Indonesia Bisa Lebih Baik Daripada Thailand

Dalam hal kualitas layanan pelanggan, kualitas riset sekunder, dan produktivitas kerja, Indonesia bisa lebih baik daripada Thailand.

Kalau kita melihat data-data seperti:

  • Nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2013 (0.629) masih jauh di bawah beberapa negara anggota ASEAN, termasuk Singapura (0.895), Brunei Darussalam (0.855), Malaysia (0.769), Thailand (0.690) dan Filipina (0.654) ~ UNDP 2014.
  • Indonesia meraih ranking 34 setelah Singapura (2), Malaysia (20), Thailand (31), dan di atas Filipina (52), serta Viet Nam (68) ~ Global Competitiveness Index 2014 – 2015
  • Produktivitas buruh di Indonesia ada pada kisaran 36 persen (Asian Productivity Organization (APO)). Makna dari 36 persen tersebut adalah hanya 36 persen dari total 100 persen jam kerja yang digunakan secara efektif oleh buruh Indonesia untuk menghasilkan hal-hal produktif. Angka ini, tak disangka tak dinyana, kalah dengan angka produktivitas buruh Kamboja (46 persen), dan Malaysia (43 persen), serta Thailand (37 persen).

Sepertinya negara kita tercinta, Indonesia, kok pencapaiannya gimaaanaaa gitu? Kira-kira, bisakah kita memiliki pencapaian yang lebih baik dalam semua perhitungan tersebut, minimal dibandingkan dengan sebagian besar negara-negara tetangga utama di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam?

Kalau dilihat secara kasuistis dan berbasis pengalaman pribadi, jawabannya bisa.

Belum lama ini, saya bersama tim sedang terlibat proyek dengan klien dari China. Klien China ini terdiri dari lembaga riset dan perusahaan yang mana produknya menjadi pilihan pertama di negara RRC. Dalam proyek ini, kami mendapatkan cerita menarik dari penerjemah pendamping klien kami mengenai kepuasan mereka terhadap rekan kerja lembaga riset dari Thailand dan lembaga riset dari Indonesia (kami).

Bersama klien China

Bersama klien China

Sang penerjemah ini bercerita kepada kami bahwa para klien China ini memendam rasa jengkel  terhadap rekan kerja lembaga riset dari Thailand mengenai hal-hal berikut:

  • Kualitas dan Kuantitas Komunikasi: Klien China ini merasakan buruknya kualitas komunikasi, khususnya melalui surel dengan rekan kerja lembaga riset dari Thailand. Selain itu, laporan kemajuan pengerjaan tugas juga kurang memuaskan. Sedangkan hal bertolak belakang dialami saat berkomunikasi dengan kami dari Indonesia. Kami memberikan jawaban, laporan, serta diskusi rutin melalui media surel serta Whatsapp.
  • Kualitas pekerjaan. Klien China tidak puas terhadap kinerja desk research yang sudah dilakukan rekan kerja lembaga riset dari Thailand. Kembali, hal bertolak belakang dialami saat menerima hasil desk research yang sudah kami kerjakan. Melalui pernyataan mereka secara resmi kepada kami, hasil desk research kami dinilai sangat profesional dari sisi konten, tampilan, dan pemenuhan tenggat waktu.

Secara keseluruhan, hal-hal negatif yang dialami dengan rekan kerja lembaga riset dari Thailand membuat klien China ini memutuskan bahwa kerja sama yang dijalankan akan menjadi yang pertama dan yang terakhir. Sedangkan saat klien China mengadakan rapat dengan kami yang juga dihadiri Direktur, mereka menyampaikan keinginan untuk dapat meneruskan kerja sama di masa mendatang.

Apa kunci yang menyebabkan kami mampu meraih pencapaian ini? Jawabannya adalah sikap dahaga ilmu, persisten, konsisten, ulet, dan tekun. Mari menjadi lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Mari melakukannya bersama-sama.

Jakarta, 5.9.2014

Andika Priyandana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s