Ivy League dan Elitisme Akademis

Elitisme akademis Ivy League, konon kabarnya, bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi menghasilkan para lulusan dengan karakteristik “sangat sukses” dan di sisi lain mengalami “depresi bagai zombie”. Benarkah demikian?

Ivy League Penants. Pic source: blackenterprisecom

Ivy League Penants. Pic source: blackenterprisecom

Tahukah Anda ciri-ciri berikut ini? Jumlahnya ada delapan, universitas prestisius di Amerika Serikat, semua berlokasi di sebelah timur laut Amerika Serikat, rutin berada dalam peringkat teratas universitas top Amerika Serikat, memiliki pendapatan keuangan yang masuk golongan terbesar di dunia, sebagian besar riset yang dilakukan telah sangat memajukan dunia teknologi, memiliki deretan akademisi dan ilmuwan peraih Penghargaan Nobel.

Jika ada di antara Anda ada yang menjawab ciri-ciri di atas adalah ciri-ciri Ivy League (sering juga disebut Ancient Eight – Delapan Sekolah Lama), Anda benar. Bagi Anda yang belum mengetahui Ivy League, Ivy League adalah asosiasi yang terdiri dari 8 universitas di Amerika Serikat yang lekat dengan atribut elitisme akademis, penerimaan selektif dan kesempurnaan akademis. Kedelapan universitas tersebut adalah Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Universitas Darthmouth, Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale.

Melihat lembaran sejarah Ivy League, sebutan tersebut disampaikan pertama kali oleh Caswell Adams dari The New York Tribune pada tahun 1937. Sebutan tersebut, sebelum disetujui secara resmi penggunaannya melalui perjanjian formal, dengan segera diadopsi oleh media pers untuk penamaan liga sepakbola Amerika yang terdiri dari delapan Universitas yang terletak di timur laut Amerika Serikat.

Penggunaan nama Ivy League yang diakui secara resmi justru baru terjadi pada tahun 1954 dan penggunaan nama tersebut tidak lagi terbatas pada atletik, namun kini juga menggambarkan filosofi pendidikan terbaik negara Amerika Serikat yang diwakili oleh delapan universitas tertua. Universitas-universitas yang tergabung dalam Ivy League dilihat sebagai sangat prestisius dan selalu masuk dalam ranking universitas terbaik dunia.

Kedelapan universitas Ivy League masuk dalam daftar Top 20 U.S. News & World Report (2014). Setiap universitas menerima jutaan dolar bantuan dana riset dan subsidi-subsidi lainnya dari pemerintah federal dan negara bagian. Jumlah mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar ke universitas-universitas Ivy League, termasuk pasca sarja, menunjukkan variasi. Mulai dari sekitar 6.100 pendaftar di Dartmouth hingga lebih dari 20.000 pendaftar di Columbia, Cornell, Harvard, dan Penn. Bantuan keuangan Ivy League turut bervariasi dari US$ 2.7 milyar di Brown hingga US$ 32.3 milyar di Harvard yang menjadikan bantuan keuangan institusi pendidikan yang terbesar di dunia.

Kehidupan mahasiswa dan mahasiswi Ivy League: Penuh tekanan?

Dapatkah para mahasiswa dan mahasiswi yang diterima di delapan universitas Ivy League disebut sempurna? Jika dilihat dari salah satu perspektif, bisa. Para mahasiswa dan mahasiswi ini sempurna karena mereka sudah memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk memasuki universitas elit, yang sayangnya dalam perspektif tertentu, kesempurnaan ini bersifat sempit.

Opini mengenai kesempurnaan yang sempit ini terdeskripsikan dengan baik dalam buku karya Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath: Underdogs, Misfits and the Art of Battling Giants. Dalam buku tersebut, Malcolm bercerita mengenai keinginan dan kepercayaan dari para orang tua Amerika Serikat bahwa dengan mengirimkan anak-anaknya masuk Ivy League – golongan universitas paling elit di Amerika Serikat, memaksa anak-anak mereka masuk ke dalamnya, berarti mereka sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Namun sayangnya berdasarkan contoh kasus yang diberikan dalam buku tersebut, mendapatkan tempat dalam universitas yang sangat elit ternyata hanya menguntungkan para mahasiswa dan mahasiswi yang termasuk dalam golongan 20 persen terbaik. Bagi yang masuk dalam golongan papan bawah, mungkin mereka justru menjadi golongan yang tidak lagi mencintai ilmu pengetahuan yang pada awalnya menjadi alasan mereka memasuki Ivy League.

Penyebabnya? Antara lain karena golongan bawah ini merasa menjadi orang bodoh dan tidak berbakat di bidang yang sedang mereka tekuni. Akibat lanjutannya adalah mereka kehilangan minat, kehilangan gairah, dan turun semangatnya hingga pada taraf depresi seakan-akan mereka adalah zombie. Padahal, jika golongan bawah ini ada dalam universitas yang tidak termasuk golongan prestisius, misalnya mereka masuk dalam universitas papan tengah, mereka akan masuk dalam golongan mahasiswa dan mahasiswi kelas atas jika dilihat dari perolehan-perolehan nilai mereka.

Tokoh lainnya, William Deresiewicz, mantan Profesor asal Universitas Yale turut menyampaikan pandangan serupa melalui tulisan kontroversial berjudul “Don’t Send Your Kid to the Ivy League”. Dalam opini William, para mahasiswa dan mahasiswi Ivy League dibuat untuk memahami bahwa mereka harus sempurna, bahwa mereka harus melakukan semua hal dengan sempurna tanpa cacat, namun sayangnya tidak disertai dengan penjelasan memadai mengenai kenapa mereka harus melakukan hal-hal tersebut.

Lebih lanjut lagi menurut William, para mahasiswa dan mahasiswi Ivy League bagaikan kumpulan domba. Penyebabnya karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan mereka menentukan arah hidup mereka sendiri. Mereka selalu melakukan hal-hal lanjutan berdasarkan perintah yang mereka terima. Masalah dari aksi ini adalah, saat mencapai batas tertentu, petunjuk yang diberikan tidak muncul lagi.

Semua kembali ke diri sendiri

Pandangan menarik dan relatif berbeda disampaikan Josh Kaufman, pengarang buku The Personal MBA yang mana karyanya telah tampil dalam HarvardBusiness.org dan buku tersebut sudah menjadi buku teks resmi dalam mata kuliah Ilmu Bisnis di Universitas Stanford. Josh memiliki pandangan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan belajar mandiri yang kuat, selalu mengevaluasi hasil demi meraih hasil yang lebih baik lagi di masa depan adalah orang-orang yang tidak perlu pergi ke institusi pendidikan khusus – misalnya Sekolah Bisnis di universitas elit.

Josh melihat bahwa para mahasiswa dan mahasiswi di sekolah bisnis yang ada di universitas elit sebenarnya sudah menjadi bibit unggul sejak awal dan karenanya, mereka mampu menjadi individu-individu spesial tanpa kewajiban mendapatkan gelar bisnis prestisius (baca: MBA). Josh menyarankan agar para individu yang cerdas ini mampu mendidik diri sendiri dan belajar mandiri. Belajar mengaplikasikan konsep secara sistematis dan rasional secara langsung di dunia nyata. Langkah ini, dalam pandangan Josh, lebih mampu untuk meningkatkan pengetahuan mereka secara dramatis.

Secara keseluruhan, sejatinya tidak ada yang benar-benar sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurangan dalam setiap hal, termasuk Ivy League. Jadi, jika Anda sudah berteguh hati memasuki universitas Ivy League, utamakanlah kematangan dan ketahanan mental Anda terlebih dahulu.

Jakarta, 22 September 2014

(Andika Priyandana; dari berbagai sumber).

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Oktober 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s