Simbiosis Mutualisme Tol Laut + Rel Ganda dan Bisnis Trucking di Indonesia

Keberadaan rel ganda dan tol laut melalui proyek infrastruktur pemerintah mampu menciptakan pasar baru dan sinergi manis bagi pelaku bisnis truk.

Dari kiri: Ariel Wibisono (Direktur PT Rajawali Dwi Putra Indonesia); Felix Soesanto (Direktur AAA Properties); Kyatmaja Lookman (Presdir PT Lookman Djaja Land); Hendy Helmi (VP Penjualan dan Bina Pelanggan Angkutan Barang PT KAI); Agung Kresno Sarwono (Direktur Operasional dan Teknik PT Teluk Lamong); Ratna Hidayati (Pemimpin Redaksi TruckMagz); Wisjnu Wardhana Trimulyono (Direktur PT Chakra Jawara); Yonathan H. Hendarto (Direktur PT Rajawali Inti) - properti foto Majalah TruckMagz

Dari kiri: Ariel Wibisono (Direktur PT Rajawali Dwi Putra Indonesia); Felix Soesanto (Direktur AAA Properties); Kyatmaja Lookman (Presdir PT Lookman Djaja Land); Hendy Helmi (VP Penjualan dan Bina Pelanggan Angkutan Barang PT KAI); Agung Kresno Sarwono (Direktur Operasional dan Teknik PT Teluk Lamong); Ratna Hidayati (Pemimpin Redaksi TruckMagz); Wisjnu Wardhana Trimulyono (Direktur PT Chakra Jawara); Yonathan H. Hendarto (Direktur PT Rajawali Inti) – properti foto Majalah TruckMagz

Belum lama ini, Majalah Marketing menerima undangan untuk menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh TruckMagz dengan tema Peluang dan Tantangan Bisnis Trucking di Indonesia para Era Jokowi – JK. Melalui seminar yang diselenggarakan pada tanggal 26 November 2014 di Surabaya, Majalah Marketing berkesempatan untuk mendengar dan menyaksikan paparan menarik dari perspektif pemerintah sebagai pembangun dan penyedia infrastruktur Rel Ganda dan Tol Laut serta perspektif swasta sebagai pelaku bisnis truk.

Berbicara mengenai Rel Ganda dan khususnya Tol Laut yang selalu didengungkan pemerintah baru, menjadi hal sangat menarik yang tentunya memantik rasa ingin tahu kita. Salah satu manfaat yang disampaikan melalui keberadaan dua proyek infrastruktur tersebut adalah turunnya biaya distribusi.

Sebagaimana diketahui bersama oleh para pelaku bisnis dan pemangku kepentingan, biaya distribusi yang selama ini ada di Indonesia dirasa cukup mencekik hingga 20 persen dari biaya produksi dan bahkan lebih. Sebuah angka yang menunjukkan ketidak sehatan saat dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah memiliki biaya distribusi yang efektif dan efisien.

Biaya distribusi dan logistik Indonesia yang tidak sehat telah secara resmi ditunjukkan oleh ranking Indonesia yang ada di posisi 53 dari 160 negara (Logistic Performance Index 2014). Salah satu akibat dari faktor ini adalah ranking infrastruktur Indonesia yang ada pada posisi 56 dalam Global Competitiveness Index 2014 – 2015. Karenanya, keberadaan Rel Ganda dan Tol Laut diharapkan dapat menurunkan biaya distribusi di Indonesia.

Akibat Rel Ganda dan Tol Laut kepada Bisnis Truk

Namun di sisi lain, keberadaan Rel Ganda dan Tol Laut diindikasikan dapat menciutkan pasar bisnis truk, khususnya untuk jarak jauh (> 500 km). Benarkah demikian? Secara rasional, jawabannya adalah ya. Ratna Hidayati (Pemimpin Redaksi TruckMagz) memaparkan, “Tantangan dapat muncul dari rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur transportasi di seluruh Indonesia, khususnya yang dikenal masyarakat sebagai tol laut dan rel jalur ganda di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra,” Ratna melanjutkan, “Keberadaan tol laut dan rel jalur ganda dapat mengecilkan pasar truk, khususnya di Pulau Jawa.”

Namun, Ratna berkeyakinan bahwa tol laut dan rel jalur ganda akan memiliki pengaruh paling besar hanya kepada pasar jarak jauh, bukan pasar jarak pendek dan jarak menengah. Keyakinan Ratna ini senada dengan pendapat Kyatmaja Lookman (Presiden Direktur PT Lookman Djaja). Menurut Lookman, “Kereta yang melalui rel jalur ganda dan kapal yang melalui laut hanya dapat mengantarkan barang-barang dari stasiun ke stasiun (station-to-station) dan dari pelabuhan ke pelabuhan (port-to-port). Bukan dari pintu ke pintu (door-to-door), yang mana menjadi kekuatan utama para pelaku bisnis truk.”

Lookman lalu mengutarakan pendapatnya lebih jauh, “Karena kekuatan utama tersebut, pasar jarak pendek dan jarak menengah justru dapat meningkat karena ketidak mampuan kereta dan kapal mengantarkan barang hingga ke tangan konsumen.” Berarti, kebutuhan baru akan tercipta dalam bentuk permintaan distribusi port-to-door, door-to-port dan station-todoor, door-to-station. Dengan kata lain, hal terbaik dari kesempatan baru ini adalah, pemerintahan Jokowi-JK akan menawarkan kerja sama bisnis dengan pihak swasta agar dapat memenuhi permintaan distribusi ini.

Peran Swasta dalam Perspektif Pemerintah

Dalam konteks tol laut, Sugihardjo (Staf Ahli Bidang Logistik dan Multimoda, Kementerian Perhubungan RI) dalam presentasinya menegaskan bahwa proyek tol laut memiliki tujuan utama menurunkan biaya logistik. Demi turunnya biaya logistik tersebut, pemerintah melalui tol laut membangun konektivitas antarpulau, meningkatkan aksesibilitas antara pulau padat dengan pulau terpencil, dan menurunkan biaya tinggi transportasi darat.

Namun proyek tol laut ini mendatangkan masalah, salah satunya dalam bentuk tingginya biaya door-to-door (kapal hanya mampu mengantarkan barang dari pelabuhan ke pelabuhan). Maka, untuk mengatasi salah satu masalah ini, peran serta para pelaku bisnis truk diharapkan pemerintah.

Mengenai harapan keterlibatan para pelaku bisnis truk, Agung Kresno Sarwono (Direktur Teknik dan Operasional PT Terminal Teluk Lamong) menyampaikan, “Pemerintah Indonesia yang baru memiliki kemauan untuk melibatkan para pelaku bisnis truk. Dalam Jaringan Sistem Logistik Indonesia, moda truk terlibat signifikan dalam mengantarkan barang baik saat masuk dan saat keluar dari pelabuhan.”

Lebih lanjut dalam keterlibatan truk di pelabuhan, Agung menyatakan, “Dalam setiap pelabuhan di Indonesia, berdasarkan Jaringan Sistem Logistik Indonesia, truk terlibat hingga 35 persen.”

Selain urusan tol laut, pemerintah juga secara terbuka telah menunjukkan minat bekerja sama dengan swasta dalam hal rel ganda. Hendy Helmy (Wakil Direktur Penjualan dan Bina Pelanggan Angkutan Barang PT Kereta Api Indonesia (Persero)) berujar, “PT KAI membutuhkan dukungan dari pihak swasta dan karenanya, terbuka untuk kerja sama pengantaran barang, khususnya pengantaran barang antara konsumen akhir dan stasiun kereta. ”

Sinergi Manis Pemerintah – Swasta

Sebagian dari proyek-proyek tol laut dan rel ganda akan selesai pada 2017, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatra. Berarti, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan distribusi jarak pendek dan menengah harus dipersiapkan sejak kini. Karenanya, kerja sama pemerintah dan swasta perlu diteken sesegera mungkin.

Apa saja syarat-syarat untuk mewujudkan kerja sama tersebut? Secara umum tentu saja para rekan bisnis prospektif harus mampu menunjukkan kinerja profesional dan mampu menyesuaikan diri dengan jadwal dan volume yang diangkut oleh moda transportasi laut dan darat dari pemerintah. Para pelaku bisnis truk harus mampu memfasilitasi kebutuhan pengiriman barang port-to-door, door-to-port dan station-todoor, door-to-station dengan optimal. Melalui kerja sama optimal, tentu saja dapat diperoleh hasil terbaik yang memuaskan kedua belah pihak.

Jakarta, 21.12.2014

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah diterbitkan di Majalah Marketing edisi Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s