Strategi Komunikasi FIFA World Cup 2014 di Brasil

Sustainability Strategy – Strategi Berkelanjutan adalah konsep yang dikomunikasikan FIFA demi menjaga superioritas FIFA World Cup secara berkelanjutan.

World Cup Fans - sga-inc.net

World Cup Fans – sga-inc.net

Piala Dunia FIFA sudah dikenali sebagai pesta olahraga tunggal – sepak bola dengan kepopuleran melebihi Olimpiade. Karenanya bukan hal mengejutkan jika pemberitaan olah raga tahun 2014 sangat didominasi oleh Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil. FIFA sangat menyadari kekuatan serta otoritas yang dimilikinya sekaligus ingin menjaga hegemoni tersebut selama mungkin. Maka keluarlah Strategi Berkelanjutan demi memenuhi tujuan tersebut.

Visi dari Strategi Berkelanjutan Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil adalah:

(1) pemahaman bersama mengenai pentingnya makna “berkelanjutan” oleh para pengelola acara dan rekan kerja,

(2) pengambilan langkah konkrit untuk membuat acara Piala Dunia FIFA semakin berkelanjutan,

(3) efek berantai “Strategi Berkelanjutan” terhadap kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat diimplementasikan di Brasil dan dunia,

(4) serta yang terakhir adalah hasil akhir yang menjadi acuan pelaksanaan kegiatan FIFA lainnya secara berkelanjutan.

Demi mencapai visi tersebut, tentu saja FIFA dibantu oleh para rekan kerja seperti Adidas, Visa, McDonald’s dan Coca Cola. Merek-merek tersebut tentu tidak mau investasi senilai UK£ 5.5 milyar (setara Rp 105.000.000.000.000,00) demi pendapatan komersial selama empat tahun terbuang sia-sia. Jadi, kesempatan apa saja yang terbuka bagi para rekan kerja FIFA dalam Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil?

Fakta yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah, Piala Dunia FIFA benar-benar memberikan ruang sangat luas bagi para rekan kerja FIFA untuk mengencangkan otot marketingnya sebaik mungkin. Agar lebih jelas lagi, merek-merek ini diberikan akses berkomunikasi kepada lebih dari setengah dari jumlah total penduduk Planet Bumi. Para fans sepak bola tersebut selama turnamen akan duduk melihat pertandingan dan semua hal yang berkaitan melalui televisi, media internet, media cetak, radio hingga kasak-kusuk di antara mereka sendiri.

Di sini, semua media jelas terpakai, ratusan bangsa di berbagai negara di dunia saling terhubung dan tentunya, semuanya membicarakan Piala Dunia FIFA. Acara ini benar-benar acara monumental untuk menunjukkan kekuatan menarik sekaligus di saat yang sama, pertarungan demi merebut perhatian para pecinta sepak bola.

Tentu saja kesempatan-kesempatan tersebut tetap harus diambil dengan memenuhi strategi keberlanjutan Piala Dunia FIFA 2014, sekaligus keberlanjutan merek para rekan utama FIFA. Arahan-arahan yang sudah diberikan FIFA sehubungan dengan strategi berkelanjutan antara lain peningkatan pertumbuhan ekonomi Brasil hingga hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup, yaitu perlindungan lingkungan dan jaminan pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Brasil, Piala Dunia FIFA 2014 diharapkan memberikan $3.03 milyar terhadap ekonomi Brasil. Selama acara, diestimasikan 3.7 juta orang akan jalan-jalan mengelilingi Brasil hanya selama Piala Dunia 2014 berlangsung. Dipercaya juga bahwa rata-rata turis asing akan menghadiri empat pertandingan Piala Dunia 2014 dan menghabiskan uang sebesar $2.488 selama tinggal di Brasil. Minimal, itulah statistik harapan yang sudah disampaikan Kementerian Pariwisata Brasil. Sebagai tambahan, angka-angka tersebut belum termasuk dampak tidak langsung dari transaksi-transaksi keuangan yang dilakukan para turis Piala Dunia 2014.

Sedangkan dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, acara Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil dikenal dan dikomunikasikan sebagai “Green Event”. Bahkan, acara ini digadang-gadang sebagai Piala Dunia FIFA yang pertama kalinya menerapkan strategi berkelanjutan secara komprehensif. Implementasi dari Green Event ini dapat terlihat dari desain logo Piala Dunia FIFA 2014, stadion berwawasan lingkungan, manajemen sampah, dukungan komunitas, pengurangan jejak karbon, penggunaan energi terbarukan, hingga peningkatan kapasitas dan kapabilitas pengelolaan lingkungan.

Menurut Federico Addiechi (FIFA’s Head of Corporate Social Responsibility), tujuan utama dari kegiatan berwawasan lingkungan ini adalah penggunaan sumber daya yang tersedia secara bijak, serta pencapaian keseimbangan yang ideal antara aspek ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan, Bebeto sebagai mantan pemain timnas Brasil menambahkan bahwa Piala Dunia FIFA diharapkan dapat menjadi katalis yang kuat untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif demi mewujudkan gaya hidup sehari-hari yang berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.

Pertanyaannya sekarang, sudah seberapa jauhkah FIFA, khususnya Pemerintah Brasil sebagai tuan rumah telah mewujudkan visi tersebut? Berdasarkan berita-berita yang beredar hingga kini, ada indikasi bahwa pencapaiannya masih kurang optimal. Pembangunan berbagai infrastruktur pendukung yang terburu-buru mulai dari stadion sepak bola, terminal bandara baru sampai jatuhnya korban jiwa para pekerja menjadi bukti dari pencapaian yang kurang optimal tersebut.

Namun, FIFA tetap menunjukkan dukungan dan menyatakan bahwa semua stadion tempat Piala Dunia 2014 berlangsung akan siap saat acara dimulai dan lautan fans sepak bola menduduki bangku-bangku stadion. Sayangnya dukungan dan pernyataan FIFA kurang mampu mempertahankan suara pendukung rakyat Brasil terhadap keberlangsungan Piala Dunia 2014 di negaranya. Dukungan 79% penduduk Brasil pada 2007 telah menurun hingga 48% per tahun 2014.

Secara lugas, keinginan menjadikan Piala Dunia FIFA 2014 etalase pertunjukan Pemerintah Brasil sebagai pemain global masa kini menemui hambatan kuat. Dari sisi FIFA sendiri, menunjukkan kesesuaian antara ucapan dan janji dengan kenyataan di lapangan juga menjadi tugas berat. Penerapan strategi komunikasi yang cerdas menjadi hal yang sangat krusial dalam Piala Dunia kali ini.

Sekarang, mampukah FIFA, Pemerintah Brasil dan para rekan kerjanya mewujudkan Visi dari Strategi Berkelanjutan Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil? Mari kita lihat hasilnya bersama-sama.

 

Jakarta, 20.5.2014

(Andika Priyandana)

Catatan: versi tersunting artikel ini telah dimuat di Majalah Marketing edisi Juni 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s