Berwirausaha dengan Hati dan Gairah

Berwirausaha, menjadi wirausahawan atau wirausahawati, adalah salah satu jalan menempa jiwa dan mental kita secara sangat positif!

Pebisnis sejati itu, meski jatuh tujuh kali, dia akan bangkit untuk kedelapan kalinya. Kalau dia jatuh lagi, dia akan terus bangkit. Ngga bakalan nyerah! Itu adalah ciri-ciri orang yang emang jalan hidupnya menjadi pebisnis. Kalau dia ngga bangkit lagi, berarti memang jalan hidupnya bukan jadi pebisnis.”

Ucapan tersebut disampaikan pemilik jasa servis AC kendaraan roda empat yang saya temui awal tahun 2014 ini di dekat Kemang Pratama, Bekasi. Dia bercerita kepada saya mengenai keputusannya merantau (asalnya dari Padang Pariaman), berbagai kegagalannya dalam bisnis, serta keberhasilan dan buah manis berbisnis yang diperoleh melalui jalan yang terjal penuh liku.

Kisah lainnya mengenai wirausaha adalah saat teman saya bercerita suka duka mengelola restoran di Bandung. “Kadang laku kadang ngga laku. Kalo pas lagi ngga laku sampe-sampe nombok biaya operasionalnya kebangetan, pusing juga. Soalnya kan mikirin gimana gajinya anak-anak. Usaha lagi ngga laku tapi kan kesejahteraan mereka tetap wajib dipikirin.”

Kemudian masih ada lagi cerita dari istri saya (baca: Buat Ayah si Calon Bayi Besar), Dita yang baru saja berwirausaha dengan kedua temannya membuka warung Takoyaki dan Okonomiyaki. Capek fisik, capek pikiran, dan pastinya berwirausaha itu lebih berat daripada menjadi karyawan. Kenapa lebih berat daripada karyawan? Karena harus bisa memahami dan mengerti hal, mulai dari operasional, keuangan, hingga manajemen SDM. Apalagi, Dita menjalani semua ini dalam keadaan hamil.

Bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya sudah berwirausaha? Yah, saya sudah merasakan dunia wirausaha sejak saya masih kelas 3 SD atau saat umur saya masih sekitar 8 tahun. Saya dapat mengingat bahwa usaha pertama yang saya coba jalankan adalah usaha jualan gambar tempel. Selain usaha jualan gambar tempel, saya juga menyewakan komik-komik dan buku cerita milik saya yang banyak banget ke temen-temen saya. Sewanya saat itu hanya Rp 50,00/ 2 hari.

Saya sebenarnya mendapatkan uang jajan dari alm. Bapak saya, namun saya harus mengakui bahwa keputusan Mamah (baca: Surat untuk Mamah) untuk memberikan pendidikan terbaik dengan memasukkan saya ke SD Santa Maria Cirebon menjadi salah satu pengaruh yang mendorong saya berwirausaha sejak masih kelas 3 SD.

Saat saya sekolah di SD Santa Maria, teman-teman sepermainan saya mayoritas adalah keturunan China. Saya masih bisa mengingat dengan sangat jelas nama teman-teman dan sahabat saya pada masa itu, antara lain Gunata, Dimas, Agnes, Diana, dan masih banyak lagi. Nah, rata-rata orang tua teman saya adalah pedagang/pebisnis dan anak-anak mereka ada yang sudah belajar berdagang sedari kecil.

Ada yang jualan kue dan penganan kecil lainnya, termasuk sewa komik (Heheehe, saya terinspirasi sama kegiatan satu ini). Saya menganggap pelajaran berdagang ini adalah efek positif dan atas efek positif pergaulan yang telah saya rasakan, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya teman-teman dan sahabat saya pada masa itu.

Lalu, apa efek dari pelajaran berbisnis yang saya kerjakan saat SD secara mandiri? Pelajarannya tentu saja “Mandiri”. Dengan jajan yang saya peroleh setiap hari, naik becak langganan yang sudah dibayarin orang tua, makanan yang selalu tersedia di rumah, dan buku-buku pelajaran yang lengkap seharusnya sudah sangat memberikan saya kenyamanan dan keamanan sebagai anak-anak. Namun entah kenapa, ternyata saya justru mencari suatu hal di luar “kenyamanan dan keamanan” yang diberikan orang tua dan memilih belajar mencari “kenyamanan dan keamanan” tanpa terlalu bergantung kepada orang tua.

Dalam pelajaran bisnis saat SD, saya merasakan yang namanya duit dikemplang, komik tidak dikembalikan, komik dicuri, uang hasil penjualan dipalak preman saat main dingdong, dan masalah-masalah lainnya. Namun saat itu, meski saya merasakan takut, sedih, jengkel, saya sih tetap jalan terus. Berhenti dagang lebih karena rasa bosan.

Waktu berlalu dengan cepat dan saya tetap belajar berdagang hingga SMP dan terhenti saat SMA. Apa yang menyebabkan saya berhenti? Mungkin, sekali lagi mungkin karena pengaruh lingkungan. Kebetulan saat saya SMA, saya memutuskan masuk SMA Negeri 3 Semarang dan bukan SMA Kolese Loyola. Sebenarnya saya sudah diterima di Kolese Loyola namun saya memutuskan masuk SMA Negeri karena sudah terlalu lama sekolah di swasta. Saya ingin merasakan suasana berbeda.

Hahaha, ternyata suasana berbeda tersebut menyebabkan saya merasa kurang berjuang untuk mampu hidup mandiri dan mendapatkan sumber finansial tanpa bantuan orang tua. Untunglah pelajaran bisnis kembali saya jalani menjelang kelulusan S1. Saya sempat berbisnis sewa Playstation, pulsa telepon, aksesori telepon genggam, dan jasa binatu.

KerajaanMainan.com

KerajaanMainan.com

KerajaanMainan.com

 

Waktu terus berjalan dan kini saya menjalani usaha jualan mainan edukatif untuk anak-anak usia 0 hingga 12 tahun bersama teman saya, Ranggi Pangidoan. Ranggi dan saya menjalankan usaha ini dalam bentuk e-commerce dengan alamat situs www.KerajaanMainan.com. Apakah usaha ini mudah dijalankan? Tidak. Apakah kami masih menjalani apa yang disebut Kurva Belajar? Masih sangat-sangat menjalani.

Kenapa saya memutuskan menjalani usaha jualan mainan edukatif secara daring (online) di KerajaanMainan.com?

Pertama, saya ingin menjalani usaha yang pasti ingin saya lakukan dengan hati dan gairah dalam jangka panjang.

Kedua, saya adalah calon ayah (Baca: Catatan Calon Ayah) dan tentunya, saya tertarik untuk menjadi solusi kebutuhan mainan anak-anak yang juga dirasakan para orang tua muda lainnya.

Rayendra dan Kayana bermain produk Kerajaan Mainan

Rayendra dan Kayana bermain produk Kerajaan Mainan

Ketiga, saat melihat dan mengetahui bahwa produk-produk yang kami jual mampu menambah wawasan, kecerdasan, dan bersifat edukatif bagi anak-anak, ada semburat rasa bangga dan bahagia di dalam hati saya.

Lalu ada satu hal pasti, saya sudah memutuskan untuk tidak menjadikan profesi “karyawan” sebagai jalan hidup saya sejak pertengahan tahun 2014. Yah, minimal untuk saat ini dan untuk jangka pendek. Profesi yang sedang saya jalani saat ini adalah pekerja professional, dosen dan wirausahawan.

Alasan saya mengambil keputusan tidak menjadikan profesi “karyawan”adalah:

  1. Saya ingin lebih memiliki kendali terhadap hidup saya, misalnya jam kerja, apa yang dikerjakan, jam istirahat, lokasi pekerjaan, besaran pendapatan, dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan “pekerjaan” dan “finansial”.
  2. Saya ingin agar hal-hal yang saya kerjakan memiliki efek berganda yang positif terhadap masyarakat, bangsa, dan negara.

Di sini, saya sama sekali tidak menyatakan  bahwa menjadi karyawan adalah hal yang tidak baik. Namun saya mengetahui bahwa keharusan bekerja sesuai jam kerja yang pasti, menerima gaji tetap, posisi kerja stabil, kenyamanan karier perusahaan yang berjenjang, dan berbagai kepastian, ketetapan, kestabilan, dan kenyamanan sejenis bukan untuk saya.

Saya masih bisa mengingat keputusan saya untuk menghindari berbagai kepastian, ketetapan, kestabilan, dan kenyamanan sedari kecil.

Saya memutuskan sengaja jalan kaki saat umur 6 tahun dari SD ke rumah yang jaraknya 5 km karena ingin mengetahui rasanya jalan kaki jarak jauh, keputusan untuk belajar mencari uang secara mandiri sejak SD, berlatih menyatu dengan gunung dan alam terbuka dengan hiking sejauh 40 km saat SMP dan meminum air sungai, sengaja melintasi dan nongkrong di wilayah yang dianggap angker saat SMA, sengaja berkeringat mengurus cucian dan setrika saat kuliah S1, sengaja merasakan dipukuli dan ditendangi secara rutin khususnya saat S1 (baca: Pencak Silat Tenaga Dasar), hingga sengaja berlatih merasakan lapar, haus, lelah, dan hidup sendiri di tengah bangsa asing di negeri-negeri yang jauh dari Indonesia selepas S2.

Manfaat dari keputusan saya untuk belajar susah dan berlatih keluar dari zona nyaman adalah saya lebih rileks dalam menjalani berbagai cobaan dan tantangan dalam hidup, baik yang muncul dari internal dan eksternal. Saya pun mengetahui bahwa kata hati, pikiran, perasaan, dan jalan hidup saya jauh lebih ditentukan oleh diri saya, pola pikir saya, dan sikap mental saya.

Hingga kini, saya masih belajar dan terus tetap dan selalu ingin belajar hingga akhir hayat. Semoga apa yang menjadi curahan hati saya dalam tulisan ini mampu memberikan pelajaran positif bagi siapa pun yang membacanya.

Cibubur, 19.11.2014

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s