menjadi basis industri otomotif menyaingi Thailand.

Masih banyak lagi indikator-indikator ekonomi lainnya yang menunjukkan Indonesia seakan siap memasuki era pasar bebas, minimal di wilayah Asia Tenggara. Maka, sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan para tetangganya di wilayah Asia Tenggara, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sebagai bentuk pengejawantahan pasar bebas tersebut akan  diberlakukan pada akhir tahun 2015. Melalui MEA, ASEAN ditujukan menjadi kawasan perdagangan bebas, menjadi basis produksi dunia, dan tercipta pasar regional bagi sekitar 600 juta lebih penduduk ASEAN.

Demi tercapainya tujuan tersebut, ASEAN telah mencapai kesepakatan pada 2006 dengan menetapkan Priority Integration Sector (PIS). Dalam PIS, telah ditetapkan 12 sektor prioritas yang terdiri dari tujuh sektor barang industri dan lima sektor jasa. Ketujuh sektor barang industri tersebut terdiri dari produk berbasis karet, perikanan, elektronik, pertanian, karet, otomotif, dan kayu. Sedangkan kelima sektor jasa terdiri dari jasa logistik, turisme, pelayanan kesehatan, e-asean, dan transportasi udara.

Posisi Indonesia Jelang MEA

Namun jika ditilik lebih mendalam lagi, apakah bangsa dan negara Indonesia benar-benar siap menghadapi MEA pada akhir 2015? Siapkah infrastruktur kita untuk mendukung mobilitas barang dan jasa? Siapkah SDM kita menghadapi persaingan kerja dengan sesama warga negara anggota ASEAN?

Berbasis data, saat ini Logistic Performance Index (LPI) Indonesia ada di posisi 53 dari 160 negara (Bank Dunia, 2014). Raihan angka tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang relatif tidak berbeda dengan negara-negara golongan ekonomi menengah bawah, misalnya Viet Nam. Ranking tersebut juga menunjukkan kekurang siapan infrastruktur Indonesia, masalah-masalah yang ada di sektor pelabuhan, dan kualitas pengapalan internasional ada di bawah rata-rata  LPI dunia.

Sekarang mari kita mencoba melihat dari perspektif SDM Indonesia. Berdasarkan data UNDP (2014), nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2013 ada pada skor 0.629. Angka yang masih jauh di bawah beberapa negara anggota ASEAN, termasuk Singapura (0.895), Brunei Darussalam (0.855), Malaysia (0.769), Thailand (0.690) dan Filipina (0.654). Dalam hal Global Competitiveness Index 2014 – 2015, Indonesia meraih ranking 34 setelah Singapura (2), Malaysia (20), Thailand (31), dan di atas Filipina (52), serta Viet Nam (68).

Mengenai produktivitas buruh, Indonesia ada pada kisaran 36 persen (Asian Productivity Organization (APO), 2013). Makna dari 36 persen tersebut adalah hanya 36 persen dari total 100 persen jam kerja yang digunakan secara efektif oleh buruh Indonesia untuk menghasilkan hal-hal produktif. Angka ini, tak disangka tak dinyana, kalah dengan angka produktivitas buruh Kamboja (46 persen), dan Malaysia (43 persen), serta Thailand (37 persen).

Keunggulan-Keunggulan Indonesia

Sementara ini, pasangan presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi – JK sudah menunjukkan kemauan politik untuk melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerataan pembangunan yang tidak sekedar berpusat di Jawa dan Sumatra, serta perbaikan-perbaikan indikator ekonomi, pembangunan, dan sumber daya manusia yang menjadi kelemahan Indonesia.

Salah satu perwujudan kemauan politik tersebut adalah komposisi Kabinet Kerja yang terdiri dari 20 orang profesional murni dan 14 partai. Yang lebih menarik lagi, terdapat tokoh-tokoh profesional yang menunjukkan profil sangat menarik, memiliki pengetahuan ekonomi dan marketing mumpuni serta sangat mungkin menjadi idola media, antara lain Indroyono Soesilo, Susi Pudjiastuti, Ignasius Jonan, dan Rachmat Gobel.

Contoh nyata bahwa tokoh-tokoh tersebut memiliki kemampuan ekonomi dan marketing yang baik adalah rekam jejak mereka yang tentunya bakal ditularkan dalam program kerja kementerian yang mereka jalankan. Susi Pudjiastuti terkenal dengan Susi Air, keberhasilan melakukan perdagangan ikan secara internasional dengan memanfaatkan transportasi udara semaksimal mungkin, serta sudah menjadi perhatian dunia melalui seri dokumenter “Worst Place To Be a Pilot”.

Ignasius Jonan terkenal dengan gebrakannya di perkereta apian dengan peningkatan mutu dan layanan kereta api, mencantikkan wajah stasiun, hingga kisah saat dirinya tertidur dalam gerbong kereta karena lelah bekerja. Disadari atau tidak, mereka sudah menunjukkan bakat marketing dalam rekam jejak mereka secara sangat baik.

Selain Kabinet Kerja, ada konsep tol laut yang sudah diusung Jokowi – JK sejak masa kampanye dan diharapkan menjadi solusi masalah tingginya biaya logistik dan distribusi di Indonesia. Setelah terpilih, mereka berani membatalkan Program Jembatan Selat Sunda yang bertentangan dengan konsep tol laut yang mereka usung. Sebenarnya dapat dinyatakan, konsep tol laut mengembalikan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut.

Alasannya adalah, laut mencakup 2/3 wilayah Indonesia. Kemudian, 90 persen perekonomian dunia melibatkan transportasi laut, bukan transportasi darat. Posisi Indonesia sebagai negara pulau-pulau yang dikelilingi lautan memberikan potensi besar kepada negara Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia yang sangat memaksimalkan transportasi laut.

Kabinet kerja yang diusung Jokowi – JK juga berani melakukan langkah-langkah tidak populer,yaitu pengalihan subsidi BBM untuk hal-hal produktif seperti pembangunan infrastruktur. Hal ini terkesan pahit namun sangat diperlukan untuk memperlebar ruang fiskal sehingga anggaran untuk tujuan produktif naik signifikan sebesar 100 trilyun untuk tahun 2015. Yang mengejutkan, meski langkah mengalihkan subsidi BBM dicap tidak populis, namun respon pasar tetap kondisif dan positif. Bahkan keinginan para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia pun tetap tinggi.

Kemudian dari sisi sumber daya manusia, jumlah penduduk usia produktif di negara Indonesia jauh mengungguli negara-negara anggota ASEAN lainnya. Saat ini, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka 255.5 juta atau sekitar 40.3 persen dari total jumlah penduduk ASEAN menunjukkan kekuatan ekonomi yang besar sekaligus pangsa pasar yang sangat besar bagi Indonesia.

Pada saat Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan akhir tahun 2015, perbandingan jumlah penduduk Indonesia usia produktif dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya adalah 38:100. Perbandingan tersebut mendeskripsikan bahwa dari 100 penduduk ASEAN yang ada dalam usia produktif, 38 di antaranya adalah penduduk Indonesia. Jumlah penduduk usia produktif dengan proporsi yang besar ini diperkirakan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2030. Inilah bonus demografi Indonesia.

Melalui penduduk usia produktif yang besar ini, pendapatan per kapita penduduk Indonesia dapat lebih dipacu lagi menjauhi posisi negara ekonomi menengah bawah yang saat ini disandang Indonesia. Karenanya, perekonomian bangsa harus didorong agar lebih cepat tumbuh, lebih ekspansif, dan lebih berdaya saing.

Jika Indonesia mampu mengatasi kendala-kendala yang ada dengan baik dan cepat, potensi untuk unggul dalam persaingan saat MEA berjalan dapat lebih terlihat. Memang hasilnya tidak akan instan. Langkah Pemerintah Indonesia melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi seperti misalnya pengalihan subsidi BBM dari sektor konsumtif ke sektor produktif akan melambatkan laju perekonomian.

Perekonomian dalam tiga tahun ke depan akan berjalan lambat namun tetap positif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, Faisal Basri (ekonom UI) optimis bahwa tahun ini pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5.2 persen, tahun 2015 sampai 5.8 persen, tahun 2016 bisa mencapai 6,5 persen, tahun 2017 mampu mencapai 7 persen.

Angka 7 persen dapat diperoleh setelah berbagai program pembangunan infrastruktur Indonesia mulai membuahkan hasil, antara lain siap digunakannya tol Trans Jawa dan tol Trans Sumatra, bandara dan pelabuhan semakin banyak, jaringan listrik Sumatra, Jawa, dan Bali saling terhubung, dan berbagai keberadaan infrastruktur lainnya yang mempercepat putaran laju ekonomi yang terbagi cukup rata di wilayah negara Indonesia.

Jika berbagai program pemerintah di bidang pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM benar-benar terwujud, maka Indonesia sangat pantas memandang MEA sebagai potensi pertambahan pasar Indonesia dari 255 juta menjadi lebih dari 633 juta (total perkiraan jumlah penduduk ASEAN).

Jakarta, 18.12.2014

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Desember 2014

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s